Entah apa makna mimpiku pagi ini. Bertemu kembali dengan seorang sahabat yang sudah menolak diriku, bertemu dengan seorang kader yang rasanya benci denganku, dalam sebuah acara yang prestisius di IMM, Darul Arqam Dasar. Ketika aku mencoba melupakan masa lalu tiap itu juga mimpi-mimpi aneh seperti ini hadir.

Wallpaper komputerku saat ini dihiasi foto Kak Siti Nurhaliza. Setiap kali menghidupkan komputer, wajahnya hadir. Foto ketika Kak Siti tersenyum. Sebuah senyuman yang mengingatkanku pada seseorang. Senyum yang teramat manis.

Kemarin malam sempat juga kukirimkan sebuah sms kepada orang-orang spesial dalam hidupku. Sebuah sms yang berisikan protes. “Jika manusia bisa memilih, tentu ia akan meminta kepada Allah untuk dilahirkan dalam keadaan yang sempurna. Wajah yang menawan, Harta yang berkecukupan, Keluarga yang berkedudukan”. Sms ini terinspirasi ketika siang kemarin saat hendak ke kampus ku temui sepasang suami-istri yang buta bersama anaknya berjalan meraba-raba yang di pinggir jalan kaliurang. Dari kejadian ini aku mengerti mengapa penggugat keTuhanan tetap eksis. Karena persoalan yang pelik untuk dijawab terkait ke Maha Baik dan Maha Adil Tuhan adalah terkait masalah penderitaan dan kejahatan.

Namun, bukankah hidup sendiri adalah pemberian. Kita tidak pernah minta dihidupkan tapi serta-merta lahir dalam kondisi yang tidak kita tahu sebelumnya. Kita harus dituntut untuk memahami kehadiran kita di dunia serasa berbuat baik sebatas kemampuan yang kita miliki. Dan akhirnya perjalanan di dunia juga akan berakhir menuju tempat pertanggungjawaban.

Protes yang disampaikan seorang pengunjung di blog ku ini bisa jua ku jawab. Kenapa orang cendrung kepada yang cantik. Saya pikir itulah adalah naluriah manusia. Namun, gejala ini menjadi kental karena pandangan dunia yang saat ini sangat materialistik. Pada suatu titik manusia akan sadar bahwa kelebihan fisik tidaklah segala-galanya. Tapi sering kali keinsyafan itu datang di akhir. Makanya Ayahku menasehatkan, agar hidup terasa nyaman dan tentram yang perlu dikedepankan adalah rasa qona’ah, merasa cukup dengan apa yang Allah telah anugerahkan.

Udahan dulu ya, masih banyak tugas yang harus kukerjakan. Agaknya aku harus mengakhiri menulis blog ini dulu. Ntar disambung lagi..he..he…