Kemarin siang, kuliah bersama Pak Abbas Hamami diliburkan karena yang datang cuma saya sendiri. Setelah membagi makalah Metafisika yang kusangka akan disampaikan pagi ini (ternyata g jadi diundur minggu depan), segera kusabangi masjid kampus UGM. Gerimis masih turun, tapi setelah sholat Ashar segera ku tancap gas ke perpustakaan UGM II untuk mencari buku yang terkait pandangan orang Minang terhadap Metafisika.

Entah kenapa sore itu hatiku tergerak untuk naik ke lantai III menyambangi Perpustakaan Bung Hatta. Tampak sunyi, tiada pengunjung. Yang ada cuma dua orang petugas jaga. Kutelusuri tiap deret rak yang berjejer dari timur utata ke selatan. Ternyata buku-buku yang ada luar biasa bagus-bagus. Banyak buku-buku dan ensiklopedi yang teramat layak untuk dibaca. Berbagai macam bahasa, Indonesia, Cina, Inggris, Jerman, Arab. Yang mencenggangkanku adalah ada belasan jilid tafsir Ath Thabari di antara buku-buku yang telah banyak lusuh itu.

Sangat disayangkan memang, perpustakaan yang memiliki koleksi yang luar biasa seperti Perpustakaan Bung Hatta sangat sepi dikunjungi. Karena apa, saya juga tak tahu. Belum cukupkah nama besa Bung Hatta untuk menarik minat orang untuk mengunjugi perpustakaan ini?

Sore ini hujan belum jua berhenti. Padahal sudah dari siang tadi. Kerongkongan mulai sakit, tak tahu apa penyebabnya? Pikiranku kalut benar, tak tahu berbuat apalagi. Aku jadi gila lagi. Tuhan, tolonglah daku….