Kala dirimu lelap dalam tidur, dikau bisa lupakan semua bersama mimpi. Namun, ketika terjaga, deretan masalah dan derita akan melanda. Tapi bangun lebih baik daripada tidur. Karena di sanalah kenyataan bisa ditemukan. Dan semua terhenti sejenak ketika kematian datang menjelang. Sampai dilahirkan kembali dalam kehidupan abadi. Semoga kita bisa bersua di sana.

Itulah sepenggal kata-kata yang kutuliskan setelah menonton film aneh di SCTV tadi malam. Film yang menceritakan kisah seorang bernama Jack Starks, yang mengalami “waham” akibat cedera di otaknya setelah pulang dari perang. Jack dianggap gila oleh pengadilan sehingga harus mendapat perawatan di rumah sakit jiwa. Ditanggani oleh Dr. Becker karena bertingkah aneh, Jack mendapatkan terapi khusus, diikat dan dimasukkan ke dalam loker mayat. Di sanalah Jack mengalami halusinasi tentang masa depan. Dia merasa dirinya tak gila. Dan lewat kolega Dr. Becker, Dr Levensson-lah yang menyadari bahwa Jack pasien yang agak lain, dia bisa menyampaikan apa yang lintasan-lintasan yang “muncul” ketika ia di loker mayat. “The Jacket”, ya itu judul film yang membuatku bergadang sampai jam 03.30 tadi.

Beberapa kalimat di atas kuambil dari perkataan Jack. Seakan dia mengajarkanku untuk bangun dari mimpi. Biarpun, sulit untuk membedakan kenyataan dengan halusinasi, tapi terbangun lebih baik daripada tertidur.

Kemarin, saat gerhana matahari, aku tak ikut sholat gerhana karena tak tahu harus sholat dimana. Seorang ustadz yang kutanya tentang masjid yang menyelenggarakan sholat gerhana, tiada membalas sms yang ku kirim. Mungkin beliau g lagi bersimpati dengan diriku. Ya, dengan jujur aku menyatakan kepada beliau bahwa aku bukan salafi lagi. Mungkin saja gara-gara itu aku sudah dianggap “murtad”, makanya tak perlu beliau mengubrisku lagi.

Ya, tak masalah bagiku. Bukankah didiamkan bukanlah sesuatu yang teramat menyakitkan bagi “pemuda sunyi”. He..He.. Kenapa harus bersedih. Aku masih punya pikiran yang bisa membuat adrenalin gembiraku terus datang. Aku masih bisa bermain dengan imajinasiku, tanpa seorangpun bisa melarang. Dan aku menikmati itu semua.

Kalau ada yang terluka olehku, aku hanya bisa minta maaf. Mungkin saat kalian hadir, pikiranku tak bisa menyenangkan kalian. Dan aku tak merasa berdosa dengan itu. Karena tak selamanya aku harus mendengarkan kalian. Karena aku juga punya hak atas diriku sendiri, untuk melakukan apa saja yang dibisikkan oleh pikiranku. Kalian tak bisa mengambilnya dariku, meski kalian mengucilkanku dalam kesendirian. Bahkan “suara” ini semakin kentara seiring kesunyian semakin  dalam di keseharianku.

Selamat tinggal dunia…