Hari ini kumulai dengan dengan sholat shubuh berjama’ah di masjid samping asrama. Seperti biasa, tiap jum’at Imam akan membaca surat As Sajadah untuk sujud tilawah. Baca Qur’an sebentar untuk kemudian menghadapi komputer demi menyelesaikan tugas kuliah.

Jam 7.30 kuliah Metode Penelitian Filsafat dimulai. Ini adalah pertemuan pertama setelah mid semester. Dalam kuliah yang membutuhkan konsentrasi penuh itu, Pak Heri Santoso (dosen yang mengajar mata kuliah ini) menyempatkan juga memberikan kata-kata motivasi bagi mahasiswa. Kata Pak Heri, “sesungguhnya tidak ada mahasiswa yang bodoh, tetapi yang ada hanyalah dosen yang tidak mampu membuat mengerti mahasiswanya”. Ungkapan Pak Heri itu pernah juga terlintas dalam benakku. Menurutku tugas dosen yang paling utama adalah membangkitkan semangat mahasiswa untuk belajar. Karena kalau transfer ilmu saja agaknya cukup dengan merekomendasikan referensi-referensi yang harus dibaca. Namun, semangat mahasiswa untuk kuliah hancur lebur karena penyakit malas. Semua hal yang sulit bisa dipecahkan kalau kita menganggapnya sebagai tantangan dan mau untuk bersusah-susah. Sebagai mahasiswa selain belajar dengan keras, juga harus belajar dengan cerdas, sehingga ada progres yang jelas dari waktu ke waktu. Kecerdasan tentu juga ditunjukkan dengan keruntutan dalam berbicara. Karena ungkapan bahasa menggambarkan keadaan logika berpikir seseorang.

Jam 9 lebih sedikit kuliahpun usai. Langsung saja ku tancap gas ke asrama, karena masih ada tugas yang menanti. Setelah makan pagi (bukan sarapan, karena ini dalam porsi yang besar), ku mulai mengetik tugas Filsafat Ketuhanan yang dikumpulkan jam 13.30. Perkuliahan Filsafat Ketuhanan hari ini diisi dengan diskusi tentang konsep ketuhanan dalam Islam. Meski ngalur-ngidul tapi berhasil juga menghabiskan waktu 1 jam.

Adzan di Masjid Kampuspun berkumandang. Awan hitam semakin lama menghiasi langit. Di tengah-tengah sholat hujan lebat diiringi angin kencang. Semakin kencang hingga membuat hati kecut. Ketakutkan akan bencana dan musibah yang akan menimpa. Dentuman-dentuman keras makin mengkalutkan hati. Namun, ada dapat jua hati ditenangkan karena bersandar kepada Allah. Keangkuhan di ruang kuliah yang “semena-mena” berbicara tentang Tuhan, serta merta pupus. Meski beberapa filsuf Atheis mengatakan keyakinan manusia kepada Tuhan tidak lain karena gangguan jiwa saja, terbang begitu saja, karena murka Tuhan memang benar-benar menakutkan.

Setelah menanti hujan reda selama setengah, akhirnya ku jalankan motor untuk pulang. Tampak jalanan macet. Pohon-pohon di sekitas UGM banyak bertumbangan menghambat jalan dan menghantam bangunan. Angin yang deras telah menyapu genteng-genteng atap beberapa bangunan. Menakutkan memang. Namun beberapa pandangan kontras tampak di jalan. Pasangan muda-mudi masih saja tertawa dan mengumbar kemesraan seolah tak terjadi apa-apa. Yang lain tampak memotret bangunan yang rusak dan pohon yang tumbang dengan kamera dan hp. Di perempatan Mirota Kampus mobil dan motor berjejer panjang karena lampu lalu lintas padam. Hanya beberapa sukarelawan yang berinisiatif mengatur laju kendaraan.

Barusan Adikku dari kampung menelpon. Terjadi angin puting beliung disertai hujan di UGM telah disiarkan lewat running text di televisi. Alhamdulillah meski aku berada di UGM sore tadi, tapi aku masih diselamatkan oleh Allah dari kecelakaan diri dan musibah. Sesampai di asrama, suasana yang kontras kutemui. Jika di UGM orang sangat sibuk berlalu-lalang di tengah kerusakan yang ditinggal angin putting beliung, di asrama adem-ayem saja. Tak pohon yang tumbang dan orang-orang masih juga sempat berolahraga.

Aku teringat sms dari seorang teman spesial yang dikirimkan kemarin malam. “Tiada sehelai daunpun yang jatuh melainkan karena kehendakNya. Apa yang diberikan maupun yang tidak diberikan olehNya adalah yang terbaik untuk setiap hambaNya”. Sms yang dikirim untuk menenangkan hati saat gelisah jika malam datang menjelang.