Menanti detik jelang Idul Fitri di perantauan, rasanya memang tidak begitu menyenangkan. Barusan teman-teman satu SMA menelponku. Ya, mereka pada ngumpul, ngadain kumpul bersama alumni di SMA. Wah, pingin…Tapi mau gimana lagi, aku dah janji, ngak akan pulang kampung sebelum bawa ijazah S1. Terpaksalah menikmati lebaran kedua di sini. Genap sudah 2 tahun aku tak pulang kampung.

Kerjaku di akhir-akhir ramadhan ini hanyalah duduk di depan komputer. Dengarin lagu dan baca-baca artikel di internet. Seraya terus mengupdate blog ini dan terus mengawangi weblog asrama dan alumni SMA. Kerjain lain cuma nonton TV, baca koran, dan cari makan pas buka dan sahur. Hari-hariku hanya dihabiskan di asrama. Kalau lagi stress sendirian, ku kirimkan juga sms pada beberapa teman. Sekalian mengobati kesepian dan tetap menjaga silaturahmi sekaligus cari info baru.

Hari ini benar-benar parah. Imanku di ambang kritis. Pintar benar syaithan menggodaku. Terlalu lemah pula pertahananku menahan hawa nafsu. Tapi untunglah sms dan telpon dari seorang teman lama segera menyadarkanku untuk bangun dari mimpi. Jarang-jarang juga sih dia nelpon. Pas tadi nelpon, aku masih melayang-layang karena masih tidur. Hari ini telah 27 hari ramadhan lewat.

Kemarin, pas diminta lagi tilawah Al Qur’an di Masjid dekat kos, aku benar-benar nervous. Tak betul irama yang kubawakan. Ya, akhirnya penampilanku sore itu berantakan. Memalukan. Sampai-sampai aku berteriak di kamar mandi bilang “GOBLOOOOOOOOOOOOOOOK”, memaki diri sendiri. Pikiranku sore itu memang sudah tak beres. Sejak pagi malahan. Dan kebawa juga sampai sore. Begitulah diriku, kalau ada masalah pasti semua tindakanku serba salah. Makanya kalau lagi ditimpa sakit ini, aku g mau ngapa-ngapain. Apalagi bertemu dengan orang banyak. Aku lebih suka mengurung diri di kamar sampai benar-benar pulih.

Tarawih di masjid sudah selesai. Aku cuma sholat Isya dan Tarawih di kamar saja. Masih malu aku dengan penampilan kemarin. Entah, sampai bila aku kuat lagi. Aku pingin nangis….

Eh, sebelumnya tulisan ini diakhiri, izinkan saya mengutipkan sebait paragraf tentang kegagalan yang barusan didapat dari postingan seorang teman di friendster.

Menghibur Diri Sendiri

Tahun 1831 dia mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Tahun 1832 dia menderita kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal. Tahun 1833 dia kembali bangkrut (kasian banget ya..). Tahun 1835 istrinya meninggal dunia. Tahun 1836 dia menderita tekanan mental yang sangat berat dan hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Tahun 1837, dia kalah dalam suatu kontes pidato. Tahun 1840, ia gagal dalam pemilihan anggota senat AS. Tahun 1842, dia menderita kekalahan untuk duduk di dalam kongres AS. Tahun 1848 ia kalah lagi di kongres. Tahun 1855, lagi-lagi gagal di senat. Tahun 1856 ia kalah dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden. Tahun 1858 ia kalah lagi di senat. Tahun 1860 akhirnya dia menjadi “presiden Amerika Serikat”. Siapakah dia? Dialah Abraham Lincoln. Intinya adalah jangan pernah menyerah dengan berbagai kegagalan yang pernah dialami, bahkan seberat apapun cobaan itu. Coba dan coba lagi!