Hari dimulai jam 4.30. Cukup telat untuk menghadiri sholat shubuh berjama’ah. Menyesal juga. Mungkin karena kemarin baru bisa tidur setelah jam 12 malam, akhirnya telat untuk bangun. Jam 06.20, kupacu Honda Grand yang dihadiahkan Bapak di akhir Ramadhan yang lalu. Mengejar jadwal kajian Kamis pagi di PP. Muhammadiyah. Berhubung Ustadz Dr. Yunahar Ilyas, Lc. M.A masih dalam tugas di Saudi Arabia, kembali Ustadz Syakir Jamaludin, M.Ag yang mengisi ceramah.

Kajian yang disampaikan oleh Ust. Syakir terkait dengan kaifiat sholat terutama masalah seputar sujud. Uraian Ust. Syakir membuatku semakin meninggalkan tata cara yang dulu pernah ku pelajari di Salafi. Pertama terkait dengan “Apakah ketika hendak berdiri dari sujud kedua saat raka’at ganjil langsung saja berdiri ataukah duduk sebentar dulu? Menurut Ust. Syakir (yang tentu diuraiakan juga hadist seputar masalah ini, tapi tidak dapat saya tampilkan karena pengetahuan saya yang terbatas dalam bidang hadist) dibolehkan untuk langsung berdiri setelah sujud kedua. Namun, duduk sebentar sebelum berdiri lebih dianjurkan. Persoalan kedua, apakah ketika akan bangkit dari sujud tangan dikepalkan ke lantai ataukah cuma ditekankan saja bagian dalamnya ke lantai? Berdasarkan penelitian beliau, hadist yang mengungkapkan dikepalkan berdasarkan pada perkataan ‘ajin (pembuat roti). Namun, hadist iini dikategorikan oleh ulama hadist sebagai hadist yang tidak ada asalnya. Jadi ketika bangkit dari sujud yang lebih kuat adalah menempelkan tangan yang terbuka ke lantai tanpa membuat tinju (mengepalkan). Permasalahan ketiga yang dibahas adalah apakah ketika sujud kedua paha dan kedua tumit ditempelkan (didekatkan)? Menurut Ust. Syakir yang lebih kuat dalilnya adalah merenggangkan kedua paha dan tumit kaki dengan jarak yang sewajarnya.

Jam 07.15 ku tinggalkan majelis pengajian karena harus segera kuliah dengan Pak Joko Pitoyo yang tak akan membolehkan masuk mahasiswa yang terlambat. Kuliah Metode-Metode Filsafat hari ini membahas David Hume, seorang Filsuf Empirisme yang dilahirkan di Edinburg Scotlandia pada tahun 1711 Yang menarik dari uraian Pak Joko adalah adanya justifikasi bagi sholat 5 waktu pada agama Islam dengan teori eksprimental Hume. Menurut Hume, pengetahuan masuk ke dalam diri manusia lewat gerbang “pencerapan” (penginderaan). Yang ditangkap oleh indera adalah kesan-kesan (impresi) yang kemudian disimpan di dalam memori (ingatan). Kekuatan memori untuk menyimpan pengetahuan yang dirumuskan dalam bentuk definisi dalam pikiran manusia sangat terbatas. Seiring dengan waktu pengetahuan dalam memori memudar dan hilang. Oleh karena itu, untuk mengokohkan memori manusia harus kembali merefresh/memperbaharui impresinya. Sholat dalam hal ini merupakan syariat yang wajib dikerjakan dalam 5 waktu pelaksanaan (kata Pak Hamdan, dosen Bahasa Arabku yang lulusan M.A dari Mesir, Shubuh-Dzuhur-Ashar-Magrib-Isya bukanlah nama sholat, tapi nama-nama waktu) adalah cara yang baik untuk merefresh pikiran manusia untuk selalu dekat dengan “Yang Ilahi”. Oleh karena itu, tidak salah jika sholat dikatakan sebaik-baik dzikir dan wahana yang bisa mengantarkan manusia mencapai kesholehan vertikal dan horizontal lewat keseimbangan hidup “menjauhi yang mungkar dan giat mengerjakan yang ma’ruf.

Jam 10.00, harus masuk kuliah Logika II yang kulewati dengan kantuk yang teramat berat. Setelah sholat dzuhur ku tuntaskan lelah dengan tidur di masjid Kampus UGM. Dan perkuliahan hari ini diakhiri dengan pelajaran Epistemologi yang mendiskusikan pandangan epistemologis Plato dan Aristoteles.

Itulah rangkaian kegiatanku di tengah mendung yang terus-menerus menyelimuti langit Jogja hari ini. Sekarang udah adzan Magrib. Udah dulu ya… Insya Allah nanti disambung lagi…he..he…