Katika bulan tarang, sadang bakilau cahayo. Badan dibuai  sayang, di ayun cinto. Cahayo bulan hilang, ditutuik awan hitam. Diri denai dibuang, indak paguno.

Great, tadi sore dirimu telah memberikan suprise yang benar-benar membuatku terkejut. Cowokmu menelponku. Ya, menanyakan sms-sms yang sering ku kirimkan padamu. Agaknya dirimu tak sanggup untuk bicara denganku. Makanya cowokmu yang menelpon. Bagiku berhadapan dengan siapun tak masalah. Dosen tersanggar di Kampuskupun telah mampu ku hadapi. Bicara sama ketua PP Muhamadiyahpun pernah. Ya, bicara sama orang-orang besar jauh melebihi cowokmu telah ku lakukan.

Jadi tiada rasa grogi ataupun takut dalam diriku, ketika cowokmu menanyakan arti semua sms-smsku itu. Ku bilang aja aku kangen sama kamu. Kan aku g bohong. Sudah 6 tahun kita tidak bertemu sejak berpisah saat SMA dulu. Tak ada yang salah kan dengan rasa kangenku ini. Kalaupun isi sms itu terlalu romantis, ya pantas saja. Karena aku mengetiknya pas mendengarkan lagu-lagu romantic juga.

Barusan telah kuhapus nomor telponmu di HPku. Karena ku kira sangat tidak baik bagi jiwaku untuk terus menyimpan nomorku. Ketika aku teringat akan dirimu, saat itulah aku dilanda rindu yang teramat hebat. Dan semua terluahkan dengan mengirimkan kata-kata puitis.

Sebait kata yang kutulis di awal postingan ini adalah potongan lagu Minang dari Susi yang saat ini kudengarkan. Ada rasa tersendiri ketika mendengarkan musik kampung halaman sendiri. Anganku kembali dibawa pada saat indah kala aku masih di Kota Solok, Pariaman, dan Padang. Ketika melalui detik demi detik masa remaja. Sampai kenangan saat SMP dulu. Ketika kecelakaan mobilku dengan Bus Padang-Jakarta. Kecelakaan yang membuat Bapakku harus berjalan terpincang-pincang sampai sekarang, karena kaki beliau mengalami hantaman yang sangat keras. Dan adikku Husnul yang sekarang Mondok Di Thawalib Padang Panjang, mengalami pendarahan di kepala. Hingga kadang-kadang perilakunya tak mampu ditebak karena otak memar setelah terlempar saat kecelakaan. Dan tahukah kamu Great, kecelakaan itu terjadi dekat sekali dengan rumahmu di Sumani. Betapa Sumani telah meninggalkan trauma bagiku. Tapi kehadiranmu telah mengubah mindset dan menghapus kenangan suramku terhadap daerah di pinggir Danau Singkarak itu. Dirimu benar-benar telah merubah hidupku. Menjadi seorang yang pendiam dan perasa. Menjadi seseorang yang tersadarkan akan kelemahan dirinya. Hingga senyummu telah membangkitkan semangatku untuk terus berubah-berubah menjadi lebih baik lagi.

Hari ini, hatiku kembali perih Great, setelah telpon tak terduga dari cowokmu. Perih yang mengingatkanku kejadian 6 tahun lalu. Ketika aku harus menahan tangis di tepi Pantai Padang, saat masih Bimbel SPMB dulu. Perih yang membuatku kembali bersemangat untuk melakukan hal yang lebih baik. Pembuktian kedua, bahwa aku bukanlah orang bodoh, pria brengsek, pemuda yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan. Setelah pembuktian aku bisa lulus UGM yang menjadi pembuktian pertamaku. Dan hari ini, dirimu telah mengalirkan gelombang kedua untuk aku menyalakan api kehidupanku. Terima kasih Great.

Karena dalam hidupku yang memberikan semangat bukanlah pujian, sanjungan dan kata-kata manis. Tapi kepahitan, kepedihan dan kata-kata yang menyakitkanlah yang membuatku semakin kuat. Memang terasa aneh. Tapi begitulah aku. Dan momen yang dirimu torehkan begitu tepat. Saat aku menjalani ujian terakhir menuju kelulusanku di UGM. Great, apapun yang terjadi, dirimu tetap akan spesial dalam hidupku. Entah siapa yang memilikimu aku tak akan mempermasalahkannya. Karena cintaku tak sepadan bagimu. Dirimu lebih berhak mendapatkan cinta lebih. Bukan dari pecundang seperti diriku. Semoga hari-harimu bahagia Great…