Kak, siapakah yang mampu mengalahkan kehadiranmu dalam perjalanan hidupku? Siapakah yang mampu mengantikan dirimu di hatiku. Hati seorang pemuda yang tersiksa mengharap cinta, yang terobati oleh senyum manismu. Kak, aku ingin bertemu denganmu…

Setelah aku berikrar akan berjuang untuk “Anna Althafunnisa”, aku telah melupakan gadis-gadis yang ku kenal selama ini. Aku telah mengantungkan anganku, jauh di atas awan. Hanya berbekal sebuah keyakinan, tiada yang lain. Karena ku yakin ada “Anna” untukku selain “Anna” yang telah bersanding dengan Khairul Azzam.

Sempat juga aku bertanya, apakah aku pantas mendapatkan sosok sholehah seperti Anna? Tiada yang tidak mungkin kan di dunia ini? Dulu aku ngak yakin bisa kuliah di Universitas sekaliber UGM. Paling cuma bisa kuliah di Unand. Eh, ternyata bisa juga diterima sebagai mahasiswa UGM. Begitu juga dengan mengimpikan Anna. Siapa tahu ada jalan untuk hal itu. Tentu, perlu juga perbaikan diri yang semaksimal mungkin. Karena orang baik tentu untuk orang baik, gadis sholehah untuk pria sholeh.

Tadi pas main futsal di lapangan dekat asrama, tiba-tiba trafo PLN yang berdekatan dengan lapangan meledak. Kayaknya disambar petir, setelah angin yang bertiup begitu kencang. Sontak saja ketakutan menyelubungi. Segera saja permainan dihentikan. Tiba di asrama, sudah gelap. Karena listrik langsung diputus. Perkiraanku pemadaman bisa sampai besok. Tapi alhamdulillah Pak PLN bekerja dengan sigap. Jam 8 tadi listrik sudah normal kembali.

Tadi siang, kuliah perdana Bahasa Palembang pasca liburan lebaran. Ketemu dengan mahasiswi sastra Indonesia yang dulu pernah ku ceritakan. Ketemu dengan Bu Daru lagi. Kelas sempat juga heboh, terkait dengan pemakain kata pemuda, apakah pemuda itu menunjukkan kata tunggal atau majemuk? He..He.. Tadi sempat juga bertanya tentang pengucapan “e” yang ditekan dengan “e” yang dijelaskan. Karena pas kuliah Metode-Metode Filsafat kamis kemarin, Pak Joko mengetesku dalam pengucapan akhiran “me”. Materialisme, Fundamentalisme, Spiritualisme. Awalnya logat Sumateraku dalam pengucapan kata-kata itu diketawain pak Joko karena yang benar adalah dengan “e” yang ditekan. Tapi setelah dicoba untuk kedua kalinya, akhirnya berhasil juga melafadzkan dengan benar. Lumayanlah, ternyata bahasa Indonesia ngak jelek-jelek amat. Karena banyak orang yang berbahasa Indonesia namun struktur daerahnya tidak bisa lepas.

Memang betul perkataan, bahasa menunjukan kepribadian bangsa.  Bangsa yang besar sangat perhatian dengan bahasa.

Kira-kira dengan spirit Kak Siti untuk mendapatkan “Anna Althafunnisa” bisa ngak ya??? Kayaknya memang harus berjuang keras. Harus memperbaiki diri sebaik Kharul Azzam. Ya, dunia ini hadir lewat impian. Kekuatan do’alah yang bisa me-nyata-kan impian yang ada dalam angan. Tiada yang tidak mungkin sebelum kita berusaha.