Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hari ini Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakah Refleksi Akhir Tahun dengan mengambil tema “Pemberdayaan Masyarakat” diadakan di Kantor PP Muhammadiyah Jalan Cik di Tiro Yogyakarta. Menghadirkan Prof. Dr. Amien Rais, Dr. Revrisond Baswir, M.B.A dan Dr. Zuly Qodir sebagai pembicara, aula PP dipenuhi oleh para peserta dari berbagai kalangan. Salah satu pimpinan redaksi Koran Kedaulatan Rakyat, Otto Lampito menjadi moderator dalam diskusi yang berlangsung dari jam 8.30 sampai 11.00 ini.

Acara ini  diawali paparan oleh ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah Said Tuhuleley yang menyinggung tentang keberadaan rakyat miskin dan lemah saat ini bukan saja terabaikan tetapi juga dijadikan sebagai alat kampanye politik oleh beberapa pihak. Dalam sesi diskusi, Amien Rais memaparkan tentang situasi ekonomi Indonesia saat ini yang coba beliau kontekskan dengan  situasi politik dewasa ini. Apa yang terjadi sekarang tak dapat dilepaskan dari kebimbangan dan kerapuhan bangsa Indonesia dalam menghadapi globalisasi. Menerima pasar bebas sebagai mazhab ekonomi, telah membuat demokratisasi ekonomi tidak berjalan. Filosofi ekonomi bangsa ini telah sedemikian rupa dibangun oleh para Founding Fathers yang bisa dilihat pada pasal 33 UUD 1945. Amandemen UUD 1945 yang dimulai pada masa Amien Rais menduduki jabatan Ketua MPR, telah menambahkan satu ayat dalam pasal 33 itu. Sebagian pengamat mengatakan hilangnya filosofi ekonomi kerakyatan pada sistem ekonomi nasional tidak terlepas dari pengaruh perubahan ini. Namun, Amien Rais membantah hal tersebut. Beliau mengatakan, penambahan ayat 4 tidak memiliki niat untuk mengarahkan ekonomi nasional kepada konsep ekonomi Neoliberal.

Ekonomi liberal dan Neoliberal adalah ekonomi yang ramah pasar. Segalanya diserahkan kepada pasar yang dikuasai oleh pemilik modal yang kuat. Ekonomi Neoliberal dibangun atas motif keserakahan manusia yang tak pernah puas. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mahatma Gandhi “Dunia ini cukup untuk manusia, tapi tak cukup untuk keserakahan manusia”.

Ekonomi Neoliberal yang dianut oleh pemerintah saat ini adalah perpanjangan dari apa yang terjadi pada masa Orde Baru. Ketergantungan bangsa Indonesiadengan luar negeri dalam hal ini negara-negara dan lembaga keuangan kapitalis sangat kuat. Pada masa Orde Baru, IGGI, CGI, IMF dan Bank Dunia menjadi teman akrab pemerintah dalam menjalankan sistem ekonomi nasional.

Menurut Amien Rais, tahun 2009 adalah momen yang penting untuk mengubah keadaan ini lewat pergantian kepemimpinan nasional. “2009 adalah the decision year. Mega dan SBY yang saat ini mengungguli kandidat presiden lainnya pada survey-survey yang yang dirilis media massa adalah sosok yang sama-sama berpegang pada ekonomi pasar, tunduk kepada IMF dan suka menjual BUMN.

Kekuatan politik menengah saat ini tidak mengubah diri menjadi kekuatan perubahan, namun lebih suka menjajakan diri lewat politik rental. Menawarkan diri pada partai besar dalam penguatan suara.

Diakhir uraiannya Amien Rais memberikan semangat kepada audiens, bahawa kaum intelektual yang merupakan garda terdepan dalam perubahan tidak boleh berputus asa. Karena misi yang mereka emban sama halnya dengan amanah yang dibawa oleh para rasul untuk membawa masyarakat pada keadaan yang lebih baik dan melawan kedzaliman yang ada di tangan penguasa.

Setelah menyampaikan ceramah selama 15-an menit Bapak Amien Rais meminta izin kepada audiens karena tidak dapat menggiringi diskusi sampai akhir. Beliau undur diri karena faktor kesehatan beliau yang tidak fit sehingga mengharuskan untuk istirahat.

Uraian kedua disampaikan oleh Dr. Zuly Qodir. Secara panjang lebar beliau mengangkat beberapa kasus di lapangan yang menunjukkan upaya pemberdayaan masyarakat masih menemui banyak kendala. Antara lain, aktivitas pemberdayaan masyarakat masih banyak bersifat top down/ menunggu dari atas, masih sentralistik, dan cendrung manipulatif.

Pembicara ketiga Dr. Revrisond Baswir, seperti dalam berbagai forum yang pernah penulis ikuti, begitu semangat menyampai kait-mengait antara sejarah ekonomi Neo Liberal yang bermula dari tahun 1965 sampai saat ini. Beliau mengatakan “refleksi tiap akhir tahun sering dilakukan, tapi perubahan belum juga terlihat. Tentu ada yang salah”. Kesalahan itu menurut pakar ekonomi UGM ini terletak pada tidak adanya konsensus mengenai bagaimana menilai/mengevaluasi perkembangan bangsa sehingga tidak ada kesamaan perspektif dari berbagai pihak dalam menilai masalah bangsa terutama dalam masalah ekonomi.

