Akhir ramadhan ini benar-benar menyesakkan dadaku. Dia yang ku nanti setelah sekian lama, sejak awal kami datang ke Jogja tahun 2002 yang lalu telah dipinang oleh orang. Meski 2 tahun terakhir dia sudah di kampung, tetap juga kujalin komunikasi dengannya. Besar harap, agar dia tidak melupakanku.

Dan malam tadi, hati hancur sudah. Dia jujur berterus-terang, bahwa dirinya dalam pinangan orang. Aku mau nangis saat baca sms darinya. Namun, airmataku sudah tak mau keluar lagi. Hati yang lama terluka, sudah tak bisa lagi menitiskan perih, karena sudah peka agaknya.

Entah apa yang terjadi dengan diriku. Gila sudah aku ini. Tak mampu berpikir waras lagi. Penantian demi penantian yang kujalani berakhir dengan cerita luka. Mengapa harus begini. Kata terakhirnya penuh makna, “Mudah-mudahan Gun mendapat yang lebih baik”. Dalam keadaan sedih aku hanya bisa mengaminkan. Karena aku yakin Allah, masih mendengar jeritanku.

Skenario apa yang Dia persiapkan untukku, aku tak tahu. Tapi beginilah hakikat hamba yang tak berdaya melawan kehendak Tuhannya. Aku hanya pasrah. Seraya berusaha terus menemukan cinta. Karena patah hati tak akan memadamkan semangatku untuk terus menemukan sosok yang istemewa. Karena ku yakin Allah masih menyembunyikannya dari mataku.

Hari ini tarawih terakhir. Esok ramadhan terakhir. Lusa, Lebaran datang menggema. Sementara aku masih terpaku di kamar ini. Genap sudah dua tahun aku tak pulang kampung…Hiks…