Pengunjung setia yang saya hormati, mohon kesediaan anda untuk mengklik salah satu link di bawah ini sebagai bentuk apresiasi pengunjung terhadap blog ini. Terima kasih banyak saya ucapkan atas kebaikannya.

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Hari ini berlalu seperti biasa. Bangun telat jam 5 sehingga g datang sholat shubuh berjama’ah di masjid. Datang ke kampus, minjam buku di perpus. Ditambah kuliah yang semakin banyak diisi dengan diskusi.

Siang tadi saat kuliah Filsafat Ketuhanan dibahas tentang masalah kebebasan manusia dalam perspektif Jabariyah (yang cendrung deterministik) dan Qodariyah (yang mengedepankan aspek free will bagi manusia). Sempat juga aku ikut dalam diskusi, tapi yang tersampaikan seolah mengambang.

Sebagai mahasiswa tua yang ikut kuliah bersama angkatan baru, aku cukup dielu-elukan oleh mereka. Banyak diantara mereka yang sudah kenal denganku. Bahkan rasanya lebih dekat dengan mereka daripada teman satu angakatan yang masih tersisa. Aku tak tahu kenapa mereka senang denganku, padahal aku hanyalah mahasiswa tua yang tak lulus karena tak pandai menyiasati waktu dan malas kuliah. Apalagi kalau dalam diskusi, rangkaian kata yang kusampaikan sering kali tak jelas dan amburadul.

Apa yang harus dibanggakan dari diriku ini. Mendekati cewek saja susah, karena mereka sudah keburu kabur karena sangarnya wajahku dan sikapku yang dingin. Mau membanggakan intelektualitas, agaknya aku masih bodoh tanpa bisa menganalisis masalah. Ingin pula kucoba menjadi atlet sepakbola, ee yang terjadi seringkali blunder yang kubuat ditambah lagi berlari sedikit saja sudah ngos-ngosan.

Ikut organisasi, cuma sampai setengah jalan. Habis tu berhenti tanpa alasan yang jelsa. Pingin pula jadi orang alim. Tahannya cuma sebentar, karena godaan maksiat menghancurkan bangunan iman yang kubangun. Mau jadi apa aku ini?

Entahlah…

Hanya menjadi seorang yang tergila-gila dengan Siti Nurhaliza. Yang lari dari kenyataan dengan asyik menikmati dunia awang-awang. Terus membujuk diri, bahwa “kamu hebat”. Duh, kenapa ini. Aku tidak menyalahkan Engkau Tuhan. Karena DiriMu begitu sempurna untuk terlibat dari kesalahan dan rusaknya diri ini.