Pertanyaan penting terkait dengan demokrasi ekonomi yang dicantumkan dalam konstitusi kita adalah sejauh mana perkembangan demokratisasi ekonomi berjalan di negeri ini? Mengukur keberhasilan ekonomi tidak hanya berbicara masalah berapa anggaran yang dikeluarkan negara untuk meningkatkan sektor riil, tidak sekedar angka-angka matematis pertumbuhan ekonomi dan tingkat inflasi, dan tidak juga semata-mata seberapa berkurangnya penggaguran dan masyarakat miskin. Lebih dari itu semua, mengukur keberhasilan ekonomi dan pembangunan harus dilihat dari relasi masyarakat bawah dan elite penguasa. Sejauh mana jarak stuktural antara kelas bawah dengan kelas atas dalam masyarakat. Selain itu, juga harus mengaca diri dengan situasi internasional.

Pemerintahan SBY mungkin bisa membanggakan naiknya cadangan devisa pada tahun 2008 dari 50 miliar US dollar menjadi 60 milliar US dollar. Tapi keberhasilan ini belum apa-apa jika kita melihat peningkatan cadangan devisa negara lain. Cina misalnya, pada tahun 2008 ini mampu menaikkan cadangan devisa menjadi 1,2 triliyun US dollar .

Dalam melihat ekonomi nasional/domestik, tentu faktor penting yang harus kita telusuri adalah masalah demokratisasi ekonomi. Sedangkan dalam melihat ekonomi internasional, aspek yang perlu dikedepankan adalah masalah kemandirian ekonomi.

Untuk mengatasi kondisi kritis, Revrisond yang berdarah Minang ini, mengkritisi solusi yang ditawarkan oleh Amien Rais dalam konklusi bukunya “Selamatkan Indonesia”. Amien Rais melihat untuk terciptanya sebuah perubahan bangsa ini memerlukan kepemimpinan yang baik dan perlu kekuatan moral. Bagi Revrisond, solusi ini belum komprehensif. Kita sudah punya seorang Soekarno yang tidak saja berani menentang kapitalisme, lebih dari itu presiden RI 1 ini malahan sudah melakukan konfrontasi dengan kaum neoliberal. Kewibawaan pemimpin anti kapitalis sudah kita lihat pada Saddam Hussein, dan juga Ahmadinejad. Namun tetap saja ini belum merupakan solusi yang tepat.

Dalam buku “Shock Doctrine” dipaparkan secara jelas tentang bagaimana strategi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II dalam memberikan shock attack/hantaman yang hebat  kepada negara-negara lain yang berseberangan. Shock dalam konteks Indonesia bisa dilacak pada tahun 1965. Peristiwa penting pada tahun itu bukan hanya sekedar masalah politik, ideologi dan militer, tapi merupakan satu paket yang tak terpisahkan dari program neo liberal AS di Indonesia yang dalam bidang ekonomi ditandai oleh kehadiran mafia Barkeley dalam penyusunan kebijakan ekonomi Indonesia.

Shock yang dilakukan oleh AS bisa berupa desain dari awal, bisa juga datang belakangan mengiringi shock natural yang disebabkan oleh faktor natural seperti bencana alam. Bentuk yang kedaa ini bisa kita cermati dalam kasus Aceh, dimana banyak modal dan uang yang berkeliaran di sana pasca musibah Tsunami.

Pemberdayaan masyarakat yang beberapa waktu lalu mendapat justifikasi keagamaan lewat istilah Tauhid Sosial, menurut Revrisond harus bergeser pada Tauhid Struktural. Jikalah Tauhid Sosial lebih kepada upaya penyadaran kepada kaum berpunya untuk memiliki sense sosial kepada masyarakat, maka Tauhid Struktural lebih jauh membidik upaya mendekatkan jurang pemisah antara golongan bawah dan kelas atas lewat pendekatan sistematis.

Menghadapi tantangan penjajahan ekonomi neo liberal yang semakin menggurita saat ini diperlukan sebuah strategi yang ampuh. Dan menurut Revrisond yang berhasil bertahan bahkan mengungguli sistem kapitalis ala AS saat ini adalah Cina.

Ada yang menarik disampaikan oleh Pak Revrisond terkait krisis yang terjadi saat ini. Penamaan “krisis global” tidaklah tepat. Mengapa demikian? Karena krisis adalah kapitalis Amerika Serikat. Oleh karena itu, media ternama di AS, New York Times mengatakan bukan “global  crisis” tapi “capitalism US crisis”. Tapi apakah perkara imbas dari krisis ini menjangkau seluruh dunia, maka ini adalah term yang berbeda. Yang lucunya, Pemerintah Indonesia punya keinginan untuk mengajukan kredit pada US dan lembaga keuangan internasional yang notabene sudah ngos-ngosan menahan tibanan karma dari kebusukan kapitalism yang mereka gadang-gadangkan selama ini. Aneh secara logika, apakah AS sedang menolong Indonesia ataukah Indonesia yang membantu AS untuk pulih dari krisis. Jawaban yang cerdas adalah kita secara bodoh sedang menolong AS.

Diskusi ini menyadarkan saya tentang banyak hal. Terutama tajamnya analisis dan kerunutan logika yang disampaikan oleh Pak Revrisond tentang apa yang terjadi saat ini. Saat pemerintah dan beberapa kalangan panik karena krisis finansial. Tapi masyarakat masih adem-adem aja karena sudah terbiasa dengan gejolak dan perubahan. Mungkin kesabaran masyarakat sudah mencapai maqam sempurna sehingga tak begitu hirau lagi dengan situasi yang ada. Mungkin hanya mahasiswa yang sering emosian melihat polah pemerintah yang menurut mereka begitu sombong terus menindas rakyat.

NB: Tulisan diketik kemarin 26 Des 08 dan 2 paragraf terakhir yang disusun pada hari ini 27 Des 08