Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Ketika serangan demi serangan terus dilancarkan oleh Israel ke bumi Palestina, seluruh dunia bergejolak mengutuk aksi tak berprikemanusiaan itu. Headlines surat kabar terus menampilkan liputan kekejaman Israel yang hari ini telah memasuki hari keempat. Untuk mengikuti perkembangan aktual situasi terakhir di Palestina, saya lebih suka membuka situs Al Jazeera dan Hidayatullah, seraya sesekali mengecek 2 koran nasional Kompas dan Republika.

Dalam pandangan saya, kualitas sebuah Koran bisa dilihat dari Headlines dan Opini yang diangkat. Ketika membandingkan 2 rubrik ini pada Koran Republika dan Kompas, saya menemukan hal yang menarik. Dua hari ini, Headlines 2 media Nasional ini sama-sama mengangkat headlines tentang Palestina. Selasa 30 Desember 2008, Republika menampilkan judul “Israel Semakin Brutal” dan Kompas mengambil judul “Israel Dikecam Keras”. Edisi hari ini Rabu 31 Desember 2008, Republika Kembali melaporkan kekejaman Israel lewat Berita Utama “Masjid Jadi Target” dan Kompas menampilkan Berita Utama “Israel Masih Gempur Gaza”.

Pada halaman Opini, Republika edisi Selasa 30 Desember 2008 memuat 2 artikel, “Prospek Harga BBM 2009” dan “Investasi Timur Tengah”. Sedangkan pada hari yang sama, Kompas di bagian Opini menampilkan tiga artikel,  “Legislasi yang Mati Rasa”, “Merajalelanya Keserakahan”, dan “Siapa Peduli Palestina?” oleh Zuhairi Misrawi Ketua Moderate Muslim Society.

Saya kecewa kenapa Republika yang konon katanya mengusung suara Islam tidak menampilkan analisis terkait konflik Gaza. Padahal menurut pandangan saya penting untuk pembaca memahami akar permasalahan krisis yang tak kunjung tuntas ini lewat suguhan Opini yang berkualitas. Perang Israel – Palestina telah puluhan tahun berjalan dalam fase sesekali mencuat kemudian hilang, timbul lagi, redup lagi, dan di awal tahun baru Hijriah ini kembali bergelora. Saya mencoba untuk berprasangka baik, mungkin Republika belum mendapat kiriman artikel tentang Palestina dan berharap di edisi esok (hari ini Rabu 31 Desember 2008) saya bisa membaca ulasan tajam di Opini Repulika.

Ternyata, lagi-lagi saya kecewa. Republika belum juga memuat tulisan tentang Palestina di halaman Opininya. Meskipun saya juga lumayan senang karena artikel Oce Madril (teman satu angkatan dulu di Filsafat UGM, namun dia pindah ke jurusan Hukum satu tahun kemudian), tentang “Menunggu UU Pengadilan Tipikor” dimuat oleh Republika. Tapi tak menyurutkan kekesalan saya pada Republika. Apalagi Kompas (yang notabene dianggap aktivis Islam sebagai “Koran Kristen”) kembali menampilkan artikel tentang Palestina, “Menyikapi Konflik Hamas-Israel” (Kenapa tidak dengan judul “Menyikapi Konflik Hamas – Israel?) oleh Mohamad Guntur Romli yang dikenal sebagai koordinator aksi AKKBB dalam insiden Monas beberapa waktu yang lalu.

Saya tak terlalu paham dengan ideologi Media. Oleh karena itu, saya sangat butuh jawaban kenapa hal yang saya ungkapkan di atas tadi dapat terjadi. Mungkin teman-teman dan pengunjung yang saya hormati bisa menjelaskan masalah  ini kepada saya?