Satu per satu gadis yang dulu ku puja, pergi meninggalkanku. Jauh meninggalkanku dalam pengembaraan sepi ini. Terjatuh di jurang yang sulit ku daki. Teriakku tiada lagi terdengar. Kalah oleh gerimicik sungai yang mengalir deras mengempas bebatuan pegunungan.

Sering aku berpikir, kenapa aku harus menemui kesendirian demi kesendirian. Apa salahku, apa kekuranganku hingga semua menjauh… Hanya airmata yang tertitis mengobati luka ini.

Kerinduan akan kemanisan cinta, hanya dapat ku tahan. Memendam rasa yang tak dapat terluahkan.

Duhai gadis pujaan yang pernah mengisi hati ini, maukah engkau tunjukkan pada diri ini, dimana letak kurang dan aibku, hingga aku tak pantas engkau cintai. Jika memang diri ini kotor lagi berdebu, ku mohon tunjukkanlah jalan dimana telaga agar aku bisa membersihkan semua noda di tubuh ini.

Dalam alunan syair Kak Siti yang selalu temani sepi-sepiku, aku ingin berdebat denganmu, Cinta. Kenapa wajah ini menjadi penghalang untukku mendekati gadisku, kenapa kebodohanku membuat gadisku membenciku? Tolong jelaskan padaku. Biar aku bisa menemui peristirahatan terakhir dengan tenang, tanpa harus menyampaikan perbantahan.

Jika telah tertulis tiada bagian untukku atas dirimu, Cinta. Jangan kau bawa aku terseret dalam ombakmu ke tengah samudera. Cukuplah, aku berdiam di sini. Memandangi keindahanmu, dari pinggiran pantai. Karena itu lebih bagiku…