Impianlah yang membuat orang berubah. Memiliki semangat yang berlipat-lipat. Sampai-sampai menembus langit di angkasa. Melampaui samudera nan terhampar luas.

Hujan yang menguyur Jogja dari pagi hingga siang tadi membuatku malas untuk keluar asrama. Kuhabiskan waktu di depan komputer. Selain buka web sana-sini hingga jadi juga aku bikin facebook, diselingi chating pengobat kejenuhan. Sejak jam tujuh pagi, baru jam 2-an siang aku berhenti karena mata sudah g kuat menghadapi monitor.

Akhirnya aku terlelap, seraya berharap mimpi datang menghampiri tidurku. Namun, tidurku terlalu nyenyak. Tiada mimpi dan tiada kegelisahan. Baru jam 4 sore aku bangun. Rasa pegal di bahu dan mata masih terasa. Segera ku kamar mandi, ambil wudhu, kemudian sholat Ashar sendirian di kamar. Pikiranku masih belum fresh juga. Kuambil kunci motor, cari angin keluar sebentar sebelum magrib datang. Ke kampus, lihat-lihat pengumuman. Ke Masjid Pogung Raya, mengenang saat kos dulu. Dan terakhir melewati jembatan baru di dekat teknik UGM untuk seterusnya pulang ke asrama lewat jalan Monjali.

Jalan-jalan sebentar sore tadi telah menyegarkan pikiranku. Mandi jadi enak, sholat jadi nikmat dan makan malampun jadi sedap. Saat makan malam sehabis magrib tadilah kata-kata di awal postingan ini muncul. Sebenarnya ingin ku kirim kata-kata ini dalam bentuk sms kepada beberapa teman spesial. Tapi berhubung pulsa di HP dah habis, jadinya ku rekam saja di blog.

Aku kembali teringat bagaimana impianku dulu keluar dari kampung halaman menjelajah ke negeri lain, kesampaian juga. Lewat SPMB, aku bisa ke Jogja. Namun, ada satu impianku yang belum terwujud, “Menemukan cinta sejati”. Sampai hari ini aku masih gamang dengan hal satu ini. Saking gelisahnya, kubuat logo IJO LUMUT (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut), yang kutiru dari sebuah stiker yang didapatkan anak-anak asrama di pasar Klitikan. Aku tak tahu, mengapa dalam masalah satu ini, aku seolah tak berdaya.

Saat kembali pulang makan malam dari rumah makan Padang yang ada di Jalan Magelang, pandanganku tercurah pada beberapa warung makan lesehan yang ada di pinggir jalan. Ada yang ramai, ada pula yang sepi. Di sebuah titik, aku melihat seorang gadis kecil yang menemani ibunya berjual pecel lele. Warung itu masih kelihatan sepi. Agak gelap, karena hanya bercahayakan lilin. Pikiranku melayang pada masa laluku beberapa tahun yang lalu.

Dulu saat masih SD sampai SMP, ibuku berjualan kue-kue kecil yang dititipkan di beberapa warung sekolah. Kadang jualan es juga. Tiap pagi aku harus mengantar dagangan ibu. Kalau sore udah siap-siap kerja nyiapkan dagangan untuk besok pagi. Kadang aku dimarahi ibu karena lebih suka main bola bersama teman-teman daripada bantu ibu di dapur. Malahan sering juga dimarahi karena bangun terlambat, sementara kue-kue ibu belum dititipkan di warung. Sedihnya, ketika sudah capek-capek kerja, kue-kue yang dititipkan tak habis atau hanya beberapa saja yang terjual. Berarti rugi sudah, karena kue yang dibuat ibu cuma tahan sehari. Kalau sudah gitu, aku kasihan sama ibu yang udah lelah bekerja seharian. Tidak saja bikin kue, tapi harus ngajar juga di Sekolah Dasar.

Sampai saat ini, aku g terlalu suka dengan yang namanya dagang. Meski di sini banyak tawaran dan seminar-seminar motivasi untuk berwirausaha, tetap saja tak menarik perhatianku. Mungkin aku trauma dengan yang namanya dagang. Jadi tak ada minatku di bidang satu ini.

