Berselancar g jelas di internet malam minggu yang lalu mengantarkanku baru tidur jam 1 dini hari. Syukurlah paginya aku masih bisa bangun saat azan shubuh dikumandangkan. Besihin ruang baca asrama sebentar, habis tu langsung cabut ke Masjid Kampus UGM. Dah rindu sama Ustadz Ridwan Hamidi. Sebenarnya yang paling krusial adalah jiwa memang saat itu sangat butuh sekali siraman rohani dari kata-kata Ustadz yang penuh inspiratif lagi lemah lembut itu. Yang dibahas adalah tafsir surat Al Qolam ayat ke 3. Luar biasa untuk menafsirkan satu ayat Ust Ridwan merujuk pada lebih dari 10 buku Tafsir. Dalam sesi tanya jawab, ada sebuah pertanyaan yang menarik terkait kontekstualitas tafsir. Ada orang yang mengatakan untuk zaman sekarang kita harus membuat tafsiran baru dikarenakan zaman Ibnu Katsir, Ath Thabari, Asy Syaukani dan para ahli tafsir lainnya berbeda dengan keadaan kita sekarang. Ustadz menjawab, seringkali orang yang mengungkapkan pernyataan di atas adalah orang yang tidak mengerti masalah tafsir. Mereka hendak menyembunyikan kebodohannya tentang metodologi tafsir dengan mengatakan harus ada tafsiran baru yang berbeda dengan tafsiran para ulama terdahulu. Karena kesulitan menghafal alqur’an, tak mengerti ushul tafsir, hanya sedikit tahu bahasa Arab, akhirnya mereka berkilah dengan kekurangan yang dimiliki. Pernyataan ustadz Ridwan ini tak lama untuk dibuktikan. Ketika mengikuti seminar Globalisasi dan Islam di PP Muhammadiyah yang salah satu pembicaranya adalah Prof. Dr. Abdul Munir Mulkan. Kata Prof. Munir, disertasi baru bermutu ketika bisa mengkritisi para ulama terdahulu. Disertasi bisa dikatakan hebat kalau mampu merekonstruksi apa yang pernah dicetuskan oleh Imam Syafi’i.

Terkadang memang banyak orang yang latah. Makanya kata Ustadz Ridwan, kebenaran itu bukan dilihat dari gelar Professor atau Doktor tapi dari apa yang disampaikan. Terkadang orang seringkali sombong dan tak menilik keadaan dirinya. Adakah orang yang sehebat Imam Syafi’i di zaman kita ini sehingga bisa membanggakan diri hendak membongkar kesalahan Imam Syafi’i? Apakah ada orang yang sekaliber Ibnu Katsir sehingga hendak menegasikan tafsir yang telah ditulis oleh Ibnu Katsir? Terkadang orang sok-sok-an hendak berpikir sistematis dan logis dengan mengatakan Ulama-Ulama dahulu mengalami keadaan sosial-politik-budaya yang berbeda dengan kita saat ini, sehingga penafsiran agama sekarang harus berbeda. Buru-buru mereka menawarkan tafsiran yang baru, padahal apa yang berbeda itu tidaklah mereka jelaskan. Postulat keberbedaan itu telah menjadi wilayah yang tidak terjamah karena orang sudah menerima apa adanya. Padahal kalau mau kritis tentu harus ditanyakan balik apa saja perbedaan itu dan terkait dengan masalah apa saja? Sama halnya dengan orang yang mengatakan “Semua agama itu sama”. Hal ini mengindikasi bahwa sang pengujar kalimat ini telah meneliti seluruh agama yang ada dan pernah ada di dunia ini dari dahulu sampai sekarang. Namun yang menjadi pertanyaan, apakah penelitian ini sudah dilakukan sehingga ungkapan tersebut benar secara verifikatif? Ternyata logika kuno Aristoteles masih menjadi patokan orang untuk membuat ungkapan-ungkapan baku yang diterima begitu saja kebenarannya.

Satu hal lagi yang menarik dari ceramah Ustadz Ridwan ahad pagi kemarin adalah terkait “tidak ada hubungannya antara ibadah yang dikerjakan seseorang dengan rizki yang dia terima di dunia”. Betapa banyak orang yang melakukan kemaksiatan tapi rizki yang diberikan Allah lancar-lancar saja. Malahan sebaliknya, orang yang taat beribadah disempitkan rizkinya (materi) oleh Allah. Akupun bertanya-tanya dengan konsep sadaqah yang banyak digalakan oleh beberapa Ustadz akhir-akhir ini terkait dengan reward yang akan didapatkan lebih banyak. Agaknya memang benar saat ini hidup sudah materialistik. Sehingga dengan Allah-pun kita hendak bertransaksi jual beli ibadah. Apakah ini yang dimaksudkan disyariatkan ibadah dalam Islam?

