Sejarah telah mencatat dengan tinta-tinta berkesan tentang sepakterjang sosok-sosok fenomenal yang dilahirkan dari Ranah Minang. Tidak hanya berkaliber nasional, namun telah pula menembus batas-batas regional bahkan internasional. Salah satu adalah Tan Malaka pemikir Marxisme ulung yang pernah didaulat oleh Komunis Internasional sebagai wakil untuk wilayah Asia Tenggara. Tentu hal ini merupakan pencapaian yang luar biasa bagi anak Hindia Belanda pada masa itu.

Ibrahim, itulah nama yang diberikan oleh orang tuanya ketika beliau lahir 2 Juni 1897 di Pandan Gadang Suliki Payakumbuh. Gelar Datuk Tan Malaka ia dapatkan pada tahun 1912 ketika ia baru saja menyelesaikan sekolah di Bukittinggi (Tempo, 78).Pilihan waktu itu memang teramat berat, menerima gelar adat kaum atau menikah dengan gadis yang telah dipersiapkan oleh sang Ibu. Ibrahim Datuk Tan Malaka lebih memilih menerima gelar adat kemudian berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Rijks Kweekschool pada Oktober 1913 dari pelabuhan Teluk Bayur Padang (Tempo, 28).

Merantau di usia 16 tahun ke negeri yang teramat jauh dari Ranah Minang merupakah suatu pengalaman tersendiri. Bagi anak laki-laki Minang yang sebelum menikah tinggal di surau, merantau seolah-olah suatu keharusan demi menaikan derajat diri dan keluarga. Baik itu melalui peningkatan ekonomi atau lewat pendidikan.

“Ka madang rantau di ulu,

Babungo babuah balun.

Marantau bujang daulu,

Di kampuang Panguno balun.”

(Ke Madang Rantau di Hulu,

Berbunga Berbuah Belum.

Merantau bujang dahulu,

Di kampung berguna belum”)

Itulah pepatah adat yang mengiringi setiap anak Minang yang mengembara, mengadu nasib di rantau orang. Tiadalah begitu iba hati orang tua Minang melepas anak laki-lakinya untuk berlayar jauh. Kenyataan ini adalah kodrat dalam dinamisasi yang berlaku pada masyarakat Minang.

Perjalanan Tan Malaka yang dimulai pada usia 16 tahun itu, telah mengubah nasibnya menjadi orang pelarian karena kejeniusan dan kegigihannya memperjuangkan paham Marxisme untuk diterima oleh bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Mengapa tidak, saat itu pertentangan Marxis dan Kapitalis Barat dengan wajah imperialisme-kolonialisme begitu kuat. Sehingga Tan Malaka sering kali mesti berpindah-pindah untuk menghilang jejak demi menyelamatkan diri dari spionase.

Secara psikologis, Tan Malaka telah melewati masa emasnya di Minang (Lahir-16 tahun). Pada masa inilah pemikiran kritis muncul. “Pemahaman kritis adalah pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber (lisan atau tulisan), dan berpikir secara reflektif dan evaluatif (Desmita; 2006, 161). Kebrilian Tan Malaka yang telah teruji sewaktu Sekolah Guru Negeri untuk guru-guru pribumi di Fort de Kock – Bukittinggi (Tempo, 79).

Lingkungan sangat berpengaruh dalam diri seseorang. Begitu pula bagi Tan Malaka. Hidup sebagai orang beradat yang memperoleh kesempatan menempuh pendidikan kolonial telah menjadikan dia sosok yang istimewa. Polesan orang tuanya melalui internalisasi nilai-nilai keMinangan mendapat posisi yang vital dalam kehidupan Tan Malaka.

Memang benar Ranah Minang beralam permai. Dengan perpaduan bukit-bukit dan lembah-lembah dari gugusan Bukit Barisan membuat sejuk mata memandang dan menentramkan hati yang gelisah. Namun, alam yang indah itu tidak membuat masyarakatnya terbuai. Interaksi dengan dunia luar, persaingan antar suku, dan kehidupan yang egaliter membuat masyarakat Minang terbuka secara dinamis. Hal ini ditunjukkan oleh pepatah adat:

“Sakali aie gadang, sakali tapian barubah”

(sekali banjir besar, sekali tepian berubah)

Artinya kedatangan kebudayaan baru telah membuat alam pikiran orang Minang terus bergejolak untuk melakukan penyesuaian. Tidaklah bibit-bibit pemberontakan intelektual telah tumbuh di jiwa anak-anak Minang.