Mungkin hari demi hari yang bisa saya hitung atas penderitaan yang semakin menjadi-jadi yang dialami oleh Rakyat Palestina. Seraya berharap lobi-lobi internasional berhasil menekan Israel untuk menghentikan serangan. Demo demi telah dilakukan. Kotak-kotak bantuan untuk Palestina telah dibuka oleh berbagai macam instansi. Menjamur bahkan hampir sama dengan banyaknya publikasi ketika menyalurkan hewan kurban dan zakat ketika hari raya. Kalau yang jadi pimpinan, baik itu pimpinan Partai, Pemerintah ataupun Ormas  telah pula melakukan kecaman demi kecaman. Yang lebih berani adalah mengirimkan surat kepada Presiden AS ataupun mengusir Konsulat Israel yang ada di Negaranya masing-masing layaknya yang dilakukan oleh Hugo Chavez.

Satu hal yang patut kita banggakan bahwa nurani masyarakat dunia masih jernih untuk merasakan bentuk-bentuk pemerkosaan terhadap kemanusiaan. Tapi ketika semua dunia mengecam, kenapa Israel tidak bergeming untuk menghentikan serangan demi serangannya ke bumi Gaza? Kenapa diplomasi untuk gencatan senjata tiada jua berhasil?

Sebagai orang awam saya berpikiran, untuk menghentikan pihak yang merasa di atas angin tentu butuh ancaman yang menakutkan. Dalam konteks ini, saya melihat Israel merasa akan aman-aman saja dengan tindakan yang dianggapnya sebagai “pembelaan diri” itu, jika cercaan Internasional masih dianggap “biasa-biasa saja”. Entah itu karena backingan dari  AS sebagaimana yang disinyalir oleh banyak kalangan, ataupun dengan kepercayaan Yahudinya yang memang sejak dahulu merasa superior dari seluruh ras di dunia ini, “bangsa pilihan Tuhan”.

Ketika harapan semakin menipis pada PBB yang didaulat sebagai penjaga perdamaian dunia, orang berharap pada negara-negara Arab yang berdekatan dengan tempat tradegi untuk bersuara dan bertindak. Salah satu suara yang ekstrem adalah pengharapan agar bangsa-bangsa Arab melakukan serangan militer sebagai balasan atas sifat angkuh dan tak bernurani yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina. Tapi harapan ini juga hanya bertepuk sebelas tangan. Mesir yang menjadi pintu masuk menuju Gaza cendrung bersikap pasif.

Anehnya di Indonesia, perdebatan ini semakin meluas. Mulai dari bolehkah melakukan Demonstrasi untuk Palestina atau tidak? Semakin aneh lagi perselisihan kembali mengusung masing-masing bendera. Bela-belaan kiblat dalam mencari fatwa. Dan yang cukup hangat beberapa hari ini adalah terkait sikap diam Arab Saudi atas tradegi Palestina. Kenapa Saudi begitu penting dalam hal ini? Karena ada sebuah anggapan bahwa Saudi adalah Pusat Umat Islam se-Dunia. Sehingga suara Saudi sangat dinanti-nantikan oleh banyak orang Islam. Dan ternyata ada yang teramat kecewa dengan sikap Saudi lewat pernyataan “Saudi Arabia adalah negara yang takut dengan Amerika dan kurang memberikan bantuan yang konkrit kepada kaum muslimin di Palestina”.

Sebagai orang awam, yang membuat saya heran adalah kenapa perselisihan di antara berbagai macam golongan-golongan Islam di Indonesia masih saja bergema di saat kritis seperti ini, dimana persatuan umat Islam sangat dibutuhkan. Yang ada adalah salah menyalahkan, dan membela apa yang dianggapnya benar oleh masing-masing pihak. Bukankah kita hanya pihak yang sama “menonton” pembantaian di Jalur Gaza lewat media yang bisa kita akses?

Entah apa yang terjadi ini Tuhan. Logikaku masih samar-samar untuk memahaminya. Satu harapan tentunya, semoga penderitaan rakyat Palestina digantikan Allah dengan kemenangan dan kebahagiaan. Apakah bisa segera? Entahlah…