Aku tak tahu kenapa dia begitu sabar dengan penyakit berketerusan yang dideritanya. Ketika ku tanya, dia hanya bilang, “G pa2 Mas, Insya Allah sembuh kok”. Tak mau dia mengungkapkan padaku tentang sakit yang dideritanya. Dia memang telah menutup hati untukku, tapi bukan berarti putusnya persahabatan. Aku ingin menjenguknya, membeli sekeranjang buah dan makanan sebagai tanda pertemanan. Tapi aku ragu, jangan-jangan kedatanganku tak dia harapkan.

Berbeda dengannya, flu dan batuk saja telah membuatku gelisah tak karuan. Malas kuliah, semua jadi tak enak. Betapa tipisnya kesabaranku.

Buat dikau yang di sana, hanya do’a yang bisa kupanjatkan semoga dirimu segera sembuh.

**************************

Untung kemarin pagi cuma gerimis, jadi bisa juga ku ikuti pengajian Kamis Pagi di PP. Muhammadiyah dengan pembicara Ust. Yunahar Ilyas. Yang dibahas adalah masalah perceraian. Dalam hukum syariat, talak (cerai) hanya bisa dilakukan selama tiga kali dengan kesempatan rujuk 2 kali. Ketika sepasang suami-istri bercerai, maka ada masa iddah bagi perempuan yakni selama 3 kali masa suci atau ada juga ulama yang berpendapat 3 kali haid. Masa iddah adalah masa menunggu yang digunakan untuk memberikan kesempatan kepada suami-istri untuk rujuk kembali, menenangkan suasana hati, dan memastikan apakah di kandungan istri ada janin. Pada masa iddah ini yang berhak untuk kembali kepada istri adalah sang suami. Sehingga laki-laki lain dilarang meminang, apalagi menikahinya.

Satu kali talak berlaku dalam waktu maksimal selama masa iddah. Meskipun seorang suami mengatakan 3 kali talak dalam sehari, hal itu tidak dikatakan sebagai talak tiga. Sama juga jika suami mengatakan “aku talak engkau dengan talak tiga”, maka dalam syariat itu masih dihitung sebagai talak satu.

Talak bukan hanya hak preogratif suami, tapi istri juga berhak mengajukan cerai jika merasa dirinya tak cocok lagi dengan suami. Pada masa Rasulullah, terjadi kasus Zainab yang meminta cerai kepada Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah) karena merasa tak mampu mencintai Zaid dan takut jika terus berumah tangga akan durhaka kepada suaminya itu. Akhirnya merekapun bercerai. Dalam kasus ini Zainab mengembalikan harta yang pernah diterimanya dari Zaid selama berubah tangga. Hal ini berbeda, jika yang mengajukan cerai adalah suami, maka suami tidak berhak meminta kembali harta yang pernah diberikannya kepada istri.

Dalam buku-buku fiqih tidak ada dikaji tentang bagaimanakah masa iddah bagi suami atau istri yang selingkuh. Perlu digarisbawahi Islam tidak mengenal kata selingkuh, tapi perzinaan. Dalam hukum Islam orang telah menikah jika berzina, maka hukuman baginya adalah dirajam hingga mati. Sehingga kalau sudah mati tentu tak perlu dibahas berpanjang-panjang.

Pernikahan dalam Islam bertujuan untuk membina keluarga yang mawaddah, sakinah dan rahmah. Sehingga suami sebagai nakroda rumah tangga harus memiliki kriteria. Kriteria yang paling penting adalah jiwa kepemimpinan dan kemampuan memberikan nafkah kepada istri-anak.

Pernikahan dan perceraian adalah syariat yang diturunkan oleh Allah untuk mengatur hubungan manusia. Keduanya termasuk juga syariat yang lain harus didasarkan pada kaedah “Syariat dietapkan berdasarkan hukum bukan berdasarkan hikmah”. Sehingga adalah cara berpikir yang salah jika mengatakan tidak ada masa iddah bagi wanita menoupause karena tidak perlu ditunggu apakah ada janin di dalam rahimnya. Begitu juga pada kasus orang-orang tarekat yang mengatakan “sholat kan untuk mengingat Allah, maka jika saya sudah mengingat Allah maka tak perlu saya sholat”. Tentu argumen meninggalkan syariat dengan bersandar pada hikmah ibadah tidaklah bisa diterima sebagai alasan tidak melaksanakan syariat.

***************************

Kemarin, temanku mengirim sms, “Uda, apa hukumnya perempuan yang menikah saat haid”. Dia begitu khawatir jika tanggal pernikahannya berbarengan dengan tamu bulanan itu. Setelah tanya ke Ustadz Okrizal dan tanya kepada seorang Akhwat dari Negeri Sembilan Malaysia yang ku kenal lewat kunjungannya di blog ini, akhirnya kudapatkan jawaban bahwa “tidak masalah jika seorang perempuan melangsungkan pernikahan saat dirinya masih haid”. Tapi harus diingat, harus nahan sampai suci dulu baru boleh berhubungan.

Duh, postingan ini memang aneh ya. Mengalir kemana-mana. Lebih aneh lagi ditulis oleh yang yang belum pernah merasakan nikah, apalagi bercerai. Tapi ngak pa2. Sekalian mengulang ingatan atas kajian dan beberapa kejadian yang ku temui beberapa hari ini. Kalau ada yang nanya, “Uda, kapan uda akan menikah?”. Buru-buru mau nikah, kuliah aja belum selesai. Buru-buru mau mencintai, yang terjadi sering ditolak perempuan. Ha..Ha..Ha…

Ya, sudahlah. Daripada aku terus ngawur, ku tutup saja postingan ini. Ntar kalau ada ide lagi, aku pasti akan nulis lagi. Buat pengunjung setiaku, tunggu ya postinganku selanjutnya….he..he..he…