Setelah beberapa minggu tak datang dalam Kajian Kamis Pagi di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jalan Cik Di Tiro Yogkarta, akhirnya pagi tadi ada waktu luang. Maklumlah, hari ini tak ada jadwal ujian, jadi g ada halangan untuk mencari ilmu.

Dalam kesempatan ini Prof. Dr. Yuhanar Ilyas, yang mengampu kajian mingguan ini menjelaskan tafsir Surat Al Baqarah ayat 253 dan 253. Ayat ini merupakan 2 ayat awal di Juz 3 Al Qur’an yang sering juga disebut dengan Juz Tilka Arrusul . Adapun bunyi ayat ini adalah

۞ تِلۡكَ ٱلرُّسُلُ فَضَّلۡنَا بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬‌ۘ مِّنۡهُم مَّن كَلَّمَ ٱللَّهُ‌ۖ وَرَفَعَ بَعۡضَهُمۡ دَرَجَـٰتٍ۬‌ۚ وَءَاتَيۡنَا عِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ٱلۡبَيِّنَـٰتِ وَأَيَّدۡنَـٰهُ بِرُوحِ ٱلۡقُدُسِ‌ۗ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَـٰتُ وَلَـٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡہُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡہُم مَّن كَفَرَ‌ۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ (٢٥٣

253. Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنفِقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَـٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ يَوۡمٌ۬ لَّا بَيۡعٌ۬ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ۬ وَلَا شَفَـٰعَةٌ۬‌ۗ وَٱلۡكَـٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ (٢٥٤

254. Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.

Masing-masing Rasul memang memiliki kelebihan sendiri-sendiri. Ada yang dikaruniai dengan wajah yang tampan, Nabi Yusuf. Ada dikaruniai suara yang merdu, Nabi Daud. Ada yang dikaruniai kemampuan bercakap-cakap dengan binantang dan jin, Nabi Sulaiman. Ada yang diberikan umur yang panjang, Nabi Nuh yang hidup 1240 tahun.

Adapun yang dimaksudkan dengan Rasul yang berkata-kata dengan Allah pada ayat 253 adalah Nabi Musa. Kejadian itu bertempat di Bukit Tursina. Nabi Musa saat itu beringinan untuk melihat Allah. Maka beliau disuruh untuk memandang salah satu sisi bukit. Serta-merta tampak cahaya dan beliau pingsan.

Memang di dunia ini tidak ada seorangpun yang bisa melihat Wajah Allah. Hatta, Nabi Muhammad sekalipun yang merupakan “Kekasih Allah” (Habibullah) belum juga pernah melihat wajah Allah. Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, apakah saat Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad melihat Allah. Maka menurut Abu Dzar, saat Mi’raj Rasulullah tidak melihat Allah karena terhalang oleh hijab berupa nur/cahaya.

Semua Nabi dan Rasul adalah cermin bagi manusia yang lewat perjalanan hidupnya menginspirasi dan menuntun manusia untuk bisa menjadi hamba Allah yang benar. Selain itu, Nabi dan Rasul akan menjadi hujjah atas apa yang kita lakukan, apakah beriman ataukah tidak kepada Allah.

Terkait dengan pertikaian antar umat beragama dan umat seagama hingga sampai terjadi pertumpahan darah merupakan sesuatu yang telah diindikasikan oleh Allah dalam Surat Al Baqarah 253. Dalam konteks Islam pertikaian sudah dimulai ketika Rasulullah wafat, saat menentukan siapakah yang berhak mengantikan Rasulullah sebagai Imam/Kepala Negara. Pada masa Umar bin Khatab situasi cukup terkendali. Namun fitnah kembali datang dengan terbunuhnya Utsman bin Affan. Semenjak itu terjadilah rangkaian-rangkaian perselisihan di antara kaum muslimin hingga melahirkan berbagai sekte seperti Syiah, Sunni, dan Khawarij.

Dalam tradisi Nasrani perselisihan juga terjadi. Pada Kristen Protestan saja saat ini muncul lebih dari 200 sekte. Belum lagi yang terjadi pada Katolik dan yang lainnya. Biasanya masing-masing gereja menandakan adanya perbedaan sekte.

Untuk kasus umat Islam perbedaan sangat mungkin diminimalisir karena ada Al Qur’an yang dijadikan sebagai rujukan utama yang disepakati oleh seluruh aliran dalam Islam. Namun pada agama Nasrani, perbedaan sulit dipecahkan karena tidak ada Kitab Suci standar yang bisa dijadikan patokana karena kitab mereka sudah mengalami perubahan.

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Allah yang membiarkan perpecahan terjadi dan perselisihan yang mengakibatkan darah tertumpah terjadi antar umat beragama dan antar umat se-agama. Tentu kita hanya bisa membahas hal ini dari segi rahasia dan hikmahnya saja, karena manusia tidak dapat menghalang-halangi ataupun memprotes kehendak Allah.

Terkait dengan ayat 254, maka ada problem yang terjadi di Indonesia saat ini, dimana potensi zakat yang konon mencapai 20 triliyun rupiah belum dioptimalkan. Saat ini, pengelolalaan zakat hanya ditangani secara organisatoris tanpa ada satu kebijakan terpusat. Oleh karena itu, menurut Ustadz Yunahar perlu segera disahkan Undang Undang Zakat, sehingga ada kekuatan hukum yang menjadikan masyarakat punya kepatuhan akan syariat ini.

Dalam sesi tanya jawab, ada satu pertanyaan yang menarik disampaikan oleh jama’ah yakni sejauh mana ketaatan kepada pemimpin dilaksanakan. Dalam Surat Al Maidah 155, dinyatakan bahwa syarat seorang pemimpin adalah mendirikan sholat, membayar zakat, dan selalu tunduk kepada aturan Allah dan Rasul. Dalam konteks ini, Ibnu Taimiyah pernah mengungkapkan “Lebih baik dipimpin oleh Imam yang Fasik daripada tidak ada pemimpin sama sekali”. Sebagian orang menyatakan bahwa perkataan ini mengindikasikan ketaatan mutlak kepada pemimpin meskipun pemimpin itu fasik. Tapi menurut Ustadz Yunahar, ungkapan Ibnu Taimiyah ini berada dalam dataran “ada/tidak ada pemimpin, bukan pada kepatuhan pada pemimpin yang fasik”.

Problematika yang dihadapi oleh Indonesia adalah terkait dengan kebijakan yang menyentuh ranah agama terletak pada tidak adanya Mufti yang menjadi acuan dalam fatwa. Sehingga tidak mengherankan ketika pemerintah mengeluarkan instruksi yang bersifat keagamaan menimbulkan perdebatan di antara banyak kalangan. Dalam hal ini Negara-Negara di Timur Tengah lebih terdepan dalam hal ini karena mereka memiliki Mufti resmi yang akan didengar oleh seluruh rakyat. Namun kelemahannya adalah ketika Mufti dijadikan sebagai alat stempel pemerintah, maka fatwa-fatwa agama akan cendrung bersifat politis.

Iklan