Sejak zaman dahulu kala kemiskinan sudah menjadi perhatian utama manusia. Para Nabi dikenal sebagai insan mulia yang dekat dengan kaum tak berpunya ini. Bahkan Rasul paling mulia, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam dikenal sebagai pembela budak dan kaum miskin lewat revolusi ajarannnya yang tidak membedakan suku bangsa dan derajat sosial seseorang. Karl Marx, pemikir ulung Jerman juga didaulat sebagai nabi kaum proletar.

Telah banyak konsep yang digulirkan untuk memberantas kemiskinan. Entah apa itu namanya. Zakat, sedekah, infak, tunjangan sosial, atau konsep tauhid sosial. Tapi tetap saja orang miskin di dunia. Malahan seringkali bertambah seiring gejolak resesi ekonomi. Sementara orang kaya, juga semakin banyak. Apakah ada yang salah dengan distribusi kekayaan yang hanya dipegang oleh sebagian kecil orang saja?

Di Idul Fitri ini telah ada pula kewajiban zakat fitrah. Orang berlomba-lomba bersedekah. Bahkan booming sedekah semakin gencar ketika ada buku-buku yang bercerita tentang keajaiban sedekah yang semakin membuat orang yang dermawan mendapatkan rezki berlimpah. So, dengan motivasi ini niatan sedekah dikedepankan.

Yang bersedekah sudah banyak. Bahkan banyak lembaga-lembaga non pemerintah yang mendirikan Badan Zakat, Infak dan Sadakah karena melihat potensi yang besar dari lahan “ekonomi” ini. Tapi mengapa para dhuafa masih tetap berjibub. Apa sebabnya?

Ternyata dari sekuel The Candidate yang dihadirkan oleh Metro Tv malam ini, akhirnya aku menemukan sebuah jawaban untuk masalah ini. Ya, benar apa yang dikatakan oleh Pak Adi Sasono, distribusi ekonomi dari the have hanya semata-mata mengedepankan fungsi amaliah instan. Sehingga masyarakat diajarkan bermental penerima sadakah. Mental ini menjadikan orang tidak mandiri. Tidak ada bangsa yang maju jika tidak berdiri di atas kaki sendiri. ZIS belum mampu mengangkat para penerima zakat untuk produktif dan bermetamorfosis menjadi pemberi zakat.

Akhirnya, sebagai penerus Nabi dan Rasul, agaknya kita harus meneruskan perjuangan ini. Memperjuangkan kaum yang tak berpunya.

Iklan