Malam ini, kala aku masih sendiri melewati malam minggu yang panjang. Kusempatkan juga menonton TV. Ada film India lagi. Bintangnya masih Hritik Roshan tapi yang ceweknya aku tak tahu. Kayaknya bintang baru. Krrish (Koi Mil Ga Ya 2) judulnya. Tapi aku g terlalu tertarik karena cerita film tu terlalu dibuat-buat. Lagian yang main bukan bintang favoritku, Preity Zinta dan Amisha Patel. Tambah lagi nafsu untuk ngenet lebih besar daripada nonton film. He..He..

Baru saat SMA, aku tak lagi membantu ibu jualan. Karena beliau pindah mengajar ke kampung halaman di Pariaman. Tinggallah aku sama Bapak dan adik keduaku di Solok. Bapak tidak ikutan pindah karena sedang menyelamatkan karir di Solok pasca dihapuskannya Departemen Penerangan oleh pemerintah. Sementara aku dan adik yang no 2 sudah kerasan sekolah di Solok. Sementara 3 adikku yang kecil bersama Ibu di Pariaman. Baru setelah aku lulus SMA dan berangkat ke Jogja, Ibu kembali pindah tugas di Solok, bareng lagi sama Bapak.

Barusan seorang adik di IMM UGM meng-sms-ku. Ada undangan menghadiri pembukaan Latihan Instruktur Paripurna di kampus UAD hari senin besok. Aku masih ragu ikut acara ini. Masalahnya, aku merasa g punya teman lagi di IMM. Lagian statusku sebagai instruktur sudah runyam karena tak lagi aktif dalam rapat dan pelatihan kader. Aku tak kenapa, jenjang karirku organisasiku hanya berada di level-level bawah saja. Mungkin aku g bakat kali ya..:) Dulu ada sih kesempatan jadi Ketua Cabang, tapi aku ragu. Ya, dua kali aktif di organisasi mahasiswa (HMI MPO dan IMM) semua kandas di tengah jalan.

Saat ini mungkin kuliah lebih penting bagiku. Yang lainnya, kalau ada waktu dan mood saja kulakukan. Karena masa studiku sudah diambang garis merah. Aku masih was-was dengan nilai semester ini. Karena kalau ada nilai C, alamat IPK-ku g naik-naik amat. Nilai yang udah keluar baru 5, satu B, satu B/A dan 3 lainnya A. Masih ada 5 mata kuliah lagi yang belum keluar. Mudah2an minggu depan sudah keluar semua.

Ceritaku kemana-mana ya??:) Maklumlah, ni cuma menuliskan apa yang teringat aja. Asrama lagi sepi. Beberapa teman lagi silaturahmi ke asrama putri di Bintaran. Beberapa yang lain, pergi ke Unggaran buat refreshing. Ya lain kayaknya sibuk di kamar sendiri. He2…

Kalau nafsu sudah berkeliaran di kepala, ingin rasanya aku cepat-cepat nikah. Tapi alam bawah sadarku menyatakan aku belum mampu. Dan sampai saat ini kayaknya g ada yang pas buat dijadikan istri. He..He.. Niat untuk terus kuliahlah yang buatku bersemangat, bukannya wanita. So, kalau masih single kan bisa kemana-mana, dan g menyita pikiran untuk fokus belajar. Memang sih ada yang bilang kalau studi pas nikah malah tambah semangat. Tapi kayaknya g berlaku deh buatku. He2.. (Padahal belum nyoba..he..he..). Btw, tekadku untuk menikah setelah dapat master mesti aku pertahankan. Jangan sampai bobol. Ya g jaminan juga sih aku akan bebas dari godaan wanita. Kalau masalah ditolak sih aku dah berpengalaman.. Ha.. (Dah berapa kali ya??…Kayaknya g kehitung deh..he..he..). Tapi aku ada yang mau dan mendesakku untuk segera menikah, kayaknya ini akan jadi cobaan berat buatku. Ha2..Ha.. Ya, aku berdo’a semoga Allah melapangkan jalanku untuk mengapai cita-citaku untuk jadi seorang Filsuf. Meski ustadz-ustadzku akan mengatakan ilmu-mu adalah ilmu syetan. Kalau dipeduliin, aku jadi patah semangat deh. Jadinya, g usah didengarin aja. Lagian dah kelanjur basah dan aku memang bakat kayaknya jadi filsuf (suka menyendiri, dan mikir-mikir yang aneh2..he..he..).

Duh, daripada tambah ngawur dan g jelas, aku sudahi dulu ya postingan ini. Tunggu artikel selanjutnya. He2..Eit, dan jangan lupa klik iklan kumpulbloggerku ya..:) Makasi…