Hari ini sebenarnya kuliah pertama pasca liburan lebaran. Tapi kampus masih tampak sepi. Agaknya anak-anak rantau belum lagi balik dari kampung halaman. Daripada ngak ada kerjaan sempat juga aku ke perpustakaan, mengembalikan buku yang kupinjam saat ramadhan yang lalu.

Tadi malam aku chat dengan seorang teman satu organisasi di IMM UGM. Katanya ia bersimpati kepadaku. Dia kasihan kepadaku yang terus dilanda kesedihan dan luka karena cinta. Dia bahagia dengan keadaan dirinya yang “merdeka”, lepas dari rasa menyiksa, sakit karena cinta. Mungkin dia telah membaca postingan kemurunganku di blog ini. Ya, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas simpatinya.

Tapi sebenarnya, dua hari ini aku merasa menang. Hatiku bisa tenang. Dan dalam pikiran telah terisi bagaimana caranya untuk kembali menjadi orang yang baik. Sosok yang rajin. Meski harus kuakui bayangan akan pilu itu masih saja datang dalam mimpi dan kesendirianku. Namun, cita-cita nan tergantung dan pelajaran dari Novel “Ketika Cinta Bertasbih” telah memudarkan sedikit demi sedikit kegalauan yang ada.

Hati manusia itu ada di antara jari-jari Allah. Hati senantiasa berbolak-balik. Kadang tenang kadang gelisah. Kadang suka kadang duka. Manusia yang dirudung malang adalah manusia yang hatinya jauh dari Allah. Hati yang terus dikotori dengan dosa. Baik dosa karena kemaksiatan ataupun karena menyakiti orang lain. Menjadi baik bukanlah sekedar untuk mengharapkan balasan kebaikan pula. Lebih dari itu, kebaikan dibutuhkan oleh hati manusia. Karena kebaikan adalah cahaya yang membuat bersinar menerangi diri.

Memang kebaikan telah dijanjikan Allah dengan balasan kebaikan pula. Namun, ada yang dibalas di dunia dan ada yan dibalas di akhirat. Jika kita terlalu mengharapkan balasan datang seketika setelah beramal, tentu kecewa yang akan terasa, jika Allah berkehendak menunda membalas ketika di akhirat saja. Tentu disinilah perlunya sebuah keyakinan, bahwa janji Allah tidak akan pernah diingkariNya. Termasuk juga sebuah janji Allah, “Laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, wanita sholehah untuk laki-laki sholeh”. Jika yang terjadi bukan yang demikian, agaknya perlu berkaca diri. Seringkali kita sudah merasa baik dan layak mendapatkan yang baik pula. Namun, di sisi Allah tentu kita tidak tahu dimanakah derajat kita sebenarnya. Sehingga jika yang terjadi tidak seperti yang diharapkan, agaknya itu bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk terus berkaca diri.

Seringkali manusia bermasalah bukan karena faktor dari luar, tapi lebih disebabkan oleh dia terlalu banyak menyiksa pikirannya sendiri. Menyiksa pikirannya dengan banyak berkomentar dengan kesalahan orang lain. Sibuk mengungkit kesalahan orang lain. Sehingga senang hatinya jika menemukan kesalahan yang ada pada temannya. Kemudian dia sebarkan, bahwa si Anu itu penampilannya aja yang baik namun dalamnya buruk. Itulah yang dikerjakan untuk menunjukkan dirinya lebih unggul. Sibuk mengurusi aib orang lain telah membuat dia lupa akan aib dirinya sendiri.

Akhirnya, sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan, agaknya lebihlah pantas jika kita lebih memikirkan kekurangan diri sendiri. Kesadaran akan kelemahan diri, akan memacu kita untuk memperbaikinya dengan seluruh kemampuan kita. Sehingga lelah dengan aib sendiri, menahan kita untuk mengumbar aib orang lain.

Eh, ni udah adzan Isya. Diakhiri dulu ya…

Lanjut.. ni dapat inspirasi lagi…he2..he2…

Agaknya karena betapa besarnya kerusakan ghibah inilah pas kemarin Ayahandaku mengirimkan sms yang menyatakan agar aku jangan bercita-cita untuk menjadi politisi. Menjadi politisi di zaman sekarang sama dengan menyeburkan diri dalam pertikaian dan pergulatan mencari-cari kelemahan lawan untuk menjatuhkannya di mata masyarakat. Apalagi semangat yang ada adalah semangat balik modal. Sehingga jargon untuk membela kepentingan rakyat sering tinggal janji. Adakah politisi yang baik? Mungkin ada, tapi di zaman sekarang agaknya susah mencarinya. Seorang politisi harus pandai bersilat lidah bermain kata. Bisa menunjukkan kejelekan lawan sehingga orang lebih cendrung memilih dirinya. So, tidak salah jika para ahli mengatakan “Tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik. Semua tergantung kepentingan.”

Duh, dah lapar ni. Makan dulu ya.. he2..