1. Pembuktian Ontologis

“Pembuktian ontologis” eksistensi Tuhan adalah salah satu usaha untuk membuktikan eksistensi Tuhan yang paling termasyur dan kontroversi. Banyak filosof besar membahasnya. Orang yang pertama kali mengemukakan hal ini adalah Anselmus dari Canterbury (1033-1109), seorang biarawan Benediktin yang menjadi abbas (pemimpin) biaranya dan kemudian menjadi Uskup Agung di Canterbury di Inggris.

Argumentasi Anselmus, “Allah adalah pengada yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih besar daripadanya” (id quo majus cogitari nequit). Namun, “sesuatu yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang lebih besar daripadanya” tentu bereksistensi dalam kenyataan dan bukan hanya dalam pikiran, karena kalau eksistensinya hanya dalam pikiran orang yang memikirkannya, maka tentu ada sesuatu yang lebih besar yang dapat dipikirkan daripadanya yaitu “yang nyata-nyata ada di luar pikiran”. Maka, mengingat kita dapat memikirkan Tuhan sebagai “sesuatu yang tidak dapat dipikirkan sesuatu yang besar daripadanya”, mala Tuhan mesti bereksistensi dalam kenyataan. Jadi eksistensi Tuhan tidak dapat disangkal. Pemikiran ini bertolak dari logika pemikiran.

2. Dari Realitas Terbatas ke Realitas Mutlak (Pembuktian Kosmologis)

Sesuatu yang mutlak adalah sesuatu yang ada karena dirinya sendiri dan bukan sesuatu yang yang lain. Pemikiran ini bertolak dari sebuah realitas, realitas alam raya. Gagasan ini ditopang oleh tiga gagasan dasar:

1) Ditegaskan bahwa kalau ada sesuatu, maka harus ada “yang mutlak”

2) Diperlihatkan bahwa segenap realitas yang berubah-ubah tidak mungkin mutlak.

3) Ditarik kesimpulan bahwa selain realitas yang berubah-ubah mesti ada yang lain lagi, “yang mutlak”, yang tidak sama dengan realitas yang berubah-ubah itu.

3. Keterarahan Alam (Pembuktian Teleologis)

Jalan pembuktian Tuhan ini bertolak dari keterarahan yang merupakan ciri khas alam semesta di mana manusia hidup di dalamnya. Argumentasi keterarahan alam dapat disusun menjadi 5 tahap:

1) Dalam alam terdapat proses-proses yang terarah ke suatu tujuan.

2) Keterarahan itu tidak dapat dijelaskan sebagai kejadian kebetulan.

3) Apabila proses-proses itu bukan kebetulan, proses-prosen itu adalah hasil pengarahan.

4) Maka proses-proses terarah dalam alam semesta menunjuk pada realitas yang mengarahkan.

5) Realitas itu adalah apa yang disebut Tuhan.

4. Pernyataan dan Apa yang Termuat di Dalamnya (Pembuktian Antroposentris I)

Pengalaman adalah titik tolak manusia dalam pencarian jejak-jejak Tuhan berkorelasi dengan kemampuan manusia untuk membuat pernyataan mutlak. Pernyataan mutlak ini bukanlah silogisme, melainkan eksplisitasi dan pendalaman suatu kesadaran yang menunjukkan diri. perjelasan tentang argumen ini dapat dipahami sebagai berikut:

1) Manusia mampu menyatakan sesuatu dengan mutlak.

2) Kemampuan ini menunjukkan bahwa manusia selalu sudah bergerak dalam suatu cakrawala kemutlakan.

3) Cakrawala kemutlakan itu bukan suatu keterbukaan kosong, melainkan realitas transenden nyata.

4) Realitas transenden nyata itu bukan objek pengetahuan manusia, melainkan syarat kemungkinan bahwa manusia membuat pernyataan (mutlak), jadi disadari secara transendental dalam setiap kali manusia membuat pernyataan (mutlak).

5) Maka dalam segenap pernyataan (mutlak) yang dibuat manusia selalu diandaikan dan dibenarkan, eksistensi realitas transenden sebagai syarat kemungkinan pernyataan itu.

5. Kebebasan Manusia dan Implikasinya (Pembuktian Antropologis II)

Tindakan adalan perpanjangan dan pernyataan kehendak manusia. Manusia bertindak dengan memilih di antara berbagai kemungkinan untuk menjawab situasi yang menantangnya, di mana “memilih” berarti “menghendaki” atau “menentukan diri”. Perjalanan manusia dari kebebasan dalam bertindak terhadap objek-objek terhingga menuju realitas yang tak terhingga dapat dirumuskan sebagai berikut:

1) Setiap pilihan tindakan menunjukkan kebebasan manusia.

