Prospek Filsafat Nusantara


Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Kemunculan ide mengali kebudayaan Indonesia asli bukanlah sebuah ide yang baru sama sekali. Wacana ini sudah hangat dibicarakan dalam konteks menghadapi kebudayaan Barat pada masa awal kemerdekaan yang diwakili oleh perdebatan Sanusi Pane dan Sutan Takdir Alisyahbana. Pada masa ini kebudayaan Barat sudah semakin berdinamika dengan cepat. Modernisasi sebagai produk rasionalisasi Barat sudah banyak dikecam dan dikritisi oleh orang Barat sendiri. Mereka mulai melirik suasana kehidupan yang ada di Timur. Jika dulu untuk kepentingan kolonialisasi, sekarang lebih kepada pengembangan keilmuan yang lebih disandarkan kepada upaya memahami kebudayaan lain di luar dirinya. Banyaknya ahli-ahli Barat yang meneliti Indonesia dengan seabrek publikasi ilmiah telah membuka mata ilmuwan Indonesia untuk melihat kembali tentang budaya bangsa sendiri.

Derasnya mainstream bahwa Baratlah segala-galanya yang juga menyerang para ilmuan Indonesia perlahan luntur dengan semakin banyaknya karya tentang Indonesia yang diluncurkan oleh ilmuan Barat. Bahkan mereka menghasilkan karya ilmiah itu lewat penelitian bertahun-tahun dan umumnya menemukan kearifan dunia yang belum mereka temui dalam tradisi masyarakat mereka.

Agaknya miris juga jika penelitian tentang Indonesia di dominasi (mungkin karena kemampuan publikasi) oleh orang-orang non Indonesia, sementara sedikit orang Indonesia yang mau meneliti kebudayaannya. Sebagai upaya preventif dalam kemandirian intelektual, dimana kita tidak harus selalu terpukau dengan yang dihasilkan oleh orang, maka upaya menggulirkan penelitian Filsafat Nusantara adalah suatu keniscayaan jika kita tak ingin menjadi orang-orang yang tak mengenal sejarah dan warisan yang telah ditinggalkan oleh nenek moyang dan pendahulu bangsa ini.

Belum adanya metodologi dan metode yang mumpuni untuk membedah, menggali dan merefleksikan seputar kearifan lokal membuat kita harus berpikir keras untuk memunculkannya. Karena bersandarkan kepada pendekatan teori-teori Barat akan membuat banyak hal yang akan luput dari perhatian. Teori Barat muncul dari problematika dan dinamika masyarakat Barat. Tentunya untuk meneliti Nusantara harus dilandaskan pada metodologi dan metode yang khas Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s