Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hari ini aku capek banget. Dari pagi sudah start buat surat untuk diskusi Mohammad Natsir yang insya Allah akan diadakan asrama minggu depan. Baru selesai 80%, jam sudah mendesakku untuk menghentikan ketikan. Dorongan mendatangai kuliah kebudayaan yang diadakan di gedung bundar pasca sarjana begitu menggebu.

Ku pikir kuliah yang akan diberikan Prof. Irwan Abdullah itu akan dimulai telat, setengah jam dari jadwal yang tertera, jam 9 pagi. Ternyata dugaanku salah. Sampai jam 9.30 ruang seminar sudah penuh. Peserta meluber sampai keluar, hingga panitia menyedia viewer yang langsung diambil dari video live dari dalam. Aku masih heran kenapa kuliah solo yang dilakukan Pak Irwan yang berasal dari Aceh ini begitu menyita perhatian.

Menjelang Dzuhur, aku tak meneruskan mengikuti kuliah pak Irwan karena harus mengejar seminar nasional yang menghadirkan Prof. Dr. Wan Mohd Noor Wan Daud (Guru Besar Universitas Kebangsaan Malaysia) dan Dr. Khalif Muammar.  Syukurlah seminar itu disampaikan dalam Bahasa Melayu. Jadi ada keasyikan tersendiri bagi telingaku. Sebenarnya aku pingin mengulas tentang apa yang disampaikan oleh kedua pembicara dari Malaysia ini, namun pikiranku lagi boring, jadi ku tunda dulu membuat reply seminar ini.

Jam 5 Sore baru nyampai di asrama. Habis tu, nerusin ngetik surat. Ngeprint, fotokopi dan minta tanda tangan pengurus asrama. Jam 8 kurang sepuluh sudah go ke rumah Rusdi Lamsudin. Ee, ternyata surat yang ku buat harus direvisi. Ni barusan revisi ku kerjakan, karena sudah janjian ketemuan lagi besok pagi.

Tadi setelah sholat Isya, anak asrama putri BK marah-marah padaku karena telah memasukkan gosip mereka di web asrama. Aku hanya bisa minta maaf. Tapi katanya, aku telah membuat mereka malu. Aku juga heran kenapa mereka bisa marah besar. Padahal aku hanya mengalihkan pembicaraan yang mereka lakukan di groups friendster ke blog. Cuma itu saja. Tapi terserahlah mereka mau marah atau gimana. Daripada pusing-pusing mikiran hal sepele, lebih baik menyibukkan diri dengan hal-hal yang lebih berfaedah bagi pengembangan intelektual. So, nyantai aja lagi. Orang mau marah kek, mau sebel, ya silahkan aja. Yang penting, aku harus bisa menikmati hidupku…