11 tahun sudah, kebersamaanku dengan Kak Siti Nurhaliza. Sejak kelas 2 SMP aku sudah “jatuh cinta” dengan suara emas beliau. Lagu pertama yang menyentakkanku adalah ketika mengikuti Pesantren Kilat di SMP tetangga (SMPN 1 Kota Solok) mengalun saat makan malam bersama. Tiba-tiba saja dari bioskop yang ada di seberang jalan memutar keras lagu “Aku Cinta Padamu” yang menjadi Best Song dari album kedua Kak Siti. Saat itu, aku sudah bertemu dengan seseorang yang benar-benar memukauku saat remaja itu, Greaty Souvanir. Dari namanyalah kuabadikan nama blog ini dengan Grelovejogja. Dalam puisi-puisi yang kutulis untuknya sering aku memanggilnya dengan sebutan Gre, 3 huruf depan namanya.

Kala itu aku hanya beberapa kali saja bertemu dengannya. Pertama kali saat lomba P4 antar SLTP se -kota Solok, dan beberapa kali di upacara-upacara hari besar yang dihadiri oleh utusan masing-masing sekolah. Aku baru benar-benar melihatnya dengan jelas ketika pertemuan tak diduga ketika kelas 1 SMA. Begitulah, dia benar-benar mempesonaku sampai kelulusan yang memilukan. Aku diterima di Universitas terbaik di negeri ini yang berarti jalan aku akan jauh darinya. Sesuatu yang tak kuat aku jalani saat itu. Namun takdir yang bisa ditolak.

Hari ini, dia sudah pake jilbab. Kabar terakhir yang kudapatkan, dia sudah bekerja di sebuah Bank milik pemerintah di salah satu kota di Sumatera Barat. Pekerjaan yang layak untuk orang secerdas dia, lulusan Teknik Sipil Universitas Andalas.

Kini sudah 11 tahun berlalu. Aku masih di sini. Masih berjuang merampungkan kuliah. Tanpa terasa sudah 12 discography yang telah dirilis oleh Kak Siti Nurhaliza. Sampai detik ini, masih saja aku menjadi seorang penggemar Siti Nurhaliza. Tepatnya Dato’ Siti Nurhaliza, istri Datuk Khalid Muhammad Jiwa. Tidak ada yang berubah dengan kecintaanku pada kak Siti persis seperti pertama kali aku jatuh hati pada lagu-lagunya.

11 tahun berlalu adalah 11 tahun perjalananku mencintai Kak Siti. Tak sepanjang kesetiaanku menanti Greaty yang harus kupupus satu tahun yang lalu, saat aku mulai berkomunikasi dengannya lewat Handphone. Dia mengatakan sudah punya calon untuk menikah. Dan tentu aku harus rela melepasnya. Demi masa depan yang lebih jelas dan lepas dari bayangan, aku dah pasrah mengakhiri perjalananku untuk menanti dirinya.

2 hari ini, detik-detik akhir liburan lebaran kuhabiskan waktu dengan membaca dwilogi “Ketika Cinta Bertasbih”. Baru tadi pagi Novel yang akan difilmkan dalam waktu dekat itu selesai kubaca. Sebenarnya terlambat juga aku membaca novel itu. Saat ini orang-orang pada terbius, sibuk membicarakan Film Laskar Pelangi yang baru dirilis penghujung ramadhan yang lalu. Tapi tak apalah, tiada yang usang bagi mahasiswa Filsafat sepertiku ini. Maklumlah, ide itu akan terus selalu baru seiring perasaan orang-orang yang sedang bergulat dengannya. Bagiku Tan Malaka terus hadir memberikan inspirasi, meskpun Madilognya sudah dibaca banyak orang. Bagiku “Ketika Cinta Bertasbih” amat berkesan, karena saat ini aku dilanda sakit cinta yang sudah demikian parah. Paling tidak Novel karya Kang Abik itu bisa sedikit menyembuhkan lukaku dan juga memberikan pelajaran yang benar bagaimana seharusnya menghadapi dilema cinta-perjodohan.

Setelah ini, aku harus bersiap-siap menghadapi kuliah perdana pasca Idul Fitri. Jalan yang menentukan akan kuhadapi dalam rintisan menuju target wisuda Agustus 2009. Insya Allah aku bisa.