Hampir 4 jam kuhabiskan waktu di ruang televisi. Hanyut dalam film India yang paling ku sukai “Kaho Naa… Pyaar Hai” yang dibintangi aktris cantik Amisha Patel dan aktor kawakan Hrithik Roshan. Film ini dirilis tahun 2000, saat aku masih SMA. Saat aku lagi “tergila-gila” dengan “cinta sejati”. Film ini mengisahkan perjuangan seorang gadis yang harus menembus halangan sosial (kasta) untuk mendapatkan cintanya. Halangan terbesar datang sang Ayah. Kejadian tak sengaja, dimana kekasih si gadis melihat pembunuhan Komisaris Polisi oleh kolega sang Ayah. Tak mau kedoknya terbuka Ayah si gadis menyuruh untuk membunuh pemuda itu.

Shock karena kekasihnya meninggal, si gadis hanya mengurung diri saja di rumah. Sampai sang Ayah mengirimkannya ke New Zealand dengan harapan bisa menghapus kepedihan yang dia rasakan. Dua minggu di negeri dekat kutub selatan itu, sang gadis masih saja murung. Suatu waktu dia diajak oleh sepupunya untuk jalan-jalan menghirup udara segar musim dingin. Ketika berhenti di perempatan jalan, tiba-tiba saja ia bertemu dengan seorang pemuda yang mirip sekali dengan kekasihnya yang sudah meninggal di India. Lagi-lagi dia shock, kenangan lama seakan berputar-putar di kepalanya.

Singkat cerita, karena sang pemuda jatuh cinta pada pandangan pertama maka dia ikuti si gadis saat kembali ke India. Di sinilah ia menghadapi konflik, yang berujung terungkapnya misteri kematian kekasih si gadis yang dulu. Cerita ini selesai dimana si gadis menemukan cinta keduanya.

Tentu saja selain akting yang mengharu biru, iringan lagu Kaho Naa Pyaar Hai-lah yang membuat aku betah bertahan menyaksikan film ini. Lagu yang begitu merasuk dalam jiwaku. Tapi teman-teman tahu g, apa arti judul film India ini? Kaho Naa.. Pyaar Hai kalau ditranslate ke Bahasa Inggris jadinya ” Say That… You Love Me…”. Ya, benar-benar romantis.

Sebelum film ini diputar di TPI, di masjid asrama seperti biasa ada pengajian ba’da magrib yang diisi oleh Ustadz Abu Abdirrahman. Beliau konon termasuk murid ustadz Ridwan Hamidi yang senior.

Aku hanya mendengarkan kajian beliau dari kamar, karena suara sound yang mengarah ke kamarku lebih jelas daripada sound yang di dalam masjid. Dari sekian banyak uraian yang beliau sampaikan ada satu kisah yang menarik untuk kutulis di sini. Suatu hari seorang Sahabat Rasulullah merenung sendiri. Ia tercenung, kenapa saat menghadiri majelis Rasulullah, serasa sorga begitu dekat. Tapi saat ini kembali ke rumah dan bekerja, serasa sorga begitu jauh. Datanglah ia menemui Abu Bakar Ash Shiddiq menceritakan apa yang dialaminya. Abu Bakar-pun mengatakan, juga mengalami keadaan yang sama.

Aku tersadar, ternyata para Sahabat yang keimanannya tak mampu dikalahkan oleh seorangpun di zaman ini, juga mengalami fluktuasi iman. Ada masa akhirat begitu nyata, ada kala gemerlap dunia mengisi pikiran. Itu pula yang ku rasakan kala menghadiri pengajian (terutama kajian Ahad Pagi di Masjid Kampus UGM). Saat pengajian, suasana surgawi menghampiri hati. Tapi setelah keluar dari masjid, sedikit saja, sudah bertemu dengan berbagai jenis orang dengan aneka ragam laku dan pakaian yang membuyarkan iman seketika.

Agaknya inilah takdir hidup. Tak selamanya rasa nyaman itu berkekalan. Ia selalu diselingi kobaran nafsu. Pertempuran-pertempuran maut antara dua pasukan ini terus berlaku dalam hidup. Kadang iman yang menang, kadang syaitan yang berjaya.

Tuhan, inikah romantika hidup yang Engkau ciptakan? Dalam perjalanan yang berat ini, ku mohon padaMu bimbinglah aku agar tak tergelincir dalam kubangan nista dan dosa. Karena aku ingin kembali padaMu dalam kesucian…