Biarkan ku menjalin asmara dengannya yang kucinta. jangan ku dihalang. Karena gelora rindu buat ku merasa tersiksa jauh darinya.

itulah bait syair yang sekarang ini ku dengar, Diari Hatimu dari album Adiwarna Siti Nurhaliza. Malam ini, malam minggu berselimutkan awan mendung. Asrama sudah kembali ramai, setelah kedatangan teman-teman yang kemarin mudik ke kampung halaman.

Sejak tadi pagi hatiku gelisah karena postingan yang tidak sepantasnya kukirimkan ke sebuah milis. Banyak hipotesis yang kusampaikan harus direvisi, dan kata-kata yang kupakai sangat sensitif. Tersadarkan oleh komen dari bapak-bapak yang sudah malang melintang di luar negeri, segera saja kuobati kegelisahanku dengan pergi ke perpustakaan, meminjam buku tentang Minangkabau. Memang beberapa hari belakangan ini pikiranku tersita untuk menelusuri status ke-Minangan-ku.

Di kampus, sudah banyak dosen yang tahu bahwa aku orang Padang. Terutama Pak Joko Pitoyo, dosenku yang terkenal galak, sehingga ditakuti mahasiswa. Tapi aku paling suka kuliah sama Pak Joko. Disiplin dan sering memberikan ceramah-ceramah inspiratif membuat adrenalinku naik, bergairah mengikuti setiap uraian yang beliau sampaikan. Pak Joko sebenarnya dosen yang baik. Yang ingin mahasiswanya tidak hanya sekedar kuliah tanpa paham yang dipelajari. Beliau paling benci sama 3 hal: tidak masuk kuliah pertama, terlambat masuk kuliah, dan ngobrol ketika kuliah berlangsung. Meski beliau adalah asli orang Jawa, namun fasih juga dengan bahasa Minang dan bahasa Batak. Aku tak tahu dimana Pak Joko belajar dua bahasa sumatera itu.

Ada anekdot Minang yang amat dihafal oleh Pak Joko yang aku sendiri baru tahu ketika beliau sampaikan. Ketika seorang pemuda Minang akan berangkat merantau maka sang Bunda akan berpesan, “Wahai bujang jan lupokan tigo pasan mande. Jan mancilok kacuali tapaso, jan tingga-an sumbayang kacuali lupo, jan bazina kacuali suko samo suko”. Spontan saja teman-teman sekelas pada ketawa.

Seiring, satu demi satu alunan lagu Kak Siti terus menemaniku. Sambil menunggu sms dari teman yang mau dijemput di stasiun Lempuyangan. Segitu dulu yang bisa kutuliskan di blog ini. Mudah-mudahan esok ada ide baru yang bisa kupostingkan. Amien…