Setelah jeda  2 hari, sejak postinganku di hari Sabtu yang lalu, ingin ku berbagi atas rekaman momen-momen penting yang melelahkan pikiran hingga di pagi ini, otakku benar-benar blank dan mampu berpikir sehat lagi.

Hari Ahad, seperti biasa kumulai dengan bangun pagi. He2.. (Ya, tiap hari mesti bangun kan?). Karena harus jalankan kewajiban bersih-bersih mingguan di asrama, dan menolong teman mencarikan ticket online, baru jam kurang dikit aku nyampai di Masjid Kampus. Biasalah, meski preman-preman gini harus ngajilah, paling tidak satu kali seminggu. Lagian aku ngefans banget sama Ustadz Ridwan Hamidi (ha2..ha2.. bahasa apalagi ni??). Coz datang terlambat, cuma beberapa hal yang dapat kurekam di catatan. Jadi Ahad pagi kemarin tu, Ustadz Ridwan nyampaiin tentang ghibah yang diperbolehkan. Diantaranya, untuk menasehati kaum muslimin. Adapun perkara-perkara yang termaktub dalam bagian ini adalah:

1. Dalam rijalul hadist

Hal ini sangat penting dalam rangka menjaga syariat Islam yang disampaikan dengan konsep rawi atau periwayatan. Sehingga perlu seleksi ketat tentang intergritas sang perawi, baik itu hafalan, dan tentunya kebiasaan bohong atau tidak. Nah untuk menguji masalah ini ada ilmu khusus, namanya Ilmu Jahl wa ta’dil.

Prof Akram Dyar Al Mukarri mengatakan definisi ilmu jahl wa ta’dil adalah Ilmu yang menjelaskan tingkatan-tingkatan rawi yang meriwayatkan hadist terkait dengan status mereka, apakah tsiqoh (terpercaya) atau tidak, dengan istilah-istilah pada ilmu tersebut yang dikenal 0leh ulama hadist dan kalimat-kalimat yang digunakan dalam ilmu ini harus disajikan dengan sangat teliti.

2. Ketika diminta/diperlukan dalam hal yang sangat penting, contohnya: saat melakukan ta’aruf (perkenalan) bagi orang yang akan menikah baik dari calon istri maupun calon suami, sehingga didapatkan gambaran yang utuh (baik/buruk) yang akan menjadi pertimbangan untuk kebaikan mereka berdua ketika berumah tangga nanti.

3. Melihat seseorang yang akan dirugikan ketika melakukan jual beli oleh karena penipuan yang yang dilakukan oleh pedagang.

Ini cuma beberapa masalah dimana kita dibolehkan ghibah. Kalau yang lain, nanti ya, dengar pengajian lagi dulu. He..he..

Cerita berlanjut…

Jalan-jalan pagi ke masjid Kampus Ahad kemarin tidak berakhir sampai di situ. Karena ada acara Mer-C yang membahas tentang kejadian mutakhir di Palestina dengan menghadirkan pembicara Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dr. Joserizal Jurnalis Sp OT dan Dr. Siddiq Jatmika, dengan moderator Okrisal Eka Putra, Lc., M.Ag. Tahu g kalau dr. Joserizal ni orang Minang dan Ustadz Okrisal juga orang Minang. Jadi memang orang Minang tu keren-keren.. He…he.. (sorry agak sedikit narsis).

Yang menarik dari pemaparan dr. Joserizal, sebenarnya Israel cuma minta 3 hari untuk menaklukkan Gaza kepada AS. Tapi setelah 20 hari, Gaza City (Ibukota Gaza) tidak dapat ditembus oleh tentara-tentara Israel. Konon berdasarkan kesaksian orang-orang di sana, ketika mau masuk Gaza City, tentara-tentara Israel melihat “Invisible Soldiers”. Jadi sifat takut mati yang begitu dalam mengendap dalam jiwa-jiwa mereka, membuat keberanian mereka ciut meski dilengkapi beranekaragam senjata yang konon Israel ni termasuk 5 besar kekuatan militer terbesar di dunia.

Karena Obama mau dilantik maka deadline diketok, dan terpaksalah Israel harus angkat kaki. Dunia menyaksikan momen ini sebagai kemenangan Militer Hamas atas Israel. Terus, kalau ada yang berminat mengadopsi anak-anak Palestina karena kasihan dengan penderitaan yang mereka alami, maka Ibu-Ibu Palestina tidak akan mau melepas anak-anaknya untuk diasuh oleh orang luar. Karena anak-anak ini sudah dididik menjadi mujahid sedari kecil oleh Ibu-Ibu mereka, jadi tiada rasa takut terluka dan tentunya kematian dalam perjuangan tentu lebih mulia daripada pergi keluar dari Gaza.

Banyak orang yang bersikap sinis, kenapa sih kita harus nyumbang-nyumbang segala (kan rencananya Mer-C mau buat rumah sakit di Gaza) buat orang-orang Palestina, sementara kemiskinan di Indonesia sampai sekarang ngak keurus. Apa jawaban dr. Joserizal, kita wajib menolong saudara-saudara kita di Palestina spesially di Gaza karena mereka telah berada di garis terdepan, mendahului kita dalam perjuangan mempertahankan kemuliaan Islam, keagungan Masjid Al Aqsa yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Mereka rela menyabung nyawa demi mempertahankan izzah kaum muslimin seluruh di dunia yang karena sebab tertentu tak bisa berjuang, berjihad secara langsung melawan Yahudi.

Dengan modal pas-pasan dan serba kekurangan karena blokade bertahun-tahun mereka tak pernah patah semangat dalam perjuangan yang tak akan berakhir hingga hari kiamat datang ini. Sungguh, mereka percaya bahwa pertolongan Allah itu dekat. Dan kehancuran bangsa Yahudi akan segera terwujud jika kaummuslimin bersatu dan menjadikan jihad sebagai spirit dalam tiap helaan nafas mereka.