Reportase Dialog Bersama Dubes Palestina Untuk Indonesia


Mendekati jam 11.30 kukayuh sepeda mini yang kembali kupakai karena motor grandku lagi nginap di bengkel AHASS. Selain mencari suasana yang lebih khusyuk dengan sholat di Masjid Kampus UGM, kemarin malam sms masuk ke HP-ku menginformasikan bahwa ada dialog terbuka dengan DUBES Palestina untuk Indonesia, menjadi alasan utamaku untuk sholat Jum’at di Maskam.

Sholat di Masjid Kampus memang enak. Suara Adzan yang merasuk ke hati, ceramah dari Ustadz-Ustadz pilihan, suara Imam (Pak Muhammad Nur, M.Ag.) yang begitu merdu membuat Jum’at lebih berarti. Ditambah lagi info-info baru yang tersajikan di papan pengumuman dan pamflet-pamflet yang di sebar di pinggir-pinggir masjid.

Kalau dulu sih, hari Jum’at adalah hari yang kurang kusukai. Kadang mau sholat Jum’atpun ogah-ogahan. Apalagi dengarin ceramah dari Khatib yang bikin ngantuk. Duh, benar-benar g terasa nikmatnya. Tapi Alhamdulillah, setelah ku tahu betapa pentingnya hari Jum’at bagi syiar Islam  perasaan negatif ini hilang perlahan-lahan.

Terkait dengan Dialog Terbuka bersama DR. Fariz Mehdawi (Dubes Palestina Untuk Indonesia), ada sedikit catatan yang akan saya tuliskan di sini. Ya, paling tidak bisa mensharing informasi terutama bagi teman-teman yang g datang pas acara tadi. Kata DR. Fariz apa yang terjadi saat ini Palestina merupakan bagian yang tak terpisahkan dari peristiwa sejarah tahun 1948 dimana Inggris memberikan tanah kepada orang-orang Yahudi di Palestina. Semenjak itu upaya melebarkan wilayah terus dilakukan Yahudi. Pencaplokan-pencaplokan atas tanah di sekitarnya telah menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Dan tiada akan berakhir kecuali mereka bisa menguasai tanah Palestina 100%.

Gencatan senjata yang terjadi pada 20 Januari 2009 menyambut pelantikan Barrack Hussein Obama hanyalah situasi sementara. Tiada yang bisa memastikan berapa lama Israel akan menghentikan serangan yang telah menghancurkan berbagai fasilitas di Gaza: 3000 Masjid, 2 Universitas, rumah penduduk, sekolah, rumah sakit dan yang lainnya. Belum lagi korban yang diakibatkan senjata-senjata tentara Israel yang ditenggarai mengandung fosfor dan zat-zat kimia lainnya yang sebenarnya tidak boleh digunakan dalam pertempuran.

Yang terjadi di Gaza 3 minggu terakhir, bukanlah “Peperangan”. Karena Hamas dan pejuang-pejuang di Palestina tidak melakukan perlawanan yang berarti. Mereka sengaja menahan diri untuk membalas serangan demi serangan Israel. Maka tak salah jika yang menjadi korban adalah warga sipil dan anak-anak. Hal ini berbeda sekali dengan kejadian di Irak dan Afganistan, dimana yang bertempur adalah tentara dengan tentara. Sementara yang terjadi di Gaza dari akhir tahun 2008 sampai pertengahan bulan ini adalah “Invasi” Israel terhadap negara berdaulat Palestina.

Memang ada beberapa persoalan internal Palestina sendiri. Yakni masih belum bersatunya faksi-faksi yang ada (saat ini faksi-faksi yang ada di Palestina ada 13 termasuk Hamas dan Fatah yang telah banyak diberitakan media). Namun, ini adalah bagian dari demokrasi yang coba dibangun di Palestina. Perbedaan-perbedaan yang terjadi hanyalah berkisar pada penyikapan terhadap masalah-masalah yang ada.

Yang menyedihkan menurut Dr. Fariz adalah tidak bersatunya negara-negara Muslim khususnya negara-negara Arab terkait Invasi Israel di Palestina. Memang telah diadakan konfrensi tingkat tinggi di Saudi, namun tiada keputusan yang tegas dan jelas terkait kondisi di Gaza. Bahkan ada ulama yang menyerukan untuk pasif dalam masalah ini.

Dr. Fariz merasa terharu atas empati yang ditunjukkan oleh masyarakat dan pemerintah RI yang satu suara terkait tradegi di Gaza. Ini berbeda dengan yang terjadi di negara-negara Arab, dimana rakyat dan pemerintah berbeda sikap dalam persoalan Gaza. Beliau sangat mengharapkan dukungan dan bantuan yang telah diberikan selama ini tidak terhenti, karena dalam membangun Palestina setelah porak-poranda membutuhkan uluran tangan kaummuslimin dari seluruh dunia dan butuh waktu yang panjang untuk pemulihan. Serangan 3 minggu Israel kemarin saja telah menelan kerugian setidaknya 2 milliar US Dollar.

Bumi Palestina memang ditakdirkan untuk bergejolak. Dan mungkin semua akan berakhir ketika perang akhir zaman telah mampu dimenangkan oleh pasukan kaumuslimin di bawah pimpinan Imam Mahdi dan Nabi Isa ‘Alaihi salam. Oleh karena itu, masalah Palestina adalah masalah yang tak akan selesai dan wajib menjadi perhatian seluruh umat Islam.

Kita harus mengakui bahwa ketidakberdayaan kita menghadapi pembunuhan atas saudara-saudara seiman di Palestina merupakan bukti lemahnya umat Islam. Padahal kalau kita melihat dari statistik dalam Atlas of The World’s Religions, disebutkan jumlah pemeluk agama Yahudi 15.050.000. Pemeluk Islam adalah 1.179.326.000, dan pemeluk Kristen 1.965.993.000. (Ninian Smart, Atlas of The World’s Religions, (New York: Oxford University Press, 1999). CM Pilkington, dalam bukunya, Judaism, malah menyebut jumlah Yahudi hanya 13 juta. Mereka kini tersebar utamanya di 10 negara, yaitu USA (5.800.000), Israel (5.300.000), Bekas Uni Soviet (879.800), Perancis (650.000), Kanada (362.000), Inggris (285.000), Brazil (250.000), Argentina (240.000), Hongaria (100.000), dan Australia (97.000). (Lihat, Pilkington, Judaism, (London: Hodder Headline Ltd., 2003) . Kenapa dengan jumlah yang ratusan kali lipat kita kita hanya bisa “menonton” pembantaian atas saudara-saudara kita di Palestina. Ya memang kita masih lemah. Bukankah ada perkataan yang menyebutkan “Kemenangan kaummuslimin atas orang-orang kafir baru bisa terwujud ketika jama’ah sholat Shubuh sama banyak dengan jama’ah sholat Jum’at”. Kapan saat itu terjadi. Wallahu a’alam. Masing-masing kita punya kewajiban untuk terus memperbaiki diri demi tercapainya kejayaan Islam di muka bumi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s