Setelah pada pertemuan pertama 16 Oktober, pengajian tafsir Alqur’an tidak bisa dihadiri oleh Ustad Yunahar yang masih berada di Bukittinggi untuk menghadiri pernikahan kemenakan beliau, akhirnya kamis ini 23 oktober Ustadz Yun bisa memberikan pengajian. Pada kesempatan ini, pembahasan telah masuk pada QS. Al Baqarah 221:

221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

(Terkait juga dengan Q.S. Al Muthahanah ayat 10 dan Al Maidah ayat 5). Tema yang diangkat adalah Hukum Nikah Beda Agama.

Pembicaraan ini diangkat karena fenomena yang terjadi di Paramadina beberapa waktu yang lalu dimana terjadi praktek pernikahan beda agama difasilitasi oleh para penghulu di institusi pendidikan yang lagi menanjak itu. Tak hanya menikahkan orang Islam dengan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), namun juga telah masuk pada wilayah orang-orang musyrik yakni Hindu dan Budha. Konon penghulu Paramadina menetapkan tarif 7 juta untuk praktek pernikahan beda agama ini.

Dalam fiqh Islam kafir dibagi menjadi 2: Ahlul Kitab (yaitu, agama-agama samawi sebelum Nabi Muhammad datang) dan musyrik (yaitu, agama-agama yang kitab sucinya dibuat oleh manusia). Terkait dengan masalah ini, laki-laki muslim diperbolehkan menikah dengan wanita ahlul kitab yang baik. Mengenai siapakah wanita ahlul kitab yang boleh dinikahi, para ulama berbeda pendapat:

1. Ahlul kitab yang bertempat tinggal di wilayah muslim atau yang terikat dengan hubungan damai dengan Islam. Namun, tidak boleh menikahi ahlul kitab yang masuk kategori kafir harbi.

2. Ahlul kitab yang tidak menyakini Trinitas dan mengangkat Uzair sebagai putra Allah (pendapat ini dipilih oleh Ibnu Umar). Kaum muslimin di Barat (Eropa-AS) cendrung memilih pendapat ini. Mungkin sebagai bentuk menunjukkan identitas di tengah masyarakat yang majemuk.

3. Tidak ada pembatasan.

Ketika permasalahan pernikahan dengan ahlul kitab sampai kepada Umar bin Khatab, maka beliau mengatakan: terserah bagaimana pengertian tentang ahlul kitab tapi bagaimana dengan perempuan muslimah (fa ‘aina muslimat).

Sementara Majelis Ulama Indonesia pernah mengeluarkan fatwa, “Laki-laki muslim Indonesia tidak boleh menikah dengan wanita ahlul kitab”. Fatwa ini dilandasi kaidah ushul fiqh “saddud syari’ah” (menutup lobang) dan kenyataan bahwa banyak pernikahan beda agama yang tidak mampu mencapai tujuan pernikahan. Dalam Islam laki-laki adalah pemimpin rumah tangga. Sehingga diharapkan bisa mengajak istri masuk Islam dan bisa memutus keturunan ahlul kitab.

Banyak godaan yang melatarbelakangi adanya oknum-oknum yang menjadi fasilitator pernikahan beda agama ini. Dua faktor yang menonjol adalah motivasi uang dan popularitas. Tapi syukurlah, sekarang institusi Paramadina tidak mau lagi melegalkan kegiatan ini, sehingga oknum-oknum tersebut membuka praktek di luar Paramadina.

Untuk konteks muslimah, maka ulama mengatakan tidak boleh bagi mereka untuk menikahi laki-laki ahlul kitab. Hal ini terkait posisi perempuan sebagai makmum dalam rumah tangga. Sebagaimana yang ditegaskan Allah dalam Q.S. Al Muthahanah.