Satu jam saja kutelah bisa cintai kamu di hatiku … Namun bagiku melupakanmu butuh waktuku seumur hidup… Satu jam saja kutelah bisa sayangi kamu… di hatiku (Saat Terakhir ST 12)

Ini adalah sepotong bait  yang ku kutip dalam best song album terbaru group band beraliran melayu dari Bandung, ST 12. Irama yang mendayu, mengiris hati, terbawa dalam kesedihan. Aku larut oleh perasaanku sendiri. Syukurlah hati ini masih bisa tersentuh dan menitiskan airmata.

Sepotong bait inilah yang barusan ku kirimkan padamu adinda. Meski belum dikau balas, tapi tak mengapa. Aku serius dengan kata-kata ini. Karena kenyataanya aku belum bisa melupakanmu, meski dikau telah pergi dariku. Pertemuan kita memang sebentar. Tapi, dirimu begitu spesial di hati ini.

Teringat beberapa hari yang lalu aku baca tulisan tentang Layla Majnun di blog seorang teman. Terkadang, harapan dan asa kita tak terwujud. Kadang cinta yang hendak kita perjuangkan dengan setulus hati, tak mesti mendapat sambutan yang membahagiakan. Seringkali bertepuk sebelah tangan yang diterima. Tapi itu tak masalah. Kisah Layla Majnun, Romeo and Juliet ataupun kisah cinta memilukan Zainudin dan Hayati di “Tenggelamnya Kapal van Der Wijck” termasuk juga kisah mendebarkan Khairul Azzam dan Anna Althafunnisa “Ketika Cinta Bertasbih”, lebih banyak karena daya imajinatif yang luar biasa dari sang penulis. Kenyataannya penulis sendiri tak mengalami sendiri cerita yang telah digubah dengan baik hingga menjadi cerita kesejatian cinta yang terus memberikan inspirasi bagi orang, mengiris-iris hati orang yang membacanya, larut dalam alur cerita. Kisah tertulis yang telah membuat orang tersadar akan hebatnya kekuatan cinta dan tanpa sadar meneteskan airmata tanpa terasa. Tapi cubalah cari tahu, apakah kisah itu adalah kisah nyata dari sang penulis?

Terkadang orang yang memiliki daya khayal yang hebat mampu melahirkan mahakarya yang disukai banyak orang. Tapi sejatinya, kisah hidupnya sendiri bisa jadi tragis. Kadang kala, apa yang cuba ia tulis, adalah harapan demi harapan pribadi yang tak kunjung menjadi harapan. Mungkin itulah nasib para pujangga. Mampu menginspirasi banyak orang, tapi dia sendiri sepi terus mendamba cinta sejati yang begitu dipujanya.

Saat ini, banyak teman yang terkejut dengan perubahan diriku. Tak lagi sholeh dengan jenggot di wajah. Tak lagi santun dalam bicara, cendrung blak-blakan. Tak lagi taat menjalan ibadah. Rasanya dah hancur citra diri sebagai pemuda sholeh. Namun bagiku, ini tak jadi masalah.  Bukankah sejarah hidup para filsuf adalah sejarah penuh kejutan dan pengembaraan yang bergejolak. Kadang menjadi aneh dengan apa yang ia pikirkan. Mungkin filsuf ditakdirkan menjadi orang yang berbeda dari yang lain. Ditakdirkan larut dalam kesunyian. Sebagai orang yang kuliah di filsafat, agaknya trademark ini sedikit demi sedikit mempengaruhiku. Bahkan kemarin pas kuliah dengan Pak Sindung Tjahyadi, dikatakan bahwa mahasiswa memang sulit untuk kerja kelompok. Begitu sulit, karena diskursus filsafat membutuhkan otonomi berpikir masing-masing individu.

Menjadi orang yang terus memuja cinta sejati, tanpa pernah mengalami sendiri, tentu tak kuharapkan adinda. Aku akan tetap coba menunggumu. Hingga suatu saat harapanku harus kumusnahkan di kehidupan nyata dan kuabadikan di atas goresan tinta.

Masih ditemani alunan “Saat Terakhir” ST 12… Masih ada esok yang mesti dijelang jika Tuhan mengizinkan. Kalaupun tak lagi bernafas, sesungguhnya kehidupan tiada berakhir. Jiwa ini abadi. Cuma dia harus melewati berbagai dimensi waktu dan ruang. Jiwa yang telah kucuba persembahkan untukmu, jika tiada kau terima, biarlah ia kembali kepada pemiliknya sejati dengan goresan-goresan kasih yang telah engkau lukiskan Adinda. Karena kuyakin, lukisanmu di jiwaku, bukanlah nista yang membuatku harus malu di saat kembali padaNya.

Malam, semakin masyuk dengan kesunyiannya. Bertebaran bintang di seantero langit biru. Tentu, aku tak bisa rasakan apa yang engkau rasakan saat ini. Tapi, lewat tulisan ini, aku telah terbangkan dirimu ke langit tak terbatas. Dirimu mungkin bisa dimiliki oleh orang lain di dunia ini. Tapi ku yakin, dirimu yang berkedip di langit hatiku akau terus bersinar. Karena cinta ini adalah anugerah yang lahir bukan dari diriku sendiri. Tapi adalah pemberian Sosok di langit sana. Aku tak kan menyesal mencintaimu adinda…

Ketika engkau asyik masyuk dengannya, di malam ini. Hanya sapaan “selamat malam” yang mampu kuucapkan… Moga mimpimu indah duhai Adinda…