Pagi ini kuawali lebih dini dari hari-hari sebelumnya. Jam 4 aku tersentak oleh suara azan dari masjid sebelah asrama. Kusempatkan juga melihat sebentar tayangan bola antara klub favoritku AC Milan yang dikalahkan oleh Juventus 2-4. Hujan masih saja turun. Malahan semakin terang, semakin deras.

Di pagi tadi, ketika pikiran belum terlalu banyak didera oleh berbagai masalah, aku kembali teringat padamu, Greaty. Begitu jelas wajahmu di mataku. Aku tak tahu kenapa. Bayanganmu hadir begitu saja. Mengalir dalam aliran denyut nadi, berikan rasa hangat di tengah dinginnya pagi.

Beberapa kali sms yang kukirimkan padamu beberapa hari ini selalu gagal. Agaknya no hpmu sudah berganti. Kau hadir dalam hidupku lebih banyak dalam angan dan bayangan. Berkekalan di dalam pikiran. Tapi dalam nyatanya sedikit sekali yang telah tertera.

Entah rasa apa ini Great, aku juga tidak tahu. Dalam alunan “Mencintaimu Selamanya” dari Siti Nurhaliza, ku lepas lelah ini. Lelah karena sejak pagi sudah harus ke kampus untuk menghadiri seminar “Filsafat Nusantara” dan kuliah Bahasa Palembang. Sebait syair yang sulit untuk kujalani. Karena mencintaimu selamanya, berarti keabadian cinta.

Ku nikmati kesendirianku dalam kesunyian jauh dari cinta. Ku bahagiakan hatiku di tengah kebencian-kebencian yang teralamatkan pada diri ini. Air mata tak berlaku lagi ntuk tangisi keadaan diri. Hanya ada satu keyakinan, pasti ada cinta untukku. Meskipun sulit ku meraihnya. Dengan harapan suci, ku berharap suara hati ini didengarkan oleh Nya.