Setelah sholat shubuh, aku ngantuk berat. Padahal sejak hari raya kemarin aku sudah menghentikan kebiasaan tidur setelah shubuh. Dorongan ini terinspirasi dari sebuah kalimat yang ada di novel Ketika CInta Bertasbih, ketika Ibu Khairul Azzam menyatakan tak suka dengan gadis yang tidur setelah shubuh. Maklumlah badan masih capek benar setelah begadang ngak jelas malam minggu kemarin sampai main bola sama teman2 Sastra Arab UGM di sore hari. Ya, baru jam 9.30 tadi aku bisa bangun.

Inginnya bangun pagi dengan muka ceria, namun yang terjadi malah bibit kebencian. Ketidaksenangan dengan kehadiran dua orang yang dulu pernah tinggal di asrama. Marahku bukan tanpa alasan. Mereka dulu ketika di asrama mau enaknya saja. Goro jarang, kalau piket ogah-ogahan, suka bawa wanita ke asrama. Yang satu kalau bawa perempuan yang bikin jengkel sekali. Masak tiap saat ngecek keberadaan pacarnya. Emang kita anak buah pacarnya apa? Uh, geram banget. Yang satu lagi, yang tak ku suka adalah kebiasaannya menjelek-jelekan anak asrama yang lain. Yang paling buatku jengkel, masak teman yang teramat baik kepadaku ikut pula dicemoohnya. Aku benar-benar sebel. Ketika asrama tenang dan nyaman saat ini mereka enaknya saja datang ke asrama. Pas dulu, ketika asrama penuh masalah mereka malah pergi.

Uh, kalau dah marah kayak gini, otakku makin panas aja. Daripada pusing-pusing dengan tingkah mereka, lebih baik anggap saja mereka tak ada. Kalau mereka cuba mengusik ketenanganku baru aku labrak saja mereka. Aku dah lama ngak berkelahi dan emosian. Biasanya kalau ada masalah dan bikin tengsi naik cuma dibawa ketawa-tawa aja. Tapi kalau sekarang bikin aroma tak bagus di asrama, aku tonjok saja mereka.

Duh, aku mau nyuci dulu nih. Mumpun belum keburu dzuhur. Nanti siang harus ke kampus juga, masuk kuliah. Udahan dulu ya.