Seminar Muhammad Natsir


Pengunjung yang saya hormati, sebelum membaca artikel ini mohon sekiranya untuk mengklik link di bawah ini terlebih dahulu. Makasi…

*****************************

Internet di asramaku sejak tadi malam dah disconnect. Maklumlah tagihan bulan ini belum dibayar. Tapi ngak pa2. Uang pembayar juga belum ada. Puasa ngenet dulu 2 atau 3 hari. Sepulang dari seminar Kepahlawanan Muhammad Natsir kemarin Liza men-sms ku. Dia ternyata mau test cpns hari ini dan lokasinya di SMP 4, smp ku dulu yang dekat sekali dengan rumahku di Solok sana. Senang sekali bisa sms2-an lagi dengan dia. Teman satu angkatan yang kukagumi karena kemampuannya membaca Al Qur’an. Guyonan-guyonan kedewasaan dan saling memberi semangat, itulah yang kami lakukan. Ya maklumlah umur sudah menginjak 1 tahun menjelang seperempat abad.

Seminar yang diadakan di salah satu ruang di komplek kantor Bupati Bantul menghadirkan pembicara-pembicara luar biasa. Ada Prof. Taufik Abdullah (sejarawan terkenal, lulusan Cornell University), Prof. Syafri Sairin (pakar antropologi dari UGM), Prof. Burhanuddin Daya (Pakar sejarah Islam dari UIN Sunan Kalijaga), dan Ir. Ahmad Fauzi Natsir (anak Muhammad Natsir, lulusan ITB).

Sebelumnya, acara ini diawali dengan acara-acara keprotokolan yang berisi sambutan dari Ketua Panitia Drs. Zaitul (pamannya Ipit adik angkatan di asrama putri), ketua Keluarga Besar Minangkabau se-DIY Dr. Rachmat Ali, MBA. (direktur Danagung Groups), Asisten Bidang Pemerintahan Pemda Sumatera Barat Bapak Sulthoni, dan Sri Sultan Hamengkubowono X yang merupakan niniak mamak orang Minang di Jogja dengan gelar Yang Dipatuan Rajo Alam Sati.

Sebagaimana kalau acara-acara resmi yang diposisikan di tempat terhormat tentu para pejabat. Tapi bagiku pemberian kehormatan kepada mereka tak lebih karena faktor kekuasaan yang mensetting mereke layak dihormati. Wibawa mereka seakan memudar ketika para intelektual terutama Prof. Taufik Abdullah mulai bicara. Jadilah beliau sebagai bintang pada acara kemarin. Aku percaya pesona intelektual melebihi kewibawaan elite yang dimiliki para pejabat. Apalagi kapasitas intelektual yang dibarengi dengan integritas dan akhlak yang santun. Itulah yang bisa kita temui pada diri Muhammad Natsir.

Pak Taufik mengatakan memang ada kelindan antara sejarah dan penguasa. Namun, apabila dikatakan sejarah adalah milik penguasa agaknya kurang tepat. Yang benar adalah penguasa menguasai retorika sejarah yang melalui power yang dimiliki dikampanyekan atau mungkin didoktrinkan kepada kepada rakyat. Paling tidak ada beberapa dimensi sejarah: sejarah sebagai catatan historis yang benar-benar terjadi pada masa lalu, dan sejarah yang dikonstruksi untuk kepentingan tertentu, dan sejarah sebagai tafsiran atas apa yang terjadi pada masa lalu. Sangat sulit untuk mengatakan kebenaran sejarah adalah kebenaran objektif. Karena seorang sejarawan sudah memulai kerjanya dengan unsur subjekvitas dalam pemilihan apa yang hendak dia teliti, dan ketika subjektivitas ketika mempublikasi hasil penelitiannya. Memang dalam penelitian, metodologi dan metode bisa memberikan rambu-rambu kepada peneliti tidak lepas dari objektivitas. Taoi ketika sang peneliti menginterpretasi data yang didapatkan tentu dia tak lepas dari unsur subjektivitas juga.

