Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Kemarin saat lelah main futsal di depan aula asrama yang lumayan, aku duduk sejenak di depan tv. Seraya mendinginkan tubuh sebelum mandi dan sholat Magrib. Tiada acara yang menarik perhatianku, kecuali hanya selintas saja ku lihat.

Tiba-tiba chanel TV One mengumandangkan adzan. Awalnya biasa-biasa saja, karena biasalah stasiun TV kalau Magrib akan mengumandangkan adzan. Remote TV yang dipegang seorang teman, kemudian mengalihkan chanel ke stasiun yang lain. Ya, sama seperti di TV One yang lain juga masih mengalunkan Adzan.

Tapi ketika chanel berpindah ke RCTI, yang ada malahan lain, iklan. Ku minta pindah chanel ke Global TV, tetap iklan. Terus menuju TPI yang merupakan salah satu TV milik Group MNC, ternyata masih adzan. Setelah bolak-balik ke seluruh chanel TV Nasional yang mampu ditangkap oleh antene UHF asrama, ternyata semua mengumandangkan adzan Magrib, kecuali RCTI dan TV Global.

Aku tak tahu kenapa bisa begitu. Aku tak bisa mereka-reka lebih jauh lagi, karena info yang kudapatkan tentang 2 TV ini memang masih sedikit. Tapi, dalam hati aku terus bertanya-tanya, kenapa bisa ya?

Setelah makan dan istiharat, aku film yang ku tunggu Lord of The Rings serial ketiga The Return of the King akhirnya diputar jam 10 malam kurang sedikit. Sampai jam 2 kurang dinihari baru film keren ini habis. Film ini termasuk favouritku. Karena aku bisa melayangkan angan bagaimana sebuah perang terjadi. Bagaimana sikap kepahlawanan dan keberanian bergelora menumpaskan musuh. Bagaimana besarnya peran seorang pemimpin dalam mengatur kekuatan dan menjaga spirit pasukan ketika terdesak.

Tahu bagaimana tipelogi kemunafikan yang nampak jelas pada diri Smaegol. Dan besarnya dorongan untuk meraih kekuasaan yang menjadi konflik paling penting ketika Frodo hendak melempar Cincin ke dalam kawah Mordor. Bagaimana cantiknya Eowyn yang tak dapat mencintai Aragorn karena telah jatuh hati kepada Putri Peri bangsa Elf, Arwen.

Saat hendak melepas lelah di kamar, pikiranku melayang-layang memikirkan bagaimana situasi kematian yang digambarkan Gandalf sebagai “Bukanlah akhir dari segalanya. Hanya jalan untuk menempuh tempat lain. Yang lebih indah dari dunia ini”.

Saat itulah aku semakin larut dalam keyakinan bahwa memang dunia ini memang fatamorgana. Tiada yang real. Memang ada seorang teman yang mengatakan kepadaku, “Gun, saatnya kamu melepas diri dari dunia angan. Tapakilah dunia nyata, dengan mencari rizki yang halal”. Aku hanya berujar pendek, “Bukankah dunia yang sedang kamu sebut adalah dunia kerja, bukan dunia nyata?”. Dia hanya ketawa.

Memang susah membedakan antara mimpi dengan nyata. Bukankah kehadiran manusia di dunia bagaikan mimpi yang hanya bisa dia maknai setelah melewat kejadian demi kejadian. Satu hal yang tak dapat dipahami manusia, kenapa dia harus berada di tempat yang teramat aneh ini. Tempat dimana tiada kesempurnaan. Tempat berkelindah sedih dan tawa. Tempat dimana masalah datang silih berganti. Tempat aneh yang biasa disebut dunia.

Potret Lord of The Rings tak lebih sekuel manusia dengan berbagai permasalahan dan dunia lain yang berhubungan dengannya. Sauron dengan segala kekuatan dan pengikutnya adalah spirit kejahatan yang harus dilawan manusia dengan keberanian, keyakinan dan sebuah harapan bahwa kematian akan berharga dengan pengorbanan. Sedangkan Gandalf hendak adalah pengejawantahan spirit kebaikan yang terus mengajak manusia ke jalan kemuliaan.

Bagaimanakah potret seseorang, dialah yang mampu menjawabnya sendiri. Seperti yang dikatakan oleh adik kelas SMAku yang kemarin bersilaturahim ke asrama karena mau pelantikan jadi Dokter februari esok, “manusia itu memang unik satu sama lain”. Tentang realitas yang mesti dia ragui sebagai ilmuan dan harus dia yakini sebagai orang yang beriman.

Memang manusia hanya makhluk yang terdampar di planet ini. Yang tak berdaya sama sekali. Hanya kesombongan yang membuatnya merasa digdaya lebih hebat daripada Realitas Tertinggi. Seraya mengutuk-ngutuk sang Yang Maha itu dengan berbagai sumpah serapah karena apa yang dia temui di bumi tak sesuai dengan apa yang dia pikirkan. “God is Dead”, “Tuhan hanya bermain dadu di dunia” dan berbagai ucapan sinis lainnya. Apakah ungkapan itu bermakna, agaknya tidak sama sekali.

Akhirnya manusia akan tenggelam dalam “lautan kemelut”. Aku berpikir, alangkah indahnya bisa hidup di zaman Rasulullah karena bisa berperang melawan kebatilan dan musuh-musuh Allah. Betapa indah bisa bergabung pasukan Akhir Zaman Imam Mahdi memberangus kaum kuffar. Terlibat dalam perang yang teramat dasyat. Bukankah Umar bin Khatab ingin meninggal di medan perang? Karena ingin menjadi syahid? Tapi di zaman ini mungkin ada jihad lain. Yang tak berbentuk perang fisik, tapi perang melawan kebodohan dan godaan dunia yang semakin gila dan tak mampu dipahami logika. Entahlah…

Dalam alunan “Ketika Cinta” aku larut bersama hujan yang turun menjelang dzuhur ini. Tenggelam dalam rasa cinta. Berpadu dengan rintihan rindu. Ketika cinta memanggil, dan aku tak mampu menjawab. Diam membisu…