Kebijakan Struktural Muhammadiyah Minangkabau


MINANGKABAU dahulunya adalah kawasan budaya di Nusantara yang sangat responsif terhadap paham dan gerakan Muhammadiyah. Realitas demikian dapat dilihat dari saat sahabat KH. Ahmad Dahlan, yaitu Inyiak Rasul, membawa paham Muhammadiyah ke Minangkabau pada tahun 1925, seiring dengan dibentuknya Cabang Muhammadiyah yang pertama di Sungai Batang, Maninjau.

Dr. Abdul Karim Amrullah alias Inyiak Rasul dapat disebut sebagai bapak spritual Muhammadiyah Minangkabau, tapi uniknya, beliau sendiri tidak pernah menjadi anggota gerakan ini. Dalam tempo yang relatif singkat, gerakan ini mulai tersebar dan dan menggenang di seluruh Sumatra Barat (Minangkabau).

Sebuah pertanyaan, kenapa Muhammadiyah terasa jinak secara sosial dan politik di Minangkabau? Serjana C.C Berg mengatakan, Muhammadiyah di Minangkabau tidak semata-mata gerakan sosial, tapi juga terlibat dalam kegiatan politik. Dalam peta sosiologis Minangkabau, dipayungi oleh empat golongan yang dominan: ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, manti dan dubalang.

Buya Hamka menyatakan, manakala cabang Muhammadiyah berdiri di suatu nagari, keempat unsur itu pasti terlibat di dalamnya. Pada masa awal berdiri, tidak seorang juga pun pegawai negeri yang terlibat di dalamnya. Dengan kata lain, Muhammadiyah kebanyakan tersusun dari kepemimpinan orang yang merdeka.
Pada masa itu, sebelum tahun 1950, Muhammadiyah amat kuat dan segalanya terkendali di bawah naungan Muhammadiyah, banyak pemimpin yang dilahirkan dari gerakan nasional yang diagendakan Muhammadiyah. Mereka dilahirkan merdeka, dilatih dan dibimbing untuk memerdekakan bangsa. Pada waktu itu, pergerakan politik Muhammdiyah banyak diaspirasikan di sebuah partai yaitu Masyumi, itu makanya, pada saat itu sulit sekali membedakan aktifis Muhammadiyah dan Masyumi.

Muhammadiyah pada saat itu sangat aspiratif dan konsekwen dipimpin oleh orang-orang yang merdeka, dan tak terikat dalam ikatan pegawai negri. Tapi hal itu sangat jungkir balik dengan kepemimpinan dan struktural Muhammadiyah pada saat ini, Muhammadiyah kebanyakan dipimpin oleh orang yang terbelenggu dalam sebuah ikatan pegawai kepemerintahan, sehingga kemerdekaan waktu dan kepemimpinan sangat sedikit untuk Muhammadiyah.

Akibatnya, kepemimpinan dan kebijakan Muhammadiyah mulai surut. Ada juga kita lihat pada saat ini, banyak kesadaran orang-orang merdeka mulai terhambat oleh angan-angan yang tak jelas, mereka ingin berkedudukan dalam dunia politik, akan tetapi kesempatan yang besar ia salurkan dengan memakai baju Muhammadiyah, itu makanya, kemunduran Muhammadiyah di Minangkabau sangat drastis, sehingga kesejukan Muhammadiyah pada saat ini berubah menjadi pemanasan lokal bagi Umat di Sumatra Barat.

Kepemimpinan Muhammadiyah di Padang Panjang, agaknya, bisa kita jadikan sebagai contoh kasus. Dahulu, kepemimpinan para tokoh Muhammadiyah di sana sangat diperhitungkan. Mereka dikenal sebagai tokoh yang aspiratif, istiqamah dan merdeka. Muhammadiyah di daerah itu dipimpin oleh orang-orang merdeka dan disegani. Kini realitas menunjukkan sebaliknya. Para pegawai negeri dan orang-orang yang tidak merdeka sangat dominan dalam struktur kepengurusan. Mereka tidak hanya mengurus Muhammadiyah, tetapi juga jadi ‘anak buah’ pemerintah.

Nampaknya, segenap elemen yang ada di lingkungan Muhammadiyah harus mau berkaca. Mencermini realitas yang dihadapi saat ini. Kalau pengurus Muhammadiyah sudah tidak disegani lagi karena posisinya yang tidak merdeka dan ‘anak buah’ orang, apalagi yang bisa diharapkan untuk menegakkan kewibawaan Muhammadiyah. Semoga dapat dijadikan bahan renungan dan ditindaklanjuti dengan cara-cara yang bijaksana. Alangkah indahnya jika Muhammadiyah kembali diurus oleh orang-orang merdeka seperti KH. Ahmad Dahlan. Merdeka dari segi waktu, harta dan jiwa.

Oleh: Indra Jaya (Alumni Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah Padang Panjang)

Sumber: Harian Singgalang Sumatera Barat Edisi Jumat, 14 November 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s