Pagi ini semakin dingin di bawah hujan nan turun teramat deras. Padahal baru jam 7 pagi. Namun, rasa kantuk yang sering menyerangku saat-saat seperti ini tiada lagi datang. Mataku masih saja kuat membaca berita dan artikel di depan komputer yang sampai akhir bulan ini masih connect dengan internet meskipun tagihan belum dibayar.

Biasanya kalau sudah hujan-hujan begini pikiranku melayang jauh. Menembus ruang waktu, mengantarkanku pada masa lalu. Di akhir perjalanan memori ini, aku terdampar dalam penyesalan demi penyesalan. Kadang juga menangis mengingat kenangan demi kenangan di masa silam.

Tapi di pagi ini tidak. Rasa itu tak kembali menyapaku. Yang kupikirkan malahan tentang masa depan nan semakin menarik untuk ku ketahui jawabannya. Kutekan lamunan dengan membaca Koki di web Kompas. Ya, paling tidak aku bisa merasakan betapa hidup  tidak selalu indah lewat curhat-curhat yang disampaikan oleh penulis-penulis non profit di komunitas yang konon punya pembaca di 160 negara itu.

Aku tak ingin lagi menangisi, penolakan dari wanita yang kusukai. Karena percuma saja. Malahan aku berusaha mencari jawaban, kenapa dia memilih yang lain? Apakah laki-laki yang menambat hatinya itu lebih baik dariku? Jika iya, tentu aku harus memperbaiki diri. Bukan untuk kembali mendapatkan dia yang pernah hilang, tapi untuk mendapatkan yang lebih baik dari dia. Bukankah wanita di dunia ini tidak hanya “dia” saja.

Wah, hujan di luar sana semakin deras saja. Aku hanya bisa memandangi buliran air yang turun dari langit mendung dari jendela kamar. Ku nikmati irama khas benturannya dengan bumi. Terasa alami. Sealami bisikan nurani yang selalu membuat hati merasa tenang.

Sungguh indah hujan di pagi ini. Di tengah liburan semester, ketika masih di Jogja. Biarlah hujan membasuh kenangan-kenangan lama yang memang indah untuk diingat…

Bersama tarian hujan, aku ingin hanyut bersamamu, duhai kesunyian…