Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Alhamdulillah, setelah satu minggu tidak memposting tulisan di blog ini, akhirnya siang ini aku bisa menulis lagi. Tentu kevakumanku beberapa hari ini bukan tanpa alasan. Dari tanggal 1 Januari dinihari internet di asramaku putus. Sebabnya, ya masalah klasik. Biasalah, kami memang suka mengulur-ulur waktu membayar speedy sehingga Telkom mencabut koneksi internet. Ya, agak rumit juga, karena harus menunggu terkumpul semua uang iuran dari teman-teman yang ikut berlangganan.

Hari ini masih kelabu. Memasuki hari ke 12 invasi Israel ke Palestina. Hari senin yang lalu aku sempat sms-an dengan Ustadz Yunahar Ilyas terkait pernyataan Pak Din Syamsudin yang mengatakan “Konflik Israel dan Palestina tidak sekedar perang agama tapi lebih dari itu merupakan tradegi kemanusiaan”. Aku sempat merasa tak nyaman dengan pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu, langsung saja aku sms Ustadz Yun menyampaikan ketidaksepakatanku dengan pernyataan Pak Din itu. Aku berpendapat Perang Israel – Palestina murni perang agama. Karena landasan penyerangan Israel disandarkan pada Al Kitab, dimana orang-orang Yahudi Israel menyakini bahwa Tanah antara Sungai Nil dan Sungai Eufrat adalah tanah impian yang dijanjikan Tuhan untuk mereka. Dan saat ini ketika orang Arab Palestina masih berdiam di tanah itu, mereka tidak akan bisa tidur nyenyak. Ustadz  Yun lantas menimpali sms saya itu, “terus kenapa, ada problem?” dan beliau menjelaskan bahwa mengangkat isu Palestina sebagai masalah kemanusiaan akan memperluas kebencian masyarakat dunia terhadap Israel. Yang tentunya akan membangkitkan perlawanan masyarakat dunia terhadap Yahudi yang selama ini memang sudah bikin banyak masalah.

Akupun bisa memahami kenapa banyak anak-anak yang dibunuh oleh Israel. Mereka memang sejak dahulu mempermasalahkan demografi orang-orang Palestina yang semakin hari semakin meningkat, jauh melebihi tingkat pertumbuhan jumlah orang-orang Israel. Semakin tinggi tingkat kelahiran di Palestina semakin musykil bagi mereka untuk mengusir jutaan manusia. Apalagi serangan-serangan Israel yang membabi buta tidak meruntuhkan semangat orang-orang Palestina untuk berdiam dalam keadaan mencekam dan serba kekurangan. Karena mengungsi meninggalkan Jalur Gaza itulah dikehendaki oleh Israel atas serangan-serangan mereka pada rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Dukungan mengalir terus kepada Hamas yang tetap gencar melakukan perlawanan terhadap Israel. Terutama dari Ulama kaliber dunia Syaikh Yusuf Qardhawi. Menurut Qardhawi, perang ataupun tidak sama aja bagi rakyat Gaza. Ini hanya masalah mati dengan cepat dalam pertempuran dan syahid, atau terus dalam kekurangan untuk mati secara perlahan.  Ya, gencatat senjata selama 6 bulan antara Hamas dan Israel beberapa waktu yang lalu tidak memberikan dampak positif bagi rakyat Gaza yang terus diisolasi dalam keadaan kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan.

Ada hal menarik yang disampaikan oleh salah satu petinggi Hamas bahwa demonstrasi yang dilakukan oleh kaummuslimin di seluruh dunia memberikan spirit yang luar biasa bagi pejuang-pejuang Palestina di Gaza.

Siang ini, setelah pulang ujian hari pertama, hatiku bisa sedikit terobati dengan menuliskan apa yang terasa menyesak di dada ini. Karena aku sulit untuk menceritakan kegelisahanku pada teman-teman dekat. 6 hari ini aku terus gelisah, tak tahu entah kenapa. Aku baru tidur larut malam setelah membuat pikiranku lelah mendengarkan lagu-lagu Kak Siti Nurhaliza.

Sekarang aku semakin merasa terasing. Terasing dalam geliat dan dinamika dunia. Aku hanya hidup dengan pikiranku sendiri yang membuatku lebih banyak mengurung diri di kamar dengan bacaan-bacaan yang sulit ditangkap maksudnya. Di tengah dentuman bom dan misil, desingan peluru yang masih berseliweran memangsa tubuh-tubuh tak berdosa di Pa;estina, aku hanya bisa menyampaikan do’a dan tangisku. Karena tiada yang mampu kulakukan selain bersimpati. Bukankah mati dalam syahid lebih mulia duhai saudaraku daripada dalam keriangan dan gelak tawa tanpa makna. Semoga perjuanganmu duhai saudaraku tiada berkehabisan sampai engkau jadikan jalanan di Gaza sebagai kuburan bagi tentara-tentara kejam lagi bengis Yahudi Israel. Semangat berjuang saudaraku. Karena kita masih percaya Allah yang tak akan membiarkan penindasan dan kekejaman terus merajalela. Dan kemenangan akan selalu berada di tangan kaummuslimin. Amien…