Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Hari ini hari jum’at. Hari yang kutunggu-tunggu. Karena hari terakhir kuliah dalam seminggu. Minggu ini aku begitu letih menghadiri rangkaian kuliah yang menyisakan banyak tugas untuk terus membaca buku setiap malam. Maklumlah kuliah sekarang selalu diisi dengan diskusi. Kalau tak baca buku sulit untuk bisa ikut berpartisipasi.

Fokus kuliah membuatku cendrung menghiraukan undangan-undangan rapat baik dari organisasi yang pernah kuikuti ataupun dari orang kampung dekat asrama. Pengabaian ini, ku lakukan karena aku memang ingin wisuda bulan Agustus 2009 esok. Aku tak ingin mata kuliah baru yang kuambil semester ini mendapatkan nilai yang jelek. Biarlah aku menyendiri saat ini, cendrung “anti sosial”. Tak masalah. Karena kewajiban ku sekarang adalah merampungkan kuliah. Ya lain, sempat ya diikuti, kalau ngak sempat ya tak usah merasa bersalah karena akan membebani pikiran saja. Memahami kuliah dan buku-buku filsafat saja sudah mumet apalagi ditambah beban yang lain.

Tadi malam sempat juga kudatangi pengajian Ustadz Yuhanar Ilyas di Masjid Kampus UGM yang membahas tentang “Kisah Nabi Ibrahim”. Dimulai jam 20.30, jam 21.30 pengajian sudah selesai. Singkat tapi lumayan buat merefresh hati.

Aku tak tahu harus menuliskan apa lagi. Kesadaranku agak goyang. Emosiku agak labil. Untuk menenangkan hati ku pandangi saja foto kak Siti yang lagi tersenyum. Ketika aku mulai jarang menulis di blog ini, seiring itu juga blog ini semakin sepi. Aku berharap setelah minggu ini, semangatku kembali datang sehingga bisa menghiasi blog ini dengan tulisan-tulisan aneh yang bisa dibaca pengunjung setia blog ini.

Hal yang menarik minggu ini cuma kedekatanku dengan teman lama satu SD dan satu SMA. Rumahnya juga berdekatan dengan rumahku di kampung. Ya paling tidak aku punya teman ngobrol. Dia telah bekerja sebagai adminstaris keuangan salah satu perusahaan di Jakarta.

Aku binggung ketika memikirkan apa arti hidup. Aku juga binggung memahami makna keberagamaan. Aku gamang dengan masa depan. Aku gamang dengan kemampuan intelektual yang telah ku miliki. Hari demi hari yang kusadari adalah aku semakin bodoh tak tahu apa-apa. Begitu luas benar dunia ini, seperti yang dikatakan Hegel “Realitas adalah sejauh apa bisa dijangkau pikiran”. Ketika Tuhan bisa kita pikirkan, maka keberadaan Tuhan itu adalah sesuatu yang nyata.

Begitulah manusia. Yang selalu bertanya apa yang diketahuinya memang benar. Yang selalu berpikir bukan tentang apa yang di sekitarnya saja, namun lebih dari itu, ia berefleksi, merenungkan tentang dirinya sendiri. Jadi apa yang benar-benar nyata? Entahlah, terlalu keras perdebatan ini dalam sejarah filsafat. Realitas hanyalah konstruk dari pikiran manusia, itu kata penganut Idealisme. Realitaslah yang mempengaruhi pikiran, itu kata Realisme.

Pagi sudah semakin panas. Aku harus siap-siap berangkat ke kampus. Ku akhiri tulisan ini dengan sebuah syair yang ku tulis beberapa hari yang lalu:

“Dingin di pagi ini tak seperti biasanya.. Angin berhembus begitu lembut.. Pelan menembus relung hati.. Membangkitkan memori yang sulit diungkap lewat kata.. Bagaimanakah kabarmu nan di sana, duhai penyejuk jiwa? … RIndu hendakbertemu… Bukan untuk mengulang kisah lama, karena hari ini tak lagi sama dengan yang lalu.. Tapi ku ingin renda sulaman baru… Ikatan yang tak putus oleh masa.. Tak hiraukan takdir nan fatamorgana.. Karena hidup sama samarnya dengan bayangan jiwa..”