Wah, akhirnya online lagi setelah sejak sabtu kemarin speedy di tempatku diputus oleh Telkom. Semangat lagi setelah tadi bisa kuliah lagi, setelah kemarin g ke kampus karena terkurung hujan. Hari ini, aku tersadarkan lagi betapa bodohnya aku, hingga aku bisa banyak belajar lagi. Aku ini aku kembali ditolak oleh seorang akhwat, sebuah tamparan, agar aku terbangun dari lamunan… He2… He2… Apapun yang terjadi, hati haruslah dibuat senang. Biar tak terlalu resah kala tidur malam.

=============================

Kembali ku tuliskan bait demi bait kata dalam lembaran putih ini. Sambil mendengarkan lagu Kak Siti, Jawapan di Persimpangan. Ku tuliskan bait ini ketika hatiku lagi-lagi harus terenyuh karena sms darimu tadi pagi. Kembali kau tegaskan, sulit bagimu untuk membuka hati untukku. Karena kau telah berikrar menunggu seseorang.

Ya Tuhan, kadang aku bertanya dalam sepiku, apakah aku tiada berharga lagi? Untuk mencintai orang yang ku suka saja aku tidak bisa. Tiap kali menerima jawaban penolakan, tiap itu juga kepercayaanku pada cinta semakin pudar. Meski sudah ku cuba bujuk hati dengan membaca novel dan meneruskan kepercayaan, namun rasanya aku tak bisa lagi.

Jawaban di persimpangan ini. Jawaban ketika aku harus berjuang untuk merampungkan kuliah. Sebenarnya aku berharap ketika dia hadir, aku semakin bersemangat. Namun, mungkin Engkau berkehendak lain, Tuhan. Mungkin Engkau ingin aku berjuang dengan semangat dan peluhku sendiri. Dalam kesendirianku, hingga aku tersadarkan akan arti diriku sebenarnya.

Karena perjalanan hidup tiada berhujung. Penggembaraan tiada berakhir. Kesedihan, cobaan, dan sakit yang datang semata hendak menguji segala kekuatan dan kesabaran. Dalam kembara yang penuh debaran ini, ku mohon bimbinglah langkahku Ya Tuhan. Bisa jua ku tahan sakit karena perpisahanan dengan orang yang ku cinta. Tapi tak bisa ku menderita karena Engkau tinggalkan.

Mersi, 4 November 2008 – 08.17

Iklan