Baru kumulai hari ini jam 9 kurang sedikit. Meninggalkan asrama, menghadiri Bedah Buku “The Story of Philosophy” karya Bryan Magee di Universitas Sanata Dharma jalan Gejayan Yogyakarta. Baru pertama kali aku masuk ke kampus yang terkenal dengan kursus bahasa inggirnya ini. Kampus yang sejuk, karena dikelilingi pohon-pohon yang asri dan bangunan-bangunan yang bersih. Di beberapa pojok dinding ku lihat patung salib yang ada Jesusnya. Maklumlah kampus ini memang dipunyai oleh Institusi Katolik. Tapi g masalah, ilmu tak mengenal sekat agama. Lagian, aku dah g elergi lagi dengan keyakinan yang ada di luar agama yang ku anut.

Sampai di lokasi Bedah Buku, langsung saja kusikat makanan kecil dan soft drink yang telah disediakan oleh panitia. Tentunya, setelah mendaftarkan diri dengan mengisi buku peserta. Acara ini diawali dengan sambutan dari perwakilan penerbit Kanisius (yang mencetak buku terjemahan The Story of Philosphy ini), dilanjutkan sepatah kata dari rektorat Universitas Sanata Dharma yang disampaikan oleh Romo Dipo. Kemudian barulah acara dibuka oleh Mas Rangga yang merupakan redaksi Penerbit Kanisius.

Acara ini memang cuba dibawa santai, tapi karena memang perbincangan filsafat, akhirnya suasana enjoy yang coba diawali oleh MC, terus oleh moderator, beralih serius ketika dua pembicara menyampaikan komentar dan catatan terkait buku “The Story of Philosophy”, Muhammad Fayyadl (mahasiswa Aqidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga kelahiran tahun 1985) dan Dr. Mulyatno (Dosen Teologi Universitas Sanata Dharma, yang meraih doktor dari Italia).

Muhammad Fayyadl memulai presentasinya dengan mengatakan ada perubahan tradisi filsafat akhir-akhir ini, dari teoritis menjadi naratif. Sejarah filsafat melalui buku “The Story of Philosphy” disajikan secara menarik lewat penuturan gaya bercerita novel, namun tetap serius. Buku ini berawal dari kehadiran filsuf di Yunani sampai perdebatan filsafat tahun 1970-an. Sayangnya, dalam buku Magee ini sangat sedikit diuraikan sumbangsih filsafat Islam yang telah menjadi jembatan bagi tradisi Barat untuk mengenal tradisi Yunani.

Saya terkagum-kagum dengan penyampaian Mas Fayyadl yang lebih muda dari saya. Ketertarikannya pada filsafat dimulai ketika masih duduk di bangku 1 Aliyah di sebuah pesantren. Dia mengalami kegelisahann spiritual tentang keberadaan Tuhan. Hampir saja gejolak ini mengantarkannya menuju atheis. Tapi, karena merenung dan berpikir panjang, pilihan menjadi atheis ini tak jadi ia tempuh. Bayangkan saja di usia masih “belia”, kelas 1 Aliyah Fayyadl sudah membaca buku “Asy Syifa” karya Ibnu Sina. Benar-benar keren. Dan keluasan pengetahuan dan kekuatan bacanya yang luar biasa, tercermin dalam pemaparan yang lugas tentang periode-periode filsafat lengkap dengan filsuf yang terdepan pada tiap-tiap masa itu.

Muhammad Fayyadl mengaku sebagai orang yang ngak “Gaul”. Jadi kegiatannya lebih banyak membaca dan berdiskusi. Salut deh buat beliau.

Dalam perjalanan pulang, aku cuba-cuba untuk berpikir, kenapa ada anak muda yang dalam umur yang belum mencapai usia 25 tahun bisa secerdas Muhammad Fayyadl (yang menurutku, intelektualnya hampir/mengalahkan dosen-dosen yang sudah doktor). Dalam pengembaraan di rimba antah-berantah, ku dapatkan jawaban bahwa semua ini dimungkinkan karena ada “kebiasaan”. Untuk konteks Fayyadl tentu kebiasaan positif yang terus ia geluti adalah membaca-berdiskusi-membaca-berdiskusi. Terus bergairah menemukan jawaban atas kegelisahan yang ada di kepalanya.

Memang untuk menumbuhkan kebiasaan ini perlu kesabaran. Apalagi untuk kebiasaan positif, energi yang diperlukan tentu tidak sedikit, karena godaan yang datang juga berat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Hannah Arendt seorang psikolog terkenal, yang membuat mati manusia adalah kemalasan.

Timbul sebuah kesadaran, bahwa yang bisa mengangkat derajat manusia memang hanya ilmu dan akhlak. Lewat dua hal inilah, prestise dunia yang lain dapat diraih. Tapi ketika kemewahan dunia lewat jabatan, harta, dan wanita tidak ditopang oleh ilmu dan akhlak, maka alamat manusia itu akan jatuh dalam kehinaan, lambat atau cepat.

So, tak ada kata terlambat. Mulai detik ini, semangat belajar dan terus belajar harus terus dikobarkan. Tak ada kata terlambat dalam belajar, karena menurut Islam belajar adalah kewajiban setiap muslim dari ayunan sampai nafas tercerabut dari badan. Jika kebiasaan positif terus kita jalani dengan baik, maka insya Allah hasil yang baikpun suatu saat akan kita tuai.