Alhamdulillah, ni barusan sampai di asrama setelah dari Magrib tadi ke Pondok Pesantren Budi Mulia untuk menghadiri kajian Ust. Adian yang datang ke Jogjakarta malam ini. Meski kajian baru bisa dimulai jam 9 malam (publikasi panitia dimulai jam 18.00), namun hal ini bisa dimaklumi karena Ust. Adian baru sampai di Bandara setelah Magrib. Karena keburuan datang jam 19.00, ya terpaksalah menunggu selama 2 jam.

Acara diskusi spesial ini dimoderatori oleh Zulfi Ifani. Beliau adalah santri PP. Budi Mulia yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM. Dengan stelan baju koko dan berkopiah hitam, salah satu instruktur Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini telah pula menularkan semangat kepada peserta yang awalnya agak jengkel dengan keterlambatan acara yang cukup lama.

Selama kurang lebih 2 jam kajian yang bertema “Pemikiran-Pemikiran Islam Kontemporer dan Masa Depan Peradaban Islam berlangsung”, maka agaknya perlu juga saya sampaikan point-point yang disampaikan oleh Ust. Adian Husaini. Sebenarnya saya ingin memposting dalam bentuk paragraf-paragraf, akan tetapi karena keterbatasan daya tangkap, maka saya cuma bisa menghadirkan penggalan-penggalan saja.

=============================

  • Salah satu misi Freemason adalah membangun persaudaraan universal dengan meletakkan agama sebagai musuh.
  • Keberadaan Freemason di Indonesia bisa dilihat dalam buku “Tarekan Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1704-1962” yang diterbitkan oleh Sinar Harapan. Salah satu agen freemason di Indonesia adalah Ketua BPUPKI Radjiman Djojodiningrat.
  • Islam datang untuk memperbaiki cara menyembah Tuhan yang benar (teknis beribadah) dan menerangkan tentang siapa Tuhan.
  • Manusia sebenarnya bisa mencapai kebenaran dalam batas-batas kemutlakannya.
  • Penyataan “semua agama mengajarkan kebaikan” perlu dikritisi. Hal ini terkait apakah kesimpulan ini sudah beranjak dari studi komprehensif terhadap seluruh agama-agama yang ada di dunia.
  • Kebaikan dalam Islam adalah segala sesuatu yang dianggap mulia oleh syariat dan wahyu.
  • Hipotesis yang mengatakan “semua agama itu sama” (Huston Smith mengatakan: agama dalam wilayah esoterik itu menuju pada satu Tuhan, namun dalam dataran eksoterik hadir dalam beraneka ragam) adalah pernyataan yang perlu diragukan. Hal ini terkait perbedaan yang ada antar agama terletak pada persoalan-persoalan mendasar. Dalam logika dikatakan “sesuatu itu menjadi dirinya sendiri (identik) karena memiliki perbedaan dengan yang lain.
  • Leopold Lewis pernah mengatakan: “No civilization can prosper – or even exist after having last pride and the connection with its own past…”.
  • Salah satu cara yang digunakan orientalis untuk mengaburkan pemahaman umat Islam terhadap agamanya adalah dengan cara memutus pemahaman umat terhadap sejarah Islam yang benar. Contohnya adalah selama ini dalam buku-buku sejarah disebutkan bahwa yang menyatukan nusantara adalah Gadjah Mada pada masa Zaman Majapahit. Padahal yang dilakukan Gadjah Mada merupakan penaklukan dan juga diragukan apakah Majapahit pada saat itu telah menyatukan nusantara. Kalau kita mau jujur, sesungguhnya yang menyatukan nusantara adalah islam lewat bahaya Melayu yang menjadi alat komunikasi utama pada masa itu.
  • Orang Kristen Lutherian pernah memiliki do’a : “Ya Tuhan selamatkan kami dari Paus dan selamatkan kami dari Orang Turki (Islam)”, dikarenakan mereka sangat traumatik dengan kejayaan Turki Ustmani.
  • Dalam penyebarannya, Islam tidak mengubah kata, tapi mengubah huruf. Contohnya: Arab Melayu, Arab-Jawa (Jawi).
  • Kemajuan suatu bangsa tidak ada kaitannya dengan huruf. Hal ini bisa kita lihat dalam kasus negara Cina, Jepang, Korea, dan India.
  • Politik adalah dampak dari massifnya dakwah di masyarakat. Janganlah semata-mata berorientasi pada perebutan kekuasaan politik tanpa mempersiapkan masyarakat. Karena hal ini cuma ajan menimbulkan kekacauan bukan perbaikan. Hal ini bisa kita lihat pada kasus berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Sebagaimana yang ditulis dalam buku-buku sejarah, Kerajaan Islam ini berdiri pada abad ke 13. Sementara Islam sudah masuk pada abad ke 7. Artinya mempersiapkan masyarakat butuh waktu yang lama, bahkan sampai ratusan tahun.