Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hari ini terasa hambar saja. Tiada semangat. Materi kuliahpun tak mampu kutangkap dengan baik. Berbagai macam hal berseliweran di pikiranku. Melintas dengan cepat tanpa aku dapat memahaminya. Entah apa yang terjadi dengan otakku. Mungkin gara-gara tidur yang terlalu larut tadi malam.

Seorang temanku memberitahu bahwa Tempat Pemunggutan Suara Pemira UGM tahun ini di fakultasku diusir oleh anak-anak filsafat. Aku hanya tak habis pikir kenapa orang sekelas mahasiswa (mahasiswa filsafat) berlaku krasak-krusuk merespon sesuatu. Cendrung anarkis terhadap hal-hal yang tak disukainya.

Padahal dalam setiap perkuliahan dosen telah berbuih-buih mengatakan tentang kearifan dan kelapangan hati untuk menerima perbedaan. Namun kenapa ada pola pikir yang masih mengambil cara-cara preman dalam menyelesaikan masalah?

Anarkis telah menjadi pilihan berbagai kalangan yang frustasi melihat keadaan yang dinilai tak adil, tak sepantasnya terjadi. Bentrokan beberapa mahasiswa Jogja yang bergulat dengan keamanan yang terjadi kemarin, agaknya refresentasi dari masalah kronik ini. Konon yang kemarin terlihat dipukuli oleh polisi di televisi adalah salah satu kader KAMMI. Sempat juga aku melihat bendera Hijau Hitam HMI dan juga bendera merah IMM.

Frustasi memang membuat orang cendrung tak lagi memakai akal sehat dalam menyelesaikan persoalan. Jika mahasiswa yang katanya calon intelektual sudah tergerus dalam anarkisme, apalagi masyarakat biasa. Tentu mereka lebih pantas melakukan anarkisme yang lebih hebat dari dari aksi mahasiswa? Entahlah. Dunia macam ini???

Setelah sehari kemarin, berbagai aksi kekerasan dan aksi gila yang dilakukan oleh mahasiswa di Filipina yang berparade bugil di kampus, ada juga ku dapatkan petuah yang baik dari pak Hamdan saat kuliah tadi. Dalam pernikahan yang dipentingkan itu bukanlah kriteria. Makanya ketika kutanya kepada Pak Hamdan yang mau nikah minggu depan, apakah kriteria bapak dalam memilih istri? Beliau dengan senyum mengatakan, g pake kriteria apa2. Aku jadi heran. Ya, ketemunya sama perempuan itu dan sama-sama suka, akhirnya ya nikah.

Jadi nikah itu, terjadi karena saling suka dan kesediaan untuk menerima seseorang untuk menjadi bagian dari hidup kita. So, buat Ori yang tadi smsku, katanya mau nikah juga, aku ucapkan selamat menempuh hidup baru. Do’akan juga aku, agar bisa bertahan tidak menikah sebelum meraih gelar master. He2..He… Terima kasih kepada pengunjung setia blog ini yang telah bersedia space iklan yang ditampilkan di blog ini. Semoga hari-hari ke depan akan ada optimisme dan hari yang indah…Amien