2) Dengan demikian, setiap pilihan tindakan terarah pada sesuatu yang tak terhingga.

3) Cakrawala Keterarahan ke yang tak terhingga itu bukan keterbukaan kosong, melainkan realitas transenden nyata.

4) Realitas transenden nyata itu bukan objek pengetahuan manusia, melainkan syarat kemungkinannya, jadi disadari secara transenden dalam segala kesibukan rohani.

5) Maka dalam segenap pilihan tindakan yang dilakukan manusia selalu diandaikan dan dibenarkan, eksistensi realitas transenden sebagai syarat kemungkinan pilihan tindakan itu.

6. Manusia Mencari Makna Akhir (Pembuktian Antropologis III)

Titik tolak pembuktian ini adalah kenyataan bahwa manusia tidak dapat melakukan sesuatu apapun kalau tidak bermakna baginya. Dari makna suatu perbuatan kita akhirnya dibawa ke pertanyaan tentang maknan eksistensi kita sendiri. Apa yang membuat eksistensi manusia menjadi sesuatu yang berarti, positif, membahagiakan? Penelusuran pertanyaan ini membawa manusia pada kesadaran bahwa dalam pengalaman makna, manusia mengalami diri di-iya-kan dan dicintai secara mutlak. Jadi eksistensi manusia didukung oleh realitas mutlak personal yang ternyata meminati manusia, daripadanya manusia menerima diri sebagai anugerah. Gagasan ini dapat dirumuskan dalam kerangka berikut:

1) Manusia hanya dapat berbuat sesuatu apa pun apabila perbuatan itu berarti sesuatu baginya.

2) Suatu perbuatan hanya dapat berarti sesuatu bagi manusia, apabila seluruh eksistensinya bermakna baginya.

3) Eksistensi manusia bermakna bagi dirinya karena berdasar dalam suatu makna mutlak menyeluruh.

4) Makna mutlak menyeluruh itu tak lain kenyataan bahwa manusia diiyakan dan diminati tanpa syarat.

5) Artinya, dalam pengalaman makna eksistensinya manusia bersentuhan dengan Kenyataan Mutlak personal, dasar eksistensinya, yang mengiyakannya, dan itulah yang disebut Tuhan.

7. Manusia Berhadapan Tuntutan Mutlak dalam Kesadaran Moral (Pembuktian Antropologis IV)

John Henry Newman (1801-1890), seorang teolog dan kardinal Inggris Raya menunjukkan bahwa suara hati (conscience) adalah tempat manusia bersentuhan dengan realitas Ilahi. Menurut Newman, dalam suara hati, manusia menyadari bahwa ia berkewajiban mutlak untuk melakukan yang baik dan benar, serta menolak yang tidak baik dan tidak benar. Suara hati bagaikan panggilan dari suatu realitas personal yang berkuasa atas diri manusia, yang kalau manusia mengikutinya, membuat ia merasa bernilai, aman, dan bersedia untuk menyerah.

Pandangan ini juga dapat ditemui pada Immanuel Kant. Bagi Kant, kesadaran moral manusia tidak dapat dimengerti kalau tidak ada Tuhan/

Kesadaran moral menunjuk pada Allah dapat diuraikan dalam enam langkah:

1) Manusia berkesadaran moral (yang berarti manusia memiliki suara hati).

2) Dalam kesadaran moral, manusia sadar bahwa ia mutlak wajib untuk memilih yang benar.

3) Kesadaran itu berakar dalam hati nurani, yaitu dalam kesadaran di dasar hati manusia bahwa ia wajib mutlak untuk memilih yang baik, jujur, adil dan sebagainya serta menolak yang tidak baik, tidak jujur, dan tidak adil.

4) Kesadaran akan kewajiban mutlak ini berasal dari dunia luar, tidak dari diri manusia sendiri.

5) Melainkan kesadaran itu disadari secara langsung oleh manusia sebagai jawaban terhadap suatu tuntutan dari sebuah realitas yang dihadapi, dimana manusia tidak dapat lari daripadanya, dimana sikap terhadap hal itu menentukan mutu sebagai manusia.

6) Realitas itu bersifat mutlak, personal, dan suci. Itulah yang disebut Tuhan.

Referensi:

  • Suseno, Franz Magnis. 2006. Menalar Tuhan. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.