Selesai mengikuti kajian Ustadz Ridwan, kukayuh lagi sepeda mini yang akhir-akhir ini jarang kupakai karena sudah dibelikan motor oleh Ayah, menuju P.P Muhammdiyah. Jam setengah aku sudah sampai. Ruangan seminar masih sepi. Barulah jam 9.30 acara dimulai. Diawali pembacaan Alqur’an oleh Mas Chanif Ihsan, pembukaan lumayan panjang dari ketua Panitia Seminar, dan sambutan dari Ketua IMM UGM Mas Malik, barulah seminar dimulai jam 10 lebih. Seperti yang kusebutkan tadi salah satu pembicaranya adalah Prof. Abdul Munir Mulkan yang terkenal dengan kekritisannya terhadap ajaran-ajaran Islam terutama yang dia labeli sebagai poros Islam Konservatif-Fundamentalis. Aku teringat dengan perkataan Ust. Ridwan betapa banyak orang ingin penafsiran baru, tapi tak paham ilmu Quran. Itulah yang kulihat pada Prof. Munir. Betapa sulitnya beliau untuk menyampaikan satu ayat karena tidak hafal. Di sesi pertama sampai dzuhur ini aku lebih banyak ngantuk karena tidak mendapatkan sesuatu yang mampu menjernihkan pikiranku. Baru setelah sesi kedua dimulai, syaraf-syarafku disentakkan dengan uraian singkat dan padat dari Ketua KPID Yogyakarta dan Bapak Dr. Haedar Nasir.

Mas Rahmat Arifin, Ketua KPID Jogja yang masih muda itu mengungkapkan bahwa pada tahun 2015 pemerintah akan memberlakukan sistem TV digital. Saat kita masih menikmat saluran TV Analog. Dengan sistem digital maka satu kanal yang saat ini hanya bisa menampung satu televisi, menjadi 15 chanel TV tiap kanal. Sehingga 16 kanal yang ada saat ini jika dikalikan 15 stasiun TV maka berjibunlah program dan acara yang menyinggahi rumah kita. Program digitalisasi ini memiliki 2 persoalan yakni masalah tingkat perekonomian masyarakat karena mesti menganti TV atau menambah perangkat yang connect dengan sistem yang baru, dan persoalan kemampuan masyarakat untuk menfilter siaran dan informasi yang masuk lewat TV. Namun, ada satu hal yang menarik, meskipun saat ini kita telah disuguhi oleh berbagai macam chanel TV, ternyata terjadi minimalisasi kepemilikan TV. Group Bakrie misalnya menguasai AN TV dan TV One. MNC membawahi RCTI, TPI, TV Global. Yang terjadi adalah adanya dilematis antara demokratisasi media dengan monopoli informasi oleh para pemilik TV yang tentunya memiliki agenda tersendiri dalam penguasaannya terhadap media.

Sementara Pak Haedar memberikan pesan teramat penting dalam rangka revitalisasi organisasi Mahasiswa. Pertama, organisasi mahasiswa harus mampu mengembalikan dirinya sebagai gerakan intelektual yang otonom bebas dari cengkraman dan pengaruh partai politik. Sebagaimana yang telah umum dikenal ada organisasi mahasiswa yang menjadi underground dari partai politik tertentu. Sehingga mau tak mau kepentingan partai mewarnai langkah pergerakan organisasi itu. Kedua, organisasi mahasiswa harus kembali berfungsi dalam pemberdayaan masyarakat. Jika dua hal ini dilakukan maka harapan untuk mengembalikan posisi mahasiswa yang dahulu begitu dikagumi dan dihormati masyarakat bisa dikembalikan.

Pikiran linear yang menganggap hanya melalui saluran parpol saja perubahan masyarakat bisa dilakukan agaknya sudah dikritisi oleh teori politik modern yang menyatakan kekuatan parpol dan ormas sama-sama kuat dalam mengiring masyarakat menuju arah yang lebih baik. Malahan peran ormas lebih penting dan strategis karena memiliki tujuan jangka panjang, berbeda dengan parpol yang cendrung pragmatis merebut kekuasaan.