Alhamdulillah rangkaian ujian akhir semester telah berakhir tadi pagi. Sebagai laga pamungkas, aku harus berhadapan dengan Pak Joko lewat ujian lisan mata kuliah Metode-Metode Filsafat. Yang bikin berat adalah saat ini aku memang benar-benar lagi g mood untuk belajar. Bahan-bahan kuliah terpaksa ku baca juga. Sulit bagiku untuk menghafal bagian-bagian tertentu apalagi yang berhubungan dengan Hegel, Husserl dan Wittgenstein.

Dengan modal seadanya dan otak yang sudah g mau bekerja sama, akupun bersiap menghadap Pak Joko untuk diuji secara lisan. Syukurlah yang disuruh jabarkan adalah Imamanuel Kant. Meski dengan terbata-bata, dan harus berhenti sejenak mengingat kembali slide yang ku baca 2 hari ini, ujian lisan ini berakhir dengan biasa-biasa saja. Nilai yang kuraih cuma A/B. Tapi cukup lumayan dengan persiapan minim yang ku lakukan.

Dan liburan semesterpun dimulai. Kalau teman-teman dari Jawa sudah pada balik kampung, aku hanya bisa habiskan waktu di Jogja. Ya, g terlalu masalah sih. Karena udah terbiasa g pulang kampung.

Semester besok adalah semester penentuan. Ya, mudah2an IP semester ini baik-baik saja. Sehingga bebanku akan semakin berkurang. Nilai yang keluar baru 2 mata kuliah. Teknik Penulisan Naskah Ilmiah dapat A dan Metode-metode Filsafat dapat A/B. Aku masih harap2 cemas memikirkan nilai mata kuliah yang lain. Kalau ada C, alamat target IPK-ku akan berantakan.

Siang ini, ketika pikiranku benar-benar kacau, tiada yang kulakukan. Hanya duduk di depan komputer ini. Karena kebiasaan duduk lama-lama di depan komputer, teman-teman asrama menjulukiku “orang yang tak bisa lepas dari kursi kebesaran” alias “hantu komputer”.

Aku benar-benar hancur. Tiada ada lagi cinta yang mesti aku perjuangkan. Semua orang yang ku cintai telah menjauh. Pergi, meninggalkanku seorang diri. Aku berkata pada diri sendiri, dirimu memang belum beruntung wahai pemuda. Nikmati saja sakitmu. Jika tiada cinta bagimu, tiadalah masalah. Yang penting kau bisa selesaikan kuliahmu dan buat bangga Ibu dan Bapakmu. Selain itu, tak usah kau ambil pusing. He2..He…

Sebuah pembujukkan yang gila memang. Tapi tak apa. Kalau bukan diri sendiri yang mengasihi diri ini, terus siapa lagi? Dan gelar “Pemuda Sunyi” memang pantas buatku. Terima kasih buatmu yang telah menghancurkan cinta dan harapanku…