Sebelum membaca artikel ini, sudilah pengunjung mengklik links di bawah ini… Terima kasih ya…

************************************************

Pagi ini hujan kembali turun. Gelapkan langitkan, dinginkan hari. Besok 10 Zulhijah 1429 Hijriah. Hari Raya kedua dalam kalender Islam. Meski di negara-negara Arab “Ied inilah yang lebih akbar, tapi di Indonesia orang cendrung adem-ayem saja tak sesibuk Idul Fitri.

Bulan desember, bulan terakhir menjelang pergantian Tahun. Tahun esok harus ku buat spesial dengan gelar sarjana sudah melekat di depan namaku. Terserah orang hiruk pikuk dengan deretan pesta demokrasi tahunan yang juga digelar tahun depan. Yang penting aku bisa lulus, terserah presiden atau yang jadi anggota parlemen siapa.

Sebenarnya di UGM, aroma pilih-memilih sudah sudah dimulai. Pertama, di bulan november yang lalu, dekan baru dari masing-masing fakultas telah dilantik. Beberapa hari yang lalu, giliran wakil dekan yang dikukuhkan. Dan pertengahan bulan ini, akan ada pula Pemilihan Umum untuk mahasiswa yang akan memilih Presiden Mahasiswa UGM dan Dewan Perwakilan Mahasiswa.

Untuk urusan yang terakhir ini, aku memang g terlalu antusias. Sejak masuk UGM tahun 2002 yang lalu, tak pernah aku turut mencoblos. Di akhir-akhir perjalananku sebagai mahasiswa saat ini, tiba-tiba saja teman-teman IMM memasukkan namaku sebagai Majelis Pertimbangan salah satu partai peserta pemira 2009. Ya, tetap saja aku tak tertarik dengan urusan politik kampus. Bagiku lebih baik baca buku dan urus kuliah demi kuliah biar target wisuda bisa tercapai.

Atas terpilihnya Dekan Filsafat yang baru, Dr. Mukhtasar Syamsudin (dosen yang keren lulusan Korea Selatan) beserta para wakil dekan: Bapak Dr. Arqom Kuswanjono sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik, Drs.Mustofa Anshori Lidinillah, M.Hum sebagai Wakil Dekan Bidang Administrasi, Keuangan, dan Sumber Daya, serta Ibu Dra. Sartini, M.Hum sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama, ku ucapkan selamat mengemban amanah. Satu harapan untuk pimpinan yang baru ini, semoga fakultas Filsafat UGM semakin maju.

Bacaan filsafatku akhir-akhir beralih pada persoalan filosofis kontemporer. Aku tertarik membaca fenemologi dan perkembangan filsafat mutakhir. Ya, mungkin karena dengan memahami persoalan sekarang aku bisa lebih hidup dan bergulat dengan dinamika wacana kontemporer sekaligus memahami pijakan pemikiran masa lalu sebagai pijakan kenyataan yang terjadi di hari ini.

Tadi malam sempat juga ku tulis sms yang tentunya hanya kukirimkan pada insan spesial di hati ini: “Malam ini begitu cerah, sahabat. Beruntung manusia karena ditakdirkan ‘terdampar’ di planet ini. Karena yang ditemuinya tidak saja dunia yang bisa dipikirkan, tapi ada dua dunia lagi yang menyertainya – dunia yang dihayati dan dunia yang diimpikan-. Karena bergulat dengan ketiganyalah, hidup terasa rumit dan misterius. Karena ketiganya seperti bayangan yang saling bertautan. Manusia sering letih mencari kepastian, tanpa pernah menemukan hakikat kebenaran. Mungkin karena keberadaan manusia sebagai makhluk yang tak sempurna, membuat ia menjadi antitesis dari keberadaan Tuhan yang sempurna.”