Kenapa dunia yang begitu indah menjadi gersang? Semuanya hancur.Tidak hanya harta benda tapi jiwa juga melayang. Orang semakin bengis. Tak risih lagi menindas yang lemah. Terbiasa membunuh tanpa perasaan bersalah. Perang, konflik, sengketa tak jua kunjung usai hingga detik ini. Betullah prediksi Malaikat yang mempertanyakan kehadiran Adam ‘alaihissalam pertama kali kepada Allah. Apakah Engkau akan menciptakan manusia yang kelak akan menumpahkan darah di muka bumi? Begitulah kira-kira kegelisahan Malaikat.

Penyebab konflik, perselisihan, dan sengketa tak lain dan tak bukan adalah amarah dan kebencian. Ledakannya melebihi bom nuklir, melampaui ledakan pertambangan gas. Membakar jiwa manusia, sehingga mereka gelap mata. Orang lain dipandang hina dan dijadikan sebagai pelampiasan api yang telah bergejolak di dada.

Di bulan Ramadhan, amarah dan kebencian inilah yang dilatih untuk dinetralkan. Sebulan penuh lamanya, latihan ini berjalan. Kenapa tidak sehari atau tiga hari saja? Ternyata untuk meredam dua sifat ini memang tak mudah. Perlu waktu yang panjang. Beruntunglah kaum muslimin dan muslimat yang ditraining langsung oleh Allah lewat ibadah puasa.

Sesungguhnya Ramadhan adalah training untuk menumbuhkan cinta di hati manusia, yang sering tergerus oleh kerasnya hidup dan rutinitas yang membangkitkan tensi dan emosi. Ramadhan adalah air surga nan sejuk yang dinginkan hati manusia. Kembali menyadari akan misi kehidupannya di dunia. Sebagai khalifah yang menebarkan kasih sayah (rahmah) kepada setiap orang. Karena taqwa itu adalah cinta. Cinta kepada Allah, cinta kepada sesama, dan cinta kepada kehidupan. Orang yang menang di Idul Fitri adalah orang yang mampu mensemayamkan cinta di hatinya, dan menebarkan cahaya itu kemana saja dia berjalan. Sang pemenang itu adalah para pecinta sejati.

Begitu pula para ilmuwan mengatakan, keberlangsungan kehidupan di alam ini bukanlah karena hukum-hukum kosmos yang tetap kokoh menjaga keseimbangan alam. Namun, cintalah yang memberikan jiwa agar alam ini terus berjalan. Dunia akan berkekalan selama cinta ada di dalam sanubari para penghuninya. Ketika dia raib, mungkin saat itulah kiamat datang menjelma.

Idul Fitri hanya sekedar perayaan tahunan yang menghabiskan energi dan kekayaan, sebatas mudik dan berkumpul dengan handai taulan, ketupat dan kue yang disajikan tiap-tiap rumah, serta pamer baju baru beraneka ragam, jika tak kita maknai sebagai momen untuk merubah kebiasan negatif. Idul Fitri hanya pantas dirayakan oleh orang-orang yang insyaf, bukan para pendosa yang menjadi alim sebentar dengan pakaian muslim di hari raya. Mereka yang selalu menebarkan salam dan senyuman. Menghiasi hidup dengan kasih sayang. Mereka ada di sekitar kita. Tapi tak menampakkan sikap berlebihan. Karena bagi mereka kemenangan belum diputuskan dan harap-harap cemas menunggu berita dari Tuhannya.