Sedari siang tadi hujan tak kunjung reda. Baru jam 4 sore, suasana sudah kelam. Menginggatkanku kala hujan di kampung dahulu. Hujan deras yang membumbungkan angan. Petir bergemuruh menimbulkan rasa takut mencengkam. Bimbang apakah esok masih akan kembali hadir.

Apa yang dilalui hari ini, hanyalah detik demi menuju perhentian terakhir. sebagaimana yang dikatakan oleh filsuf Yunani kuno, hidup ini ada karena pertentangan kekuatan cinta dan benci. Kadang kala cinta yang menang, kadang benci yang bertahta.

Benar kata Ustadz Ridwan tadi pagi, manusia hanya bisa berencana. Sedangkan yang terjadi sepenuhnya kekuasaan Allah. Hatta satu detik di masa depanpun kita tak tahu akan mengalami hal apa. Sebenarnya sore ini ada kajian tafsir hadist di masjid kampus UGM, tapi apa ayal, hujan semakin deras.

Menatap senyuman Kak Siti, mengingatkanku pada seseorang yang pada tak bisa kumiliki. Begitulah impian. Dia bisa genggam, namun belum tentu dapat diraih.

Malu benar aku dengan gadis itu. Kala aku bermalas-malasan saat hujan ini, dia malahan mengajar privat anak SD. Memang jurusannya di ilmu pendidikan jadi bisa juga jadi persiapan sebelum wisuda. Mesti, dia kehujanan saat pulang selesai mengajar.

Diapun kedinginan. Oleh ku hidangkan teh panas, sambut kedatangannya. Ku siapkan air hangat, biar tak mengigil saat bersihkan badan. Dan ku masakkan untuk sepiring nasi goreng biar hilang lelahnya. Kubaringkan dia di tempat tidur, sambil ku selimuti tubuhnya. Ku tatap lelah wajah lelahnya yang terlelap dalam dinginya malam karena hujan. Duh, begitu besar sayangku padamu duhai bidadari.

Ini hanya angan dalam pikiranku yang terlalu ingin berjumpa denganmu. Duhai gadis yang selalu balas sms-smsku.