Kekhususan ilmu dibandingkan pengetahuan terletak pada kemampuan manusia untuk menyadari pengetahuan yang diperolehnya secara spontan dan langsung itu serta membuatnya teratur dalam suatu sistem, sehingga bila orang lain menanyakan, ia bisa menerangkan dan mempertanggungjawabkan. Dengan perkataan lain, pengetahuan-pengetahuan yang telah ada dikumpulkan, lalu diatur dan disusun sehingga masuk akal dan bisa dimengerti orang lain.

Proses sistematisasi pengetahuan menjadi ilmu biasanya melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Tahap perumusan pertanyaan sebaik mungkin.
  2. Merancang hipotesis yang mendasar dan teruji
  3. Menarik kesimpulan logis dari pengandaian-pengandaian.
  4. Merancang teknik men-tes pengandaian-pengandaian.
  5. Menguji teknik itu sendiri apakah memadai dan dapat diandalkan.
  6. Tes itu sendiri dilaksanakan dan hasil-hasilnya ditafsirkan.
  7. Menilai tuntutan kebenaran yang diajukan oleh pengandaian-pengandaian itu serta menilai kekuatan teknik tadi.
  8. Menetapkan luas bidang berlakunya pengandaian-pengandaian serta teknik dan merumuskan pertanyaan baru.

Ilmu adalah sistematisasi, metodis dan logis. Pengetahuan disistematisasikan menjadi ilmu bisa lewata induksi dan deduksi.

Penelitian adalah penyaluran hasrat ingin tahu manusia dalam taraf keilmuan. Penelitian memegang peranan dalam:

  • Membantu manusia memperoleh pengetahuan baru.
  • Memperoleh jawaban suatu pertanyaan.
  • Memberikan pemecahan atas suatu masalah.

Fungsi penelitian adalah membantu manusia meningkatkan kemampuannya untuk menginterpreatasikan fenomena-fenomena masyarakat yang kompleks dan kait-mengait sehingga fenomen itu mampu membantu memenuhi hasrat ingin manusia. Ciri berpikir ilmiah adalah skeptik, analitik, kritis.

Ilmu pengetahuan mendorong teknologi, teknologi mendorong penelitian, penelitian menghasilkan ilmu pengetahuan baru. Ilmu pengetahuan baru mendorong teknologi baru.

Referensi:

  • Adisusilo, Sutarjo. 1983. Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Penerbitan Yayasan Kanisius: Yogyakarta