Menurut Pak Taufik pemakaian istilah “pelurusan sejarah” agaknya kurang tepat dalam diskursus ilmu sejarah. Ketika sejarah dipahami sebagai interpretasi tentu sulit merumuskan salah dan benar. Berangkat dari hal ini tentu sangat sulit membedakan antara pemberontakan dengan penyanggahan. Apakah keterlibatan Natsir dalam PRRI adalah sebuah pemberontakan ataukah sanggahan? Dalam konteks budaya Melayu ada pameo “Rajo Adil Rajo disambah, rajo tak adil rajo disanggah. Seringkali keegoan penguasa membuat dia kalap mata membedakan antara kritik/sanggahan dan perlawanan/pemberontakan. Namun begitulah politik yang kental nuansa nafsu mempertahankan kekuasaan, lebih cendrung memilih sikap kekerasan untuk maenghadapi pihak yang dianggap lawan tanpa menjernihkan antara sangah dan berontak. Jadi salah satu tugas utama dari sejarawan adalah mencoba mengungkap data-data sejarah selengkap mungkin sehingga terbangun sebuah konstruksi yang mendekati dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi.

Akhirnya acara ini ditutup jam 16.30. 4 Jam mendiskusikan dan membedah seorang tokoh sekaliber Muhammad Natsir belumlah cukup. Malahan aku termasuk yang kecewa karena moderator (Pak Risman Marah) tak memberi kesempatan padaku untuk berbicara dan bertanya kepada narasumber.

NB: Artikel ini ditulis 30 November 2008. Baru bisa diupload hari ini karena internet di asrama sudah connect lagi..:)

Iklan

2 thoughts on “Seminar Muhammad Natsir

  1. trimakasih mas atas infonya kemarin…
    alhamdulillah, akhirnya saya bisa dateng meskipun jam 13.00 baru nyampe sana dan gak kebagian makan siang…he2x..tapi lumayan, dpt coffee break nya kok.

    meski agak canggung juga soalnya kanan-kiri semuanya ngobrol pake bahasa yang tidak kufahami(bahasa minang)…

    well, acaranya kemarin bagus banget. pembicaranya juga keren2…tapi kayaknya orang minang agak ‘rasis’ ya mas.. saya kadang-kadang sedikit kurang bisa nerima ketika sudah disinggung2 tentang masalah ‘kesukuan’. apalagi ‘jawa’ cukup sering disebut2…
    >> dibilang tentaranya soekarno yg jadi musuh PRRI, perspektif terhadap memangku jabatan (org minang menganggap amanah sehingga gak masalah kalau harus mundur, sementara org jawa berbeda), dll….

    saya juga cukup terhanyut waktu nonton filmnya. sampe sekarang saya suka terharu kalau lihat ust. syuhada bahri (beliau dulu rutin 1 bulan sekali datang ke sorong jaman saya masih SD, dan sering mampir kerumah saya, terkadang malah saya kerjain). tiap ke sorong, beliau nggak cuma ngisi kajian di kota, tapi juga kepelosok2, yg terkadang harus naik-turun prahu, jalan kaki masuk hutan keluar hutan….
    tidak menyangka, sekarang beliau jadi ketua DDII, meneruskan perjuangan pak natsir…

    waktu baca buku fiqh dakwahnya pak natsir, saya jadi faham, kenapa beliau-beliau (murid-muridnya, spt ust. syuhada) begitu bersemangat menjalankan dakwah ini. tulisan pak natsir memang menggugah… kalau habis baca, tapi hatinya dan semangatnya tidak terketuk, kayaknya perlu dipertanyakan..

    ‘alaa kulli haal’, saya mau ucapkan banyak terimakasih.. kapan2 kalau ada acara bagus n gratis dikasih tau ya kak..

  2. bagi teman2 yang g sempat ikut seminar ini, bisa menonton rekamannya pada acara “Ranah Minangkabau” di RBTV jogja jam 19.30 setiap hari rabu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s