Terkait dengan kiprah Taufik Abdullah, agaknya pernyataan yang disampaikan Tarmizi Taher secara simpatik mengungkap bagaimana pemikiran sejarah yang dipahami oleh Taufik Abdullah. “Taufik Abdullah mampu menebar ruh atau nyawa pada kajian sejarah yang disampaikannya kepada umat dan bangsa”. Sejarah Umat Islam Indonesia (salah satu kerja monumental Taufik Abdullah) yang ditulis Taufik Abdullah bersama kawan-kawannya adalah salah satu bukti bagaimana ia dapat memberi roh juang dan jihad pembaharuan dalam setiap pemikiran sejarahnya (Taher, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 7).

Taufik Abdullah mengangap sejarahwan Indonesia masih terbelenggu pada asumsi-asumsi teoritis maupun primordial. Posisi sejarahwan hendaknya netral dan menjaga jarak dari sasaran penelitian sehingga dapat memberi makna objektif terhadao realitas (Taher, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 7).

Kelebihan Taufik Abdullah adalah di sini. Memperbaiki umat atau bangsa dari pengalaman sejarah atau pelaku sejarah win to win. Dikalahkan oleh fakta sejarah, tapi disajikan sebagai pemenang tanpo ngasorake. Dipandang dari segi peranan kaum intelektual, masa Orde Baru, di mata Taufik, terbagi dalam tiga periode. Masa 1966-1974 merupakan periode kreatif-produktif bagi kaum intelektual. Dalam periode ini berbagai masalah strategi pembangunan dibicarakan. Masa 1974-1978 merupakan periode transisi (Taher, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 7-8).

Di sini, dilihatnya ada kecendrungan kaum teknokrat makin dihargai. Yang dihargai, bukan gagasan mereka, tetapi pelaksanaannya. Periode 1978 hingga akhir Orde Baru, peranan intelektual semakin diambil oleh penguasa. Akibatnya, kesegaran berpikir berkurang, dan eksesnya merangsang untuk bertindak radikal (Taher, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 8).

Sejarah memang butuh analisis kritis dan diberikan secara lebih menarik, kalau tidak maka sejarah itu hanya akan menjadi fosil-fosil yang tak bernyawa. Taufik Abdullah melihat sejarah pergulatan inteletualisme Islam di Indonesia tampak kompleks dan setiap arus sejarah dan dinamika memiliki karakter intelektualismenya yang relatif distingtif (Taher, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 8).

Teori Taufik Abdullah tentang dinamika sosial dan intelektual Islam di Indonesia berawal dari gelombang penyebaran awal Islam di Nusantara ketika Islam telah “lulus ujian” menghadapi pemikiran Persia, Hellenisme, India, dan lain-lain. Gelombang ini disebut Taufik Abdullah sebagai “ dunia fana yang kosmopolitan”. Kedua, “Islamisasi realitas”. Ketiga, gelombang akselerasi ortodoksi, khususnya melalui “proses ortodoksi fikih”. Keempat, gelombang modernisme dengan intelektualisme bercorak politik dan pan Islamisme; dan kelima gelombang neo-modernisme modern (Taher, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 8).

Menurut Jacob Oetama, Prof. Taufik Abdullah boleh dikatakan sebagai sejarahwan yang memusatkan perhatiannya di bidang sejarah pemikiran. Berbeda dengan filsuf Michel Foucoult dengan “arkeologi pemikiran” –nya, pendekatann sejarah Taufik Abdullah lebih menukik pada metafisika di balik fakta. Kita kutip salah satu pernyataannya: “sejarah adalah discourse berita pemikiran”. Sumber sejarah itu banyak tapi tidak pernah lengkap. Sejarahwan menemukan banyak kejadian dan banyak fakta. Sejarawan menuliskannya. Yang pertama-tama dilakukan adalah menciptakan fakta. Fakta itu dikumpulkan, disusun, direkonstruksi menjadi peristiwa. Peristiwa ibarat satu badan yang dipotret, bisa dari depan, dari samping, dari belakang. Sejarahwan memilih angle, menunjukkan manakah yang dia pentingkan. Begitu sejarah ditulis, sifatnya menjadi discourse berita pemikiran (Oetama, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 14).

