Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Senyuman memang bisa membuat hati menjadi berbinar-binar. Membuat bahagia jika diberikan dengan keikhlasan. Menjadi berdebar-debar ketika dipersembahkan oleh orang yang menarik.

Itulah tadi yang kurasakan, ketika hendak meminjam buku di perpustakaan filsafat. Ketika hendak menuju petugas jaga untuk diregistrasi, dari arah yang berlawanan datang seorang perempuan. Serta merta ia tersenyum. Ya, aku balas juga senyumannya. Padahal aku tak kenal dia siapa. Tapi yang jelas, mbak yang berjilbab itu memang manis.

Entah apa arti senyumannya, tapi segera rasa gembira hadir di jiwa. Ku reka-reka lagi kapan aku bertemu dengan sang gadis. Akhirnya ku ingat, dia adalah mahasiswa S2 Filsafat UGM yang kemarin sama-sama ikut workshop Filsafat Nusantara. Setelah dirinya mengajukan pertanyaan kepada pembicara, akupun ikut mengajukan pertanyaan. Ya, itu kayaknya. Mungkin senyuman tadi sebagai tanda silaturahim atas pertemuan sebelumnya. Maybe… Lumayanlah. Dengan senyuman diri ini merasa berharga.

Intesitas ke perpustakaan pusat yang lumayan sering telah membuat wajahku dikenal oleh beberapa petugas. Sore kemarin, saat mengembalikan buku, Ibu yang jaga di tempat pengembalian buku secara spontan mengatakan “Kok jenenge Anggun” (kok namamu Anggun). Spontan saja mbak yang juga petugas perpus menimpali “untuang ora mlayu” (untung tidak gemulai). Aku tersenyum saja. Ya, paling tidak petugas-petugas perpus jadi akrab denganku.

Kejadian salah mempersepsikan genderku, sudah seringkali terjadi. Minggu-minggu ini saja sudah tiga kali. Yang pertama sekali saat sms ust Yuhanar Ilyas. Tapi karena beliau masih orang Minang, aku masih bisa berapologi dengan Kaba (Cerita Rakyat) Minang “Anggun Nan Tongga”, seorang pemuda yang hendak membebaskan Mamaknya (Paman) yang ditawan oleh seorang petinggi adat. Yang kedua, saat seorang member friendster memberikan komentar dengan memanggilku “Uni Anggun” (sebuah sapaan untuk kakak perempuan di Minang). Hal ini benar-benar bikin geli perutku. Atas kejadian ini, seorang adik angkatan di Asrama bilang padaku “Da Anggun, agiahlah foto di Fs Da Gun baliak” (Kak Anggun, tampilkanlah lagi foto di Fs Kakak). Dan yang terakhir, kejadian di perpus yang kuceritakan sebelumnya.

Sebenarnya saat masih kecil-kecil dulu, aku sempat dipanggil Wawan. Tapi setelah beranjak bangku SD, panggilan Anggun sudah melekat padaku. Ya, akhirnya sampai sekarang. Terkadang aku mesti menjelaskan kenapa namaku Anggun yang lebih cocok untuk nama perempuan. Tapi tak apa. Aku menghargai pemberian nama itu dari orang tuaku. Karena nama itu cukup berarti bagiku meskipun tak ada bau Arab-Arabnya.

So, buat Mbak yang tadi telah menghadiahkan senyum untukku, aku ucapkan banyak-banyak terima kasih. Karena kini memang aku lagi rindu dengan senyuman manis seseorang.