Sejarah bangsa Indonesia, menurut Taufik Abdullah, masih terputus-putus. Keterputusan ini harus disambung lewat sebuah historical imagination. Tidak terjerumus sebagai juru tafsir, setiap sejarawan dalam merekonstruksi fakta, tergantung dari imagination historical-nya. Dalam menentukan pilihan tersebut sejarawan sangat dipengaruhi oleh kekayaan data dan perangkat skill yang dimiliki. Oleh karena itu, Taufik merasa perlu melengkapi perangkat ilmu sejarahnya dengan belajar politik, sosiologi dan antropologi. Perangkat ilmu-ilmu sosial itulah yang membuatnya langsung bersentuhan dengan persoalan masyarakat. lewat itu, Prof. Taufik merasa memperoleh urutan waktu, merekonstruksi dan menjelaskannya sebagai berita pemikiran yang sifatnya masih terbuka (Oetama, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 14).

Sifat terbuka mengandaikan kebenaran bagi sejarawan bersifat “sementara”. Padangan dan keyakinan Taufik sejalan dengan Prof. Onghokham. Berita pemikiran itu harus dibongkar, selalu digugat dan pertanyakan, lantas dikonstruksi kembali begitu ada data baru. sejarah yang sifatnya debatable bagi kalangan sejarawan, harus dibedakan dengan sejarah yang sudah diterima/accepted history (Oetama, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 14)

Histografi Prof. Sartono Kartodirdjo memperkaya pandangan menerobos pakem-pakem ilmu sejarah yang telah ada. Bahwa dalam memberi makna, tertutup kemungkinan adanya pengaruh inklinasi, motivasi, dan data yang sekaligus dia rumuskan sejarah sebagai imagination discourse, dan Prof. Taufik Abdullah termasuk sebagau salah seorang murid, ahli waris dan pengembang pemikiran-pemikiran Prof. Sartono mengenai ilmu sejarah (Oetama, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 15).

Menurut Prof. Taufik, kejujuran, integritas dan disertai intelektualitas adalah syarat utama sejarawan. Kejujuran mengandaikan kecerdasa, yakni mengetahui manakah kebenaran yang patut dikemukan, mana kebenaran yang tidak patut dikemukan. Secara tak langsung Prof. Taufik sering mengutip pernyataan Ernest Renan, banyak hal harus diingat tetapi banyak hal harus juga dilupakan; juga Gramsci tentang perlunya cendikiawan-ilmuan memberikan pengetahuan dasar kritik sosialisme, penetrasi kultural dan difusinya bagi gerakan buruh, sesuatu yang menunjukkan komitmen dan peran orang terdidik yang commited secara sosial (Oetama, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 16-17).

Ketika hasil penelitian Snouck Hurgronje tentang masyarakat Aceh dipakai untuk policy kolonialis Hindia Belanda, menurut Taufik, pemerintah Orde Baru pun memanfaatkannya untuk menangani masyarakat dan bangsa Indonesia yang pluaral dan multikulural (Oetama, dalam Sejarah dan Dialog Peradaban: 2005, hal 17).

Apa disampaikan oleh Prof. Tarmizi Taher dan jacob Oetama di atas maka uraian yang mereka berikan terhadap Taufik Abdullah melingkupi sikap seorang sejarawan yang mesti terlepas dari kungkungan asumsi-asumsi teori sejarah yang ada dan mengutamakan sikap jujur, perkembang sejarah Islam di Indonesia, kajian terhadap pergulatan yang dilakukan oleh Orde Baru terkait sejarah, kerja sejarawan yang mesti menukik menemukan metafisika fakta, dan pengaruh Prof. Sartono terhadap konsep sejarah Taufik Abdullah, pengaruh Ernest Renan dan Gramsci dalam perbentukan karakter tanggung jawab seorang ilmuan